Unsur-Unsur Batin Puisi, Pengertian dan Contoh Puisi

Daftar Isi [Tutup]

    Unsur-Unsur Batin Puisi, Pengertian dan Contoh Puisi

    Unsur Batin 

    Ada empat unsur batin dalam puisi, yakni tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), dan amanat (intention).

    Baca juga : Unsur-Unsur Fisik Puisi

    a. Tema

    Tema merupakan gagasan pokok yang diungkapkan penyair dalam puisinya. Tema berfungsi sebagai landasan utama penyair dalam puisinya. Tema itulah yang menjadi kerangka pengembangan sebuah puisi. Jika landasan awalnya tentang ketuhanan, keseluruhan struktur puisi tidak lepas dari ungkapan-ungkapan eksistensi Tuhan. Demikian pula halnya, jika yang dominan adalah dorongan cinta dan kasih sayang, ungkapan-ungkapan asmaralah yang akan ditonjolkan dalam puisi itu.

    Perhatikan puisi berikut ini:

    Doa

    Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
    Dengan senja saraar sepoi, pada masa purnama
    meningkat naik. setelah menghalaukan panas payah terik
    Angin malam menghembus lemah, menyejuk badan
    melambung rasa menayang pikir, membawa angan ke bawah kursimu
    Hatiku terang menerima kasihmu, bagai bintang memasang lilinnya
    Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam menyirak kelopak
    Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu
    penuhi dadaku dengan cayamu, biar bersinar
    mataku sendu biar berbinar gelakku rayu!

    (Amir Hamzah)

    b. Perasaan

    Puisi merupakan karya sastra yang paling mewakili ekspresi perasaan penyair. Bentuk ekspresi itu dapat berupa kerinduan, kegelisahan atau pengagungan kepada kekasih, alam, atau Sang Khalik. Jika penyair hendak mengagungkan keindahan alam sebagai sarana ekspresinya, ia akan memanfaatkan majas dan diksi yang mewakili dan memancarkan makna keindahan alam.

    Jika ekspresinya merupakan kegelisahan dan kerinduan kepada Sang Khalik, bahasa yang digunakannya cenderung bersifat perenungan akan eksistensinya dan hakikat keberadaan dirinya sebagai hamba Tuhan.

    Cara penyair mengekspresikan bentuk-bentuk perasaannya itu, antara lain, dapat dilihat dalam penggalan puisi berikut:
    Hanyut aku Tuhanku
    Dalam lautan kasih-Mu
    Tuhan bawalah aku
    Meninggi ke langit ruhani
    Larik-larik tersebut diambil dari puisi yang berjudul "Tuhan"
    karya Bahrum Rangkuti. Puisi tersebut merupakan pengejawantahan
    kerinduan dan kegelisahan penyair untuk bertemu dengan Sang Khalik.
    Kerinduan dan kegelisahannya diekspresikannya melalui kata hanyut,
    kasih meninggi, dan langit ruhani.

    c. Nada dan Suasana

    Dalam menulis puisi, penyair mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca: apakah dia ingin bersikap menggurui, menasihati, mengejek, menyindir, atau hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. Sikap penyair kepada pembaca ini disebut nada puisi. Adapun suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu. Suasana merupakan akibat yang ditimbulkan puisi terhadap jiwa pembaca.

    Nada dan suasana puisi saling berhubungan. Nada puisi menimbulkan suasana tertentu terhadap pembacanya. Nada duka yang diciptakan penyair dapat menimbulkan suasana iba di hati pembaca, nada kritik dapat menimbulkan suasana penuh pemberontakan, dan nada religius dapat menimbulkan suasana khusyuk.

    Perhatikan puisi berikut:

    “Ibu”

    Ibu
    kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
    sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama teranting
    hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir
    bila aku merantau
    sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
    di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
    lantaran hutangku padamu tak kuasa ku bayar
    ibu adalah gua pertapaanku
    dan ibulah yang meletakkan aku di sini
    saat bunga kembang menyermerbak bau sayang
    ibu menunjukan ke langit, kemudian ke bumi
    aku mengangguk meskipun kurang mengerti

    (D. Zawawi Imron)

    Dalam puisi "Ibu" tersebut, penyair menggambarkan suasana kerinduan tokoh aku pada ibunya ketika sedang merantau di negeri seberang. Setelah dia pergi merantau dan jauh dari ibunya, kehidupan tokoh aku menjadi hampa. Akan tetapi, kasih sayang ibunya terus mengalir terhadap anaknya.

    Tokoh aku merasa belum dapat membayar jasa-jasa ibunya selama ini. Sampai kapan pun kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya tidak akan pernah dapat terbayar oleh apapun. Kemudian, tokoh aku merasa dirinya berutang budi kepada ibunya. Ibunya hanya dapat berpesan kepada dirinya agar dapat menjaga diri, pada waktu jauh dari ibunya.

    d. Amanat

    Amanat yang hendak disampaikan oleh penyair dapat ditelaah setelah kita memahami tema, rasa, dan nada puisi itu. Tujuan atau amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. Amanat tersirat di balik kata-kata yang disusun dan berada di balik tema yang diungkapkan.

    Amanat yang hendak disampaikan oleh penyair mungkin secara sadar berada dalam pikiran penyair. Namun, lebih banyak penyair tidak menyadari amanat yang hendak diberikan dalam puisinya. Dalam karya sastra, biasanya, pengarang menggunakan bahasa yang mengandung makna-makna idiomatik, seperti pepatah, peribahasa, dan majas.