Fungsi Nomor Surat dan Kode Surat Resmi



 Apakah Anda tau apa kegunaan nomor surat dalam surat? Jika Anda belum tau, saat ini bukan alasan lagi untuk tidak mengetahui tujuan nomor surat. Pertanyaan mengenai apa fungsi surat dan bagaimana penulisannya adalah salah satu soal tugas di sekolah. Biasanya pertanyaannya berupa penomoran surat dinas berikut yang benar adalah? atau tuliskan kegunaan nomor surat dalam surat! Oke di sini kami akan memberikan contoh nomor surat besera penulisan nomor surat organisasi.

Surat resmi, biasanya, mencantumkan nomor, jenis, instansi pengirim surat, dan kode surat. Nomor surat adalah urutan nomor surat yang telah dikeluarkan oleh instansi atau organisasi tersebut. Kode surat adalah kode klasifikasi masalah yang disampaikan dalam surat tersebut, sedangkan tahun yang tertera pada nomor surat menunjukan tahun kapan surat itu dibuat.


 Fungsi Nomor Surat dan Kode Surat Resmi

Fungsi nomor dan kode surat adalah sebagai berikut:

1) mengetahui banyaknya surat yang keluar;
2) memudahkan pengarsipan surat;
3) memudahkan mencari surat itu kembali jika dibutuhkan; dan
4) memudahkan petugas pengarsipan.


Contoh: surat lengkap di bagian bawah

Keterangan :

231 = nomor surat
SB = Surat Pemberitahuan
R = rektor (penanggung jawab surat / penanda tangan)
UPI = nama instansi
G.5 = bantuan luar negeri
VI = bulan pembuatan surat, bulan Juni
07 = tahun pembuatan surat 2007

Baca juga : Unsur-Unsur Fisik Puisi, Pengertian dan Contoh Puisi

 

Aturan Cara Menciptakan Nomor Surat Dan Teknik Penulisannya

Cara Membuat Nomor Surat dan Teknik Penulisannya - Nomor surat merupakan bab yang penting dari sebuah surat terutama surat dinas atau surat resmi. Nomor surat berfungsi sebagai bukti diri dari surat itu sendiri biar surat tersebut terang bukti dirinya untuk kepentingan kearsipan. Namun sangat disayangkan hingga ketika ini masih sering ditemukan penulisan nomor surat yang tidak sempurna di lingkungan dinas pemerintahan. Oleh risikonya mari kita pelajari perihal nomor surat biar tidak keliru nantinya.

Nomor surat merupakan isyarat dari beberapa bab nomor surat tersebut. Adapun bab dari nomor surat tersebut antara lain:

Nomor urut surat

Kode unit / pihak pengeluaran surat
Kode sentra perbukuan
Kode perihal surat
Bulan/tahun pembuatan

Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri yang fungsi utamanya sebagai bukti diri untuk kepentingan kearsipan surat itu sendiri. Setiap insitusi atau forum berhak menciptakan sistem penomoran suratnya sendiri namun tetap melihat pengaturan nomor surat yang telah ditetapkan oleh peraturan Mendagri Republik Indonesia No.78 Thn.2012 tentang Tata Kearsipan di Lingkungan Kemendagri dan Pemda. Untuk itu mari kita lihat pola nomor surat di bawah ini!


A.001/PH/PELANTIKAN BEM/BEM-UI/IV/2015

Pada pola nomor surat diatas sanggup kita lihat bahwa ada beberapa bab dari isyarat surat itu sendiri. Maka dari itu mari kita bahas satu persatu dibawah ini.

A = Kode surat internal, berarti untuk surat dengan isyarat B sanggup dikatakan sebagai surat eksternal. Semuanya tergantung dari pihak pengeluaran surat menciptakan kode-kode tersebut.

001 = nomor 001 yang tertera pada awal nomor surat diatas merupakan isyarat nomor urut keluaran surat dari suatu instansi maupun organisasi. Dengan kata lain berarti nomor 001 tersebut membuktikaan bahwa surat tersebut gres pertama kali dikeluarkan oleh instansi tersebut.

PH = Kode dari jenis surat tersebut. PH (Permohonan) yang membuktikan bahwa surat tersebut ialah surat permohonan.

PELANTIKAN BEM = Perihal program pada surat tersebut
.
BEM-UI = Pihak yanng mengeluarkan surat. (Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia).

IV = Kode bulan pengeluaran surat dalam angka romawi atau sanggup diartikan bulan April.

2015 = Tahun pengeluaran surat

Mungkin pola diatas sanggup membantu anda yang sedang kesusahan dan semoga tak menciptakan kesalahan dalam menulis surat kedepannya. Adapun fungsi nomor surat untuk sebuah surat antara lain:


Fungsi Nomor Surat

Fungsi Kearsipan, yaitu mempergampang penyimpanan surat tersebut dan pendataan surat yang keluar dan masuk.
Fungsi pencarian, yaitu fungsi untuk mempergampang pencarian surat apabila suatu ketika diperlukan.
Fungsi Pencatatan, yaitu megampangkan pencatatan serta pendataan baik surat yang keluar maupun surat yang masuk.

Masing-masing bagian tersebut memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu berkaitan dengan kearsipan. Agar lebih jelas anda bisa mengikuti penjelasan mengenai Sistem Penomoran Surat Resmi berikut ini.

Format Penomoran Surat Keluar

1. Surat Keputusan (SK) : 01 (kode nomor surat)
2. Surat Undangan (SU) : 02
3. Surat Permohonan (SPm) : 03
4. Surat Pemberitahuan (SPb) : 04
5. Surat Peminjaman (SPp) : 05
6. Surat Pernyataan (SPn) : 06
7. Surat Mandat (SM) : 07
8. Surat Tugas (ST) : 08
9. Surat Keterangan (SKet) : 09
10. Surat Rekomendasi (SR) : 10
11. Surat Balasan (SB) : 11
12. Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) : 12
13. Sertifikat (SRT) : 13
14. Perjanjian Kerja (PK) : 14
15. Surat Pengantar (SPeng) : 15


Contoh :
No : 01.001/SMK-AI/VIII/2017

Keterangan :
01 : Kode nomor surat
001 : Nomor urutan surat yang dikeluarkan
SMK-AI : Nama lembaga yang mengeluarkan surat (SMK AL-INTISAB)
VIII : Bulan berjalan (dalam Angka Romawi)
2017 : Tahun berjalan

Setiap institusi atau organisasi berhak membuat sistem / aturan penomoran surat dimana sistem tersebut bebas dilakukan sepanjang tidak keluar dari aturan umum sistem penomoran surat, berupa kode angka / huruf dan singkatan-singkatan. Lebih jelasnya silahkan perhatikan contoh berikut!

Nomor : A.001/Pan-Pel/AKB/I/2014
Coba lihat susunan kode pada nomor surat resmi di atas, tentu ada arti, maksud dan juga tujuannya bukan? Nah, pada nomor di atas masing-masing memiliki arti sendiri yaitu seperti dijelaskan di bawah ini:

A = kode untuk surat internal (misalnya surat undangan untuk anggota, surat apapun yang berkaitan dengan anggota organisasi / jaringan dalam institusi). Sehingga kode "B" berarti kode surat untuk pihak luar organisasi. Maka boleh juga memberikan kode C untuk Jenis Surat Tugas dan Surat Keterangan lainnya.

001 = Artinya nomor seri surat itu dikeluarkan, misalnya dalam suatu kegiatan surat pertama yang dikeluarkan untuk internal lembaga khusus di kegiatan tersebut adalah 001, maka kalau ada surat susulan otomatis menjadi 002.

Pan-Pel = Artinya Panitia Pelaksana (jika surat itu khusus untuk sebuah kepanitiaan acara / kegiatan. Bila bagian yang ini bisa ada dan bisa ditiadakan. Kode jenis ini umumnya ada: Kongres; Musda; Rapat; Prop; dan sebagainya

AKB = Identitas organisasi / institusi

I = Bulan ketika surat itu dikeluarkan, umumnya di tulis dalam angka romawi

2014 = Tahun surat itu di keluarkan
Dari arti masing-masing bagian nomor tersebut jelas sekali dapat kita lihat berbagai fungsi nomor surat tersebut. Kalau kita lihat dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa fungsi nomor surat antara lain sebagai berikut:

a. Mempermudah penyimpanan (index)
b. Mempermudah pencarian surat
c. Memudahkan pencatatan baik surat masuk maupun surat keluar

Jadi, nomor tersebut penting bukan? Maka dari itu anda yang sering berurusan dengan pembuatan surat menyurat tentunya harus tahu bagaimana membuat nomor untuk surat masuk maupun untuk surat keluar. Sekarang coba perhatikan beberapa contoh lain berikut ini.

Nomor: 20/KKG/X/2014
Nomor: 430/C.C2/KR/2014

Dari beberapa contoh yang ada di atas bisa kita ketahui bahwa nomor ini terdiri dari beberapa bagian yang bisa kita identifikasi. Bagian nomor tersebut seperti yang sudah disebutkan di atas yaitu nomor urut, kode instansi/perusahaan, dan kode bulan serta tahun pembuatan surat.

Dengan informasi yang ada pada nomor tersebut tentu anda bisa dengan mudah mengetahui informasi tentang surat yang ada, yaitu informasi mengenai:

1. jumlah surat yang telah di buat
2. jenis surat
3. siapa yang membuat
4. bulan apa di buat
5. tahun berapa di buat

Itulah fungsi nomor surat dan kode surat resmi yang bisa kami bagikan. Semoga bermanfaat

Pengertian Umum Intrinsik Novel Dan Unsur-Unsur Intrinsik Novel


Unsur intrinsik artinya unsur pembuat yang terdapat dalam atau yang ada dalam sastra itu sendiri. Sedangkan unsur ekstrinsik novel yaitu unsur dari luar novel tersebut. Di dalam sebuah novel terdapat unsur intrinsik dan juga unsur ekstrinsik. Berikut pengertian unsur intrinsik dan ekstrinsik novel.

Dalam Pengertian Unsur Intrinsik adalah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan struktur suatu karya sastra menyerupai unsur-unsur yang ada dalam unsur-unsur intrinsik,

Intrinsik terdiri atas Unsur-Unsur seperti Alur, Tema, Penokohan, Sudut Pandang, Latar, Amanat, Dalam pengertian unsur-unsur intrinsik dan Penjelasan dari seluruh unsur-unsur intrinsik tersebut, Unsur-unsur Intrinsik dipakai untuk menganalisis novel-novel agar lebih mudahkan kita dalam menganalisis novel tersebut, Apa lagi novel yang sangat tebal butuh waktu usang sehingga perlunya unsur-unsur intrinsik, Jika Unsur Intrinsik ada, Unsur Ekstrinsik pun juga ada.

Untuk mengetahui klarifikasi dari unsur-unsur intrinsik mari kita lihat penjelasannya menyerupai dibawah ini.


Unsur-Unsur Intrinsik Novel

Berikut ini klarifikasi mengenai unsur-unsur intrinsik novel.


a. Alur (Plot)

Alur. Kita ketahui bersama bahwa alur merupakan rangkaian cerita, atau bagaimana garis besar jalan dongeng sebuah novel. Ada alur mundur, alur maju dan banyak sekali jenis alur lainnya. Jika alur mundur biasanya dongeng diawali dengan keadaan pada ketika ini, kemudian berkisah ke masa lalu, dan disanalah dongeng novel yang bahwasanya terjadi.dari tahapan-tahapan insiden yang terjadi inilah yang membentuk berdiri sebuah cerita

Alur merupakan contoh pengembangan dongeng yang terbentuk oleh relasi sebab-akibat. Intisari alur ada pada permasalahan cerita. akan tetapi, suatu permasalahan dalam novel tak bisa dipaparkan begitu saja; jadi harus ada dasarnya. Oleh lantaran itu, alur terdiri atas (1) Saling mengenal , (2) munculnya konflik, (3) konflik meninggi, (4) klimaks, dan (5) menuntaskan konflik atau kasus . Di tahap saling mengenal, pengarang mulai menggambarkan situasi dan memperkenalkan tokoh-tokoh dongeng sebagai pendahuluan. Di cuilan kedua, pengarang mulai menampilkan pertikaian yang terjadi di antara tokoh. Pertikaian ini semakin meninggi, dan puncaknya dari kasus tersebut terjadi di cuilan keempat (klimaks). Setelah fase tersebut terlampaui, sampailah di cuilan kelima (pemecahan masalah). Alur pun menurun menuju ke mencari solusi dalam kasus dan penyelesaian cerita. Itulah unsur-unsur alur yang berpusat pada konflik. Dengan adanya alur menyerupai di atas, pembaca dibawa ke dalam suatu keadaan yang menegangkan (suspense). Suspense inilah yang menarik pembaca untuk terus mengikuti dongeng tersebut . Dari tahap-tahap alur di atas jelaslah bahwa kekuatan sebuah novel terletak pada kemampuan pengarang membawa pembacanya menemui masalah, memuncaknya masalah, dan berakhirnya masalah. Timbulnya konflik sering berafiliasi dekat dengan unsur tabiat dan latar. Konflik dalam dongeng mungkin terjadi lantaran tabiat seorang tokoh yang mengakibatkan duduk masalah bagi tokoh lain atau lingkungannya.


b. Tema

Tema. Tema merupakan inti dari sebuah novel, tema berarti merupakan pandangan, hal umum yang hendak dibawa atau diangkat pada novel tersebut. Tema sangat berbeda dengan judul, judul merupakan cuilan dari tema. Misalnya saja akan membuat novel dengan tema kesehatan, maka judulnya harus mengarah ke hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, atau tema kehidupan, maka judulnya harus berafiliasi dengan hal tersebut. Selain itu tema juga merupakan sudut padang penulis terhadap suatu permasalahan, dan permasalahan tersebut harus dijawab dalam novel tersebut.


Tema yaitu inti atau inspirasi pokok dalam cerita. Tema merupakan awal tolak pengarang dalam memberikan cerita. Tema suatu novel menyangkut segala duduk masalah dalam kehidupan manusia, baik kasus kemanusiaan, kekuasaan, kasih sayang, dan sebagainya.


c. Penokohan

Tokoh. Hal in tentu merupakan yang paling penting, lantaran pada novel niscaya menampilkan tokoh-tokoh tertentu, ada tokoh utama, tokoh pembantu, dan figuran. Tokoh disini merupakan pemeran yang membawa dongeng tersebut, selain itu cara penulis untuk menentukan tokoh ialah penokohan


Penokohan yaitu cara pengarang menggambarkan dan membuatkan abjad tokoh-tokoh dalam cerita. Untuk menggambarkan abjad seorang tokoh, pengarang sanggup juga menyebutkannya langsung, contohnya si A itu penyabar, si B itu murah hati. Penjelasan abjad tokoh sanggup pula melalui citra fisik dan perilakunya, lingkungan kehidupannya, cara bicaranya, jalan pikirannya, ataupun melalui penggambaran oleh tokoh lain.


d. Sudut Pandang (point of view)

Sudut pandang. Merupakan cara pembawaan atau bagaimana penulis membawakan atau menampilkan tokoh pada novel tersebut menurut dongeng yang dipaparkan. Misalkan mengambil sudut pandang tokoh utama, biasanya memakai kata “aku” dll.


Sudut pandang yaitu posisi pengarang atau narator dalam membawakan dongeng tersebut. Posisi pengarang dalam memberikan dongeng ada beberapa macam: .Narator serbatahu adalah narator bertindak sebagai pencipta segalanya yang serbatahu. ia tahu segalanya. Ia sanggup membuat segala hal yang diinginkannya. Ia sanggup mengeluarkan dan memasukkan para tokoh. Ia sanggup mengemukakan perasaan, kesadaran, ataupun jalan pikiran para tokoh cerita. Pengarang sanggup mengomentari kelakuan para tokoh-tokoh dalam cerita, bahkan juga sanggup berbicara eksklusif dengan pembacanya.. Narator objektif adalah pengarang tak memberi komentar apa pun. Pembaca hanya disuguhi “hasil pandangan mata”. Pengarangnya menceritakan apa yang terjadi menyerupai penonton melihat pementasan drama. Pengarang sama sekali tak mau masuk ke dalam pikiran para pelaku. Dalam kenyataannya, orang memang hanya sanggup melihat apa yang yang dilakukan orang lain. Dengan melihat kelakukan orang lain tersebut, juga boleh menilai kehidupan kejiwaannya, kepribadiannya, jalan pikirannya, dan perasaannya. Motif tindakan pelakunya hanya bisa kita nilai dan perbuatan mereka. 

Dalam hal ini, jelaslah bahwa pembaca sangat dibutuhkan partisipasinya. Pembaca bebas menafsirkan apa yang diceritakan pengarang.Narator aktif adalah Narator juga pemeran yang terlibat dalam dongeng tersebut yang terkadang fungsinya sebagai tokoh sentral. Cara thi tampak dalam penggunaan kata ganti orang pertama (aku, kami). 

Dengan posisi yang demikian, narator hanya boleh melihat dan mendengar apa yang orang biasa lihat atau dengar. Selanjutnya narator mencatat ihwal apa yang dikatakan atau dilakukan tokoh lain dalam suatu jarak penglihatan dan pendengaran.Narator tidak sanggup membaca pikiran tokoh lain kecuali hanya menafsirkan dari tingkah laris fisiknya. Narator juga tidak sanggup melompati jarak yang besar. Hal-hal yang bersifat psikologis sanggup dikisahkan kalau menyangkut dirinya sendiri. Narator sebagai peninjau adalah pengarang menentukan salah satu tokohnya untuk bercerita. Seluruh insiden yang ada pada dongeng lakukan bersama tokoh ini. Tokoh ini bisa bercerita ihwal pendapatnya atau perasaannya sendiri. Sementara itu, terhadap tokoh-tokoh lain, ia hanya boleh memberikan tentang, kita sesuai apa yang ia lihat. Jadi, teknik ini merupakan berupa penuturan pengalaman seseorang. Dalam beberapa hal, teknik ini bahwasanya hampir sama dengan teknik orang pertama, tetapi teknik ini lebih bebas dan fleksibel dalam bercerita.


e. Latar

Latar. Latar ini sendiri terdiri dari latar kawasan dan latar waktu. Latar juga ada yang bersifat fisik yang berkaitan dengan kawasan atau atau wilayah dimana dongeng novel itu berjalan. Selain itu ada juga latar psikologis, hal ini berkaitan dengan lingkungan, benda yang bisa mengarahkan emosi sang pembaca


Latar (setting) merupakan tempat, waktu, dan suasana teijadinya perbuatan tokoh atau insiden yang dialami tokoh. Dalam cerpen, novel, ataupun bentuk prosa lainnya, terkadang biasanya tidak disebutkan secara terang latar perbuatan tokoh itu. Misalnya, di tepi hutan, di sebuah desa, pada suatu


waktu, pada zaman dahulu, di kala senja.


f. Amanat

Amanat. Merupakan pesan yang ingin disampaikan pada novel tersebut, amanat sangat penting, hal ini biar membawa bekas dan kesan dan pesan pada pembaca, bahwa pada hasilnya pembaca mendapat inti atau hikmah sehabis membaca novel tersebut,

Amanat merupakan anutan moral atau pesan yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca melalui Karya yang diciptakan itu. Tidak terlalu berbeda dengan bentuk dongeng yang Iainnya, amanat dalam novel akan disimpan rapi dan disembunyikan pengarangnya dalam keseluruhan isi cerita. Oleh lantaran itu, untuk mendapatkannya, tidak cukup hanya membaca dua atau tiga paragraf, melainkan membaca dongeng tersebut hingga tuntas.

Unsur-Unsur Ekstrinsik Novel

Sejarah/Biodata Pengarang biasanya sejarah/biografi pengarang kuat pada jalan dongeng di novelnya.
Situasi dan Kondisi secara eksklusif maupun tidak langsung, situasi dan kondisi akan kuat kepada hasil karya tersebut
Nilai-nilai dalam dongeng Dalam sebuah karya sastra terkandung nilai-nilai yang disisipkan oleh pengarang. Nilai-nilai itu antara lain :



Nilai Moral, merupakan nilai yang berkaitan dengan ahklak atau kebijaksanaan pekerti baik buruk
Nilai Sosial, merupakan hal-hal yang berkaitan dengan norma –norma dalam kehidupan masyarakat ( contonya, saling memberi, menolong, dan empati )
Nilai Budaya, merupakan konsep kasus dasar yang sangat penting dan bernilai dalam kehidupan insan ( contonya tabiat istiadat ,kesenian, kepercayaan, upacara tabiat )
Nilai Estetika , merupakan nilai yang berkaitan dengan seni, keindahan dalam karya sastra ( contonya ihwal bahasa, alur, tema ).

Sekian artikel tentang Pengertian dan Unsur-Unsur Intrinsik Novel semoga bermanfaat


(Sumber : Cerdas Berbahasa Indonesia, 56-58, Penerbit : Erlangga. 2006. Jakarta, Penulis : Engkos Kosasih)

Pola Pengembangan Narasi


Narasi diartikan menceritakan kejadian dongeng sehingga perlunya dikembangkan narasi tersebut, pola-pola pengembangan narasi dibagi dalam urutan waktu dan urutan kawasan yakni urutan waktu disebut dengan teladan kronologis, dan urutan kawasan disebut teladan spasial. Kedua teladan tersebut merupakan cara-cara dalam membuatkan narasi, Untuk mengetahui klarifikasi perihal kedua pola-pola dalam pengembangan narasi, mari kita lihat penjelasannya ibarat yang ada dibawah ini.

Pola-Pola Pengembangan Narasi

a. Urutan Waktu disebut pula Pola kronologi. Dalam teladan ini, kejadian-kejadian yang diceritakan disampaikan dengan urutan waktu, contohnya dari pagi hingga pagi lagi, dari zaman dulu hingga zaman sekarang, dari permulaan hingga selesai, dan sebagainya.


Contoh :

Tak seorang pun sanggup sungguh-sungguh tidur panjang sepanjang malam itu. Ketika suara kokok ayam hutan berderai-derai mengambarkan pagi telah dekat, mereka pun segera bangun. Kini, mereka memandangi rimba sekililingnya dengan lebih awas dan cermat. Mereka memasak air dan makanan, mengambil air sembahyang, dan sembahyang. Sebagian pancaindra mereka mengusut dan mengamati rimba di sekelilingnya, rimba yang kini mengandung bahaya dan maut.

b. Urutan ruang disebut pola spesial. Dalam teladan ini, kejadian-kejadian dalam paragraf disusun mengikuti bagian-bagian dari suatu kawasan misalnya, dari barat ke timur, dari pinggir ke tengah, dari dalam ke bab luar, dan sebagainya.

Contoh :

Jika beberapa tahun yang kemudian tuan tiba ke kota kelahiranku dengan menumpang bus, tuan akan berhenti di bersahabat pasar. Melangkahlah menyusuri jalan raya ke barat maka kira-kira sekilometer dari pasar, akan sampailah tuan di jalan kampungku,. Disamping kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah, ke jalan sempit itu. Di ujung jalan itu, nanti tuan akan temui sebuah surau tua. Didepannya ada bak ikan yang airnya mengalir melalui kawasan buah pancuran mandi.

Pola pengembangan ialah metoda yang digunakan untuk menciptakan sebuah paragraf naratif.

Pola pengembangan paragraf naratif terdiri atas:
Pola pengembangan kronologis (waktu) Menceritakan urutan kejadian secara runtut dari awal hingga akhir, tidak meloncat-loncat.
Pola pengembangan spasial (ruang) Menceritakan kejadian secara acak namun sanggup menggabungkan dongeng dengan indah. Selain itu, pada teladan pengembangan spasial dongeng kebanyakan menurut kawasan dan ruang, tapi ada juga yang menurut waktu.


Contoh 1

Selepas adzan subuh, Tito bergegas mengambil segala peralatan yang telah disiapkan untuk keberangkatan ke Yogjakarta guna menempuh ujian tulis di sebuah Perguruan Tinggi Negeri ternama. Dilepas Orang tuanya di terminal, sempurna pukul 06.30 keretapun meluncur membawanya. Bila tak ada aral melintang, esok hari beliau telah hingga di sana.

Paragraf di atas termasuk paragraf naratif kronologis alasannya ialah menjelaskan waktu kejadian dongeng secara urut.
Selepas adzan subuh, Tito bergegas mengambil segala peralatan yang telah disiapkan untuk keberangkatan ke Yogjakarta guna menempuh ujian tulis di sebuah Perguruan Tinggi Negeri ternama.
Dilepas Orang tuanya di terminal, sempurna pukul 06.30 keretapun meluncur membawanya.
Bila tak ada aral melintang, esok hari beliau telah hingga di sana. Selepas adzan subuh sempurna pukul 06.30 esok hari


Contoh 2


Tidak terasa, kami pun tiba di stasiun Yogyakarta. Kami pribadi mencari hotel terdekat dengan stasiun. Syukurlah, kami sanggup hotel dengan cepat, namanya Dafami Hotel. Wisata di Yogya ini, kami mulai dengan menyisir tempat-tempat sekitar hotel, yaitu Malioboro, Alun-Alun kota, dan Mall Yogyakarta. Barulah kemudian kami mengunjungi kawasan yang jauh dari hotel, yaitu candi Borobudur. Candi itu megah berdiri di kabupaten Magelang yang berjarak puluhan kilometer dari hotel kami.



Paragraf di atas termasuk paragraf naratif spasial alasannya ialah menceritakan urutan kejadian menurut tempat.


1. Tidak terasa, kami pun tiba di stasiun Yogyakarta.

2. Kami pribadi mencari hotel terdekat dengan stasiun

3. Syukurlah, kami sanggup hotel dengan cepat, namanya Dafami Hotel.

4. Wisata di Yogya ini, kami mulai dengan menyisir tempat-tempat sekitar hotel, yaituMalioboro, Alun-Alun kota, dan Mall Yogyakarta.


5. Barulah kemudian kami mengunjungi kawasan yang jauh dari hotel, yaitu candi Borobudur. Candi itu megah berdiri di kabupaten Magelang yang berjarak puluhan kilometer dari hotel kami.


Contoh 3


Sesampainya di Yogyakarta Tito bersegera mencari lokasi ujiannya dengan naik angkot. Di tengah jalan beliau teringat akan no ujian yang beliau taruh di atas meja belajar. Dia takut lupa menaruhnya di dalam tas. Diingatnya kembali apa saja yang beliau lakukan selepas subuh kemarin saat tengah menyiapkan peralatan untuk ke sini. Cepat-cepat dibuka tasnya. Untung saja nomor itu sudah ditaruhnya di dalam binder.


Paragraf di atas termasuk paragraf naratif spasial alasannya ialah menceritakan urutan kejadian yang melompat-lompat.


6. Sesampainya di Yogyakarta Tito bersegera mencari lokasi ujiannya dengan naik angkot.

7. Di tengah jalan beliau teringat akan no ujian yang beliau taruh di atas meja belajar.

8. Dia takut lupa menaruhnya di dalam tas.

9. Diingatnya kembali apa saja yang beliau lakukan selepas subuh kemarin saat tengah menyiapkan peralatan untuk ke sini.

10. Cepat-cepat dibuka tasnya.

11. Untung saja nomor itu sudah ditaruhnya di dalam binder


Kata yang dicetak tebal mengambarkan teladan pengembangan spasial.

Poin Penting

Pola pengembangan ialah metoda yang digunakan untuk menciptakan sebuah paragraf naratif.


Pola pengembangan paragraf naratif terdiri atas:
Pola pengembangan kronologis (waktu) Menceritakan urutan kejadian secara runtut dari awal hingga akhir, tidak meloncat-loncat.
Pola pengembangan spasial (ruang) Menceritakan kejadian menurut urutan tempat.

(Pustaka: Cerdas Berbahasa Indonesia, Hal : 83-84, Penerbit : Erlangga. 2006. Jakarta, Penulis : Engkos Kosasih)

Pengertian Kalimat Utama Dan Kalimat Penjelas


Apa yang dimaksud dengan kalimat utama dan penjelas? Dan bagaimana menemukan kaliamat-kalimat tersebut di dalam sebuah paragraf? Berikut penjelasannya lebih jauh mengenai ke 2 kalimat ini.

- Pengertian kalimat utama ialah kalimat yang mengandung gagasan utama. Adapun yang dimaksud dengan gagasan utama ialah gagasan yang menjadi dasar pengembangan suatu paragraf. Gagasan utama menyatakan hal-hal umum, yang merangkum seluruh gagasan yang ada dalam suatu paragraf. Pragraf yang baik hanya mengandung satu gagasan utama.

Ciri-ciri kalimat utama:

Kalimat utama mengandung suatu permasalahan yang sanggup dikembangkan secara terperinci.
Kalimat utama merupakan suatu kalimat yang utuh atau sanggup bangun sendiri tanpa adanya penghubung baik penghubung antar kalimat maupun penghubung intra kalimat.
Biasanya kalimat utama terletak di awal paragraf. Namun pada kalimat induktif kalimat utama terletak di final suatu paragraf dan biasanya memakai kata-kata berupa: “Sebagai kesimpulan, Jadi…, Dengan demikian…”

Mempunyai arti yang terang walaupun tanpa dihubungkan dengan kalimat lain.

- Pengertian Kalimat penjelas ialah kalimat yang mengandung gagasan penjelas. 

Adapun yang dimaksud dengan gagasan penjelas ialah gagasan yang menjelaskan suatu gagasan utama. Penjelasannya itu sanggup dalam bentuk perincian atau uraian-uraian, contoh-contoh atau ilustras, kutipan-kutipan dan sebagainya. Untuk mengetahui lebih terang perihal Kalimat Utama dan Kalimat Penjelas Mari kita lihat teladan kalimat utama dan Contoh kalimat penjelas ibarat dibawah ini.

Ciri-ciri kalimat penjelas:

Berupa pendukung suatu kalimat utama yang menyajikan deskripsi, contoh, perbandingan, alasan dan klarifikasi mengenai topic yang dibahas. Merupakan kalimat yang tidak sanggup bangun sendiri.
Kalimat penjelas memerlukan kata-kata penghubung ibarat “Bahkan, contohnya, terlebih lagi, misalnya, contohnya dan lain-lain”. kalimat-kalimat penjelas membutuhkan kata penghubung semoga suatu paragraf menjadi Koherence atau berkesinambungan antar kalimat.

Contoh Kalimat Utama dan Kalimat Penjelas

Perhatikan paragraf-paragraf berikut.


1). Memasuki kala ke-21, sejumlah duduk masalah kependudukan menghadang umat insan secara “tum pang tindih”. Sebagal contoh, duduk masalah lanjut usia (lansia) rnuncul pada ketika pertambahan penduduk masih besar. Kemiskinan menjadi kian kasat mata di tengah rumithya duduk masalah ketenagakerjaan. Masalah kes ehatan pun turut mewarnal lanskap kehidupan pada awal milenium ketiga, terutama yang rnenyangkut kesehatan perempuan dan anak-anak. .

Kalimat utama dan Kalimat Penjelasnya

Paragraf tersebut memberikan gagasan perihal tumpang tindihnya duduk masalah kependudukan yang dihadapi manusia. Gagasan itulah yang menjadi dasar pembahasan dalam paragraf tersebut. Oleh lantaran itu, gagasan itu disebut gagasan utama. Gagasan utama dinyatakan secara terang dalam kalimat pertama. Dengan demikian, kalimat pertama merupakan kalimat utama paragraf di atas. Adapun kalimat-kalimat di bawahnya merupakan kalimat penjelas.

2). Salah satu penyebab terjadinya unjuk rasa ialah adanya ketidakpercayaan terhadap pelaksanaan berbagal aturan. Para pengunjuk rasa tidak menemukan pelampiasan atas ketidakpuasan yang rnereka rasakan. Tekanan amarah yang tidak menemukan celah untuk keluar itu balasannya menjadi amuk massa. Ha-hal tersebut menimbulkan berbagal unjuk rasa sering berujung pada anarkisme massa kalau aspirasi rnereka tidak tersalurkan, Mereka ingin agresi mereka diperhatikan.


Kalimat utama dan Kalimat Penjelasnya


Paragraf menyatakan gagasan perihal penyebab terjadinya unjuk rasa, yakni ketidakpercayaan terhadap pelaksanaan aneka macam aturan. Gagasan itulah yang menjadi dasar dari pembahsan paragraf tersebut. gagasan itu ada dalah kalimat pertama. Dengan demikian, kalimat pertama merupakan kalimat utama, sedangkan kalimat-kalimat berikutnya merupakan kalimat penjelasnnya.

Contoh Kalimat Utama dan Kalimat Penjelas

Setelah memahami pengertian dan ciri dari kalimat utama dan penjelas berikut ialah teladan menemukan kalimat utama dan penjelas dalam sebuah paragraf.

Paragraf 1

Demam berdarah merupakan bahaya bagi insan di seluruh belahan dunia. Banyak masalah demam berdarah yang terjadi di seluruh dunia. Jumlah masalah demam berdarah yang paling tinggi di tempati oleh Asia terutama di Asia timur dan selatan. Hal ini disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi sehingga memungkinkan nyamuk dengue berkembang. Sedangkan Australia dan Amerika menempati peringkat ke 2 dan ke 3 dalam masalah demam berdarah. Jumlah masalah demam berdarah di benua ini lebih kecil lantaran letak geografis dan iklimnya yang menciptakan nyamuk dengue susah untuk berkembang.

Pada paragraf di atas semua kalimat membicarakan perihal demam berdarah. Berdasarkan ciri-ciri yang telah kita pelajari sebelumnya. kita sanggup melihat kalimat pertama merupakan sebuah kalimat yang utuh. sedangkan kalimat-kalimat setelahnya bersifat mendukung dengan menunjukkan contoh, alasan, dan bukti yang merupakan ciri dari kalimat penjelas.


Kaprikornus sanggup di pastikan bahwa kalimat utama pada paragraf di atas ada pada kalimat pertama sehingga paragraf ini disebut paragraf deduktif.

Kalimat utama: Demam berdarah merupakan bahaya bagi insan di seluruh belahan dunia.
Kalimat Penjelas: Ada di kalimat ke 2 sampai ke 6.


Paragraf 2

Banyak faktor yang sanggup mensugesti tingginya kolesterol di dalam tubuh. Sebagai pemicunya ialah banyaknya lemak yang kita konsumsi salah satunya ialah dari minyak goreng. Kolestrol yang menumpuk ini akam meyumbat alairan darah kita sehingga akan menggangu kerja jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Sehingga akan mengakibatkan penyumbatan darah. Dengan demikian, kolesterol merupakan penyebab utama penyakit jantung koroner.

Paragraf di atas membicarakan perihal Bahaya kolesterol bagi tubuh. kalimat pertama, sampai kalimat keempat merupakan kalimat penjelas. Pada kalimat pertama penulis mengajukan sebuah fakta dan di djelaskan oleh kalimat-kalimat selanjutnya. lalu di kepingan final penjelasan-penjelasan tersebut dirangkum dalam satu kaliamt di kalimat terakhir dicirikan dengan adanya kata “Dengan demikian”

Berdasarkan klarifikasi dan teladan di atas, kalimat utama dari paragraf tersebut terletak di final paragraf sehingga paragraf ini disebut dengan paragraf Indukif.

Kalimat utama: Dengan demikian, kolesterol merupakan penyebab utama penyakit jantung koroner.
Kalimat penjelas: ada pada kalimat 1 sampai kalimat 4.

Sekian artikel perihal Pengertian Kalimat Utama dan Kalimat Penjelas semoga bermanfaat


Pustaka : Cerdas Berbahasa Indonesia 2, Hal : 26-27, Penerbit : Erlangga. 2006.Jakarta, Penulis : Engkos Kosasih )

Pengertian Umum Surat Niaga Dan Jenis Surat Niaga (Dagang)


Yang dimaksud dengan surat niaga yaitu suatu surat yang dibentuk atau ditulis untuk kepentingan bisnis atau perdagangan. Surat niaga merupakan jenis surat yang dikeluarkan oleh perusahaan ataupun badan-badan perjuangan dalam rangka menjalankan usahanya. Surat Niaga juga merupakan surat resmi yang umumnya berisi mengenai tawaran, jual-beli yang ada hubungannya dengan barang ataupun jasa. Secara Umum Pengertian Surat Niaga (Dagang ), Surat Niaga yaitu surat yang ditulis untuk kepentingan-kepentingan bisnis atau perdagangan. Dengan demikian, surat perjanjian jual beli pun sanggup digolongkan ke dalam surat lantaran didalamnya menyangkut kepentingan bisnis. Isis surat itu melibatkan pihak penjual dan pihak pembeli.

Untuk mengetahui jenis-jenis surat niaga atau Jenis-jenis Surat Dagang mari kita lihat pernyataanya ibarat dibawah ini.

Atau definisi surat niaga yang lainnya yaitu sebuah surat yang dibentuk oleh orang-orang ataupun oleh suatu tubuh perjuangan dengan bertujuan untuk mencari keuntungan. Surat niaga ini sanggup bersifat intern maupun ekstern, secara intern sanggup diartikan surat ini sanggup digunakan untuk berafiliasi antar perusahaan itu sendiri baik itu dari tingkat sentra hingga pada cabangnya. Dan jikalau secara ekstern surat ini sanggup digunakan untuk berafiliasi dengan perusahaan atau bada perjuangan lain. Surat niga juga sering disebut dengan surat dagang atau surat bisnis

Jenis-Jenis Surat Niaga atau Surat Dagang

Berikut ini merupakan aneka macam jenis surat niaga yang biasa digunakan dalam kepentingan bisnis antara lain :

a. Surat Perjanjian jual beli
b. Surat Penawaran
c. Surat Permintaan
d. Surat Pesanan
e. Surat Pengantar pengiriman barang
f. Surat Pemberitahuan penerimaan barang
g. Surat pengiriman pembayaran
h. Surat ratifikasi penerimaan pemabayaran, dan lain sebagainya.

Inilah fungsi surat niaga

Adapun fungsi dari surat niaga diantaranya sebagaimana berikut ini: 

Berfungsi sebagai bukti konkret hiitam di atas putih, khususnya surat-surat perjanjian.
Berfungsi sebagai alat pengigat, alasannya yaitu surat sanggup diarsipkan dan sanggup dilihat lagi jikalau memang dibutuhkan.
Berfungsi sebagai duta ataupun wakil penulis untuk berhadapan dengan lawan bicaranya.
Berfungsi sebagai anutan kerja dalam menjalankan tugas.
Berfungsi sebagai alat promosi.
Berfungsi sebagai materi untuk mengambil suatu keputusan.
Berfungsi sebagai bukti dari sejarah.

Prosedur Niaga Tujuan dari aktivitas niaga yaitu terjadinya transaksi, yaitu adanya kesepakatan jual beli yang ditandai penyerahan barang atau jasa oleh pihak penjual dan penyerahan uang oleh pihak pembeli. Sebelum terjadinya transaksi kedua pihak akan melewati proses yang disebut mekanisme niaga. Rangkaian tahapan dimulai dari perkenalan, seruan penawaran, pesanan dan pengiriman pesanan.

Daftar Istilah Niaga 

Accomodation, kemudahan = semua yang memenuhi keperluan ibarat penginapan dan transportasi.
After Sales Service = layanan purna jual
Bonafide = sanggup dipercaya
Brosur = lembaran gosip yang umumnya berisi gambar dan keterangan singkat mengenai produk tertentu.
Cargo = muatan
Certificate of origin = surat keterangan yang menyatakan asal barang diimpor.
Commercial Invoice = faktur untuk perdagangan internasional
CCB / (Claim Constatering Bewijs) = surat bukti kerusakan barang
Claim = hak untuk memperoleh ganti rugi atau perbaikan
Confidential = kepercayaan kepada orang tertentu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan duduk kasus pribadi
Consignment = konsinyasi, perdagangan titip jual
Devident = pembagian laba untuk pemilik saham yang besarnya ditetapkan oleh direksi dan disahkan dalam rapat pemegang saham.
DP (Down Payment) = uang muka, panjar
Faktur = surat perhitungan mengenai barang-barang yang dijual (tanda bukti jual beli barang).
Grace period = masa tenggang, masa penangguhan pengembalian pinjaman.
Joint venture = adonan beberapa perusahaan untuk bekerjasama dengan cara bagi hasil.
Konosemen / (Bill of Loading = B/L) = surat angkutan barang yang dikirim dengan kapal laut.
Leasing = penyewaan
Long term loan = tunjangan jangka panjang lebih dari lima tahun.
Mail order selling = penjualan barang melalui pos
Manual = buku anutan pengoperasian barang
Monster, sample = pola barang
Packaging = pengepakan
Packing list = daftar rincian barang dalam peti
Patent = hak dari pemerintah kepada orang atau tubuh yang menemukan hasil atau karya tertentu.
Promes = surat pernyataan kesanggupan dari orang yang berhutang untuk membayar pada waktu yang ditetapkan.
Ready stock = persediaan barang yang siap untuk dikirim.
Retail outlet = toko eceran
SE & O (salvo errore at ommisionem) atau sering juga disebut
E & O (error & ommissions excepted) = perhitungan sanggup dibetulkan jikalau terdapat kesalahan.
Underwriter = pemegang resiko, orang atau perusahaan yang menangani duduk kasus asuransi.


Sifat penawaran 

Penawaran bebas = penawaran yang tidak terikat oleh jangka waktu tertentu. Jika sewaktu-waktu terjadi perubahan harga, maka tidak perlu diberitahu lebih dahulu.
Penawaran berjangka = penawaran dengan syarat jual beli dan harga barang ditawarkan hanya dalam jangka waktu tertentu.
Penawaran terikat = penawaran dengan syarat-syarat tertentu dan hanya terikat. Jika sewaktu-waktu terjadi perubahan harga, penjualan harus memberitahu terlebih dahulu.


Cara Pembayaran 

Dibayar di muka = barang-barang dibayar sebelum barang diterima atau sebelum barangnya ada.
Dibayar kontan (cash) = barang dibayar tunai bersama surat pesanan.
Dibayar di belakang = pembayaran dilakukan beberapa dikala sesudah barang diterima.
CAC (Cash and Carry) = barang dibayar terlebih dahulu sebelum dibawa, atau uang diterima lebih dahulu gres barang dikirim.
COD (Cash on Delivery) = pembayaran dilakukan pada dikala barang diterima.
Secara rembers = pembeli menyerahkan pembayaran kepada pengangkut barang pada waktu barang diserahkan.
Pada waktu dokumen datang = pembayaran dilakukan pada waktu dokumen tiba. Pembeli harus menebus dokumen tersebut gres sanggup mengambil barangnya di gudang pelabuhan.


Potongan harga 

Potongan tunai = potongan yang diberikan lantaran pembeli membayar tunai.
Korting atau discount = potongan yang diberikan lantaran membeli dalam jumlah besar.
Rabat = potongan yang diberikan kepada biro atau toko lantaran barang hendak dijual lagi.
Refaksi = potongan lantaran pada barang yang dikirim terdapat kesalahan mutu.


Potongan berat 

Tarra = potongan berat kotor barang
Ekstra tarra = potongan barang lantaran pembungkusnya yang luar biasa contohnya peti yang menggunakan pelat besi.
Tarra netto = potongan berat yang diberikan sesudah barang ditimbang dengan sungguh-sungguh.
Tarra faktur = potongan berat kotor barang yang resmi dicantumkan pada barang yang dikirim.


Cara Penyerahan Barang 

Loco Gudang = barang diserahkan kepada pembeli sebelum dibungkus atau ditimbang. Pembeli menanggung ongkos penimbangan, pengepakan.
Franco Station = ongkos mengangkut barang dari gudang hingga stasiun kereta api ditanggung pembeli.
FOB (Free On Board) = penjual menanggung ongkos pengangkutan hingga barang dimuat di kapal.
C & F (Cost and Freight) = semua ongkos termasuk pengangkutan barang dengan kapal ditanggung oleh penjual.
CIF (Cost Insurance and Freight) = semua ongkos barang termasuk asuransi dan pengangkutan dibayar oleh penjual.
FOR (Free On Rail) = semua ongkos hingga barang dimuat ke dalam kereta api oleh penjual.
FOS (Free on Station) = penjual menanggung ongkos hingga barang datang di stasiun, tetapi ongkos memasukkan ke dalam gerbong dan ongkos kereta api ditanggung pembeli.
FAS (Free Alongside Ship) = penjualan dilakukan di luar kapal. ongkos selanjutnya ditanggung pembeli.
FOS (Free Overside Ship) = biaya pemindahan barang dari kapal ke motor sudah termasuk harga barang.
CIFIC (Cost Insurance and Freight Inclusive Commision) = semua ongkos kapal, komisi dan asuransi ditanggung penjual.

Demikian Penjelasan singkat yang membahas wacana pengertian umum surat niaga dan jenis-jenisnya, agar goresan pena ini sanggup memperlihatkan manfaat bagi kita semua.


(Pustaka:Cerdas Berbahasa Indonesia, Hal : 82, Penerbit : Erlangga. 2006.Jakarta, Penulis : Engkos Kosasih)