Perbedaan Pandita Dan Pinandita

DEPELIAR – Pandita dan Pinandita secara umum dikenal dengan nama orang suci. Yaitu seseorang yang mempunyai kewajiban untuk melaksanakan upacara baik dalam skala kecil maupun skala keci. Orang suci juga sanggup diartikan sebagai orang yang bisa mendapatkan getaran-getaran gaib, mempunyai mata batin dan sanggup memancarkan kewibawaan rohani, serta sanggup mewujudkan ketenangan dan penuh welas asih yang di sertai kemurnian lahir dan batin dalam mengamalkan anutan agama.

Orang suci terdiri dari dua kata yaitu orang dan suci. Orang artinya insan dan suci artinya kebersihan lahir dan batin (kemurnian). Kaprikornus orang suci ialah insan yang mempunyai kekuatan mata batin dan bisa memancadaparkan kewibawaan rohani, mempunyai welas asih dan bisa mengamalkan anutan kitab suci Hindu (Veda). (Susila dan Duwijo. 2014: 12)

Secara umum di Indonesia Orang Suci sanggup dibedakan menjadi dua yaitu Pandita dan Pinandita. Lalu pertanyaannya apa yang membedakan Pandita dan Pinandita. Berikut mutiara hindu akan menjelaskan satu persatu.

Pengertian Pandita

Pandita ialah golongan orang suci yang telah dwijati yaitu orang suci yang melaksanakan penyucian diri tahap lanjut atau madiksa. Orang yang telah melaksanakan proses madiksa disebut orang yang lahir dua kali. Kelahiran yang pertama dari kandungan ibu, sedangkan kelahiran kedua dari kaki seorang guru rohani (Dang Acarya) atau Nabe. Setelah melaksanakan proses madiksa, orang suci tersebut diberi gelar Sulinggih atau Pandita. Kata Pandita berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Pandit yang artinya terpelajar, pintar, dan bijaksana. Orang suci yang tergolong Dwi Jati ialah orang yang bijaksana. Orang suci yang termasuk kelompok ini, antara lain Pandita, Pedanda, Bujangga, Maharsi, Bhagavan, Empu, Dukuh, dan sebagainya. (Susila dan Duwijo. 2014: 13-14)

Dwijati berasal dari bahasa sanskerta Dvi dan Jati. Dvi artinya dua dan jati berasal dari akar kata Ja yang artinya Lahir. Kaprikornus Dwijati yaitu lahir dua kali.

Pandita pada jaman itihasa dan Purana biasanya tidak terlepas dari kehidupan Raja. Pandita pada umumnya bertugas sebagai pesasehat raja (Purohito). Bahkan dikatakan bahwa Raja tanpa Pandita lemah, Pandita tanpa Raja akan musnah. Dikatakan juga bahwa salah satu syarat yajna yang sattwika ialah harus menghadirkan Sulinggih yang diadaptasi dengan besar kecilnya Yajña. Kalau Yajñanya besar, maka sebaiknya menghadirkan seorang Sulinggih Dwijati atau Pandita. Tetapi kalau Yajñanya kecil, cukup dipuput oleh seorang Pemangku atau Pinandita saja. (Sudirga dan Suhardi. 2015: 105)

Rsi Yajña ialah korban suci yang tulus nrimo kepada para Rsi. Mengapa Yajña ini dilaksanakan, alasannya ialah para Rsi sudah berjasa menuntun masyarakat dan melaksanakan puja surya sewana setiap hari. Para Rsi telah mendoakan keselamatan dunia alam semesta beserta isinya. Bukan itu saja, anutan suci Veda juga pada mulanya disampaikan oleh para Rsi. Para Rsi dalam hal ini ialah orang yang disucikan oleh masyarakat. Ada yang sudah melaksanakan upacara dwijati disebut Pandita, dan ada yang melaksanakan upacara ekajati disebut Pinandita atau Pemangku. (Sudirga dan Suhardi. 2015: 93)

Dalam Bhagawadgita Bab IV. 19 dikatakan bahwa yang seibut dengan pandita ialah orang atau insan yang tidak mempunyai keterikatan terhadap benda keduniawian.

“Yasya sarve samarambhah, kamasamkalpavarjitah, jnanagnidagdhakarmanam, tam ahuh panditham budhah”.

Terjemahannya:

“Ia yang segala perbuatannya tidak terikat oleh angan-angan akan balasannya dan ia yang kepercayaannya dinyalakan oleh api pengetahuan, diberi gelar Pandita oleh orang-orang yang bijaksana”.

Secara umum pandita dan pinandita mempunyai kewajiban untuk memantra, melaksanakan puja dan menyanyikan lagu-lagu kebanggaan (gita) dalam upacara.

Pengertian Pinandita 

Pinandita ialah pemangku Ekajati. Ekajati berasal dari bahasa sanskerta Eka berarti sati dan jati berasal dari kata ja yang berarti Lahir. Kaprikornus Ekajati berarti lahir sekali yakni lahir hanya dari ibu kandungnya sendiri, (Suhardana.2006: 4). Orang suci yang tergolong dalam eka jati ialah pemangku atau disebut juga Pinandita. Sejak tahun 1968, PHDI telah menetapkan bahwa Pinandita bertugas sebagai pembantu yang mewakili Pendeta (Pandita).

Seseorang dikatakan sebagai pemangku jikalau telah melaksanakan penyucian berupa upacara pawintenan. Pawintenan bagi pemangku sanggup dilakukan berulangkali. Berbeda dengan Pandita yang hanya boleh di diksa satu kali. Pemangku masih diperbolehkan bercukur, berpakaian sebagaimana layaknya anggota masyarakat biasa, masih mempunyai kiprah dan kewajiban dalam kekerabatan kemasyarakatan sebagai seorang walaka. Namanya masih tetap, hanya panggilannya sering ditambah. Contoh Mangku atau Jero Mangku diukuti Nama Orangnya.

Pemangku tidak diperbolehkan memakai alat pemujaan menyerupai Pandita atau Sulinggih, dan mempergunakan mudra. Dalam kehidupan masyarakat, pemangku mempunyai peranan penting menyerupai ngantep upakara skala kecil. Pemangku atau Pinandita dalam kegiatan upacara berfungsi sebagai mediator umat yang kerja dengan Ida Sang Hyang Widhi atau Leluhur. Seorang pemangku harus menjadi panutan dan memberi pola baik terhadap masyarakat.

Secara etimologi pemangku berasal dari bahasa Sanskerta yakni Pangku yang disama artikan dengan Nampa, menyangga atau memikul beban atau memikul tanggung jawab. Kaprikornus Pemangku ialah orang yang memikul beban atau tanggung jawab sebagai pelayan atau mediator antara orang yang punya kerja dengan Tuhan atau Leluhur. Pemangku juga sanggup diartikan sebagai orang yang mendapatkan kiprah pekerjaan untuk memikul beban atau tanggung jawab sebagai pelayan Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus pelayan masyarakat. (Suhardana.2006: 6-7)

Kesimpulan

Yang tergolong Dwijati (Pandita) ialah Pandita, Pedanda, Sri Bhagawan, Empu, Rsi dan lainnya.
Yang tergolong Ekajati (Pinandita) ialah Pemangku, Balian, Mangku Dalang dan lainnya.

Reff:

Sudirga, Ida Bagus dan Suhardi Untung. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas IX Kurikulum 2013. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Susila, Komang dan Duwijo. 2014. Pendidikan Agama Hindu Dan Budi Pekerti Kelas IV Edisi Revisis 2014. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Suhardana, KM. 2006. Dasar-Dasar Kepemangkuan Suatu Pengantar Dan Bahan Kajian Bagi Generasi Mendatang. Surabaya: Paramita.
Ngurah Nala, I Gusti dan Sudharta, Tjokordo Rai. 2009. Sanatana Hindu Dharma Ida Pedanda Gde Nyoman Jelantik Oka. Denpasar: Widya Dharma.

Pengertian, Kiprah Dan Syarat Menjadi Seorang Pemangku Atau Pinandita

DEPELIAR -- Pemangku atau Pinandita mempunyai kiprah yang sangat penting dalam upacara agama Hindu sebab mempunyai kiprah untuk melakukan upacara. Pemangku pada umumnya hanya diperbolehkan untuk memimpin upacara dalam skalah kecil. Pemangku merupakan orang suci umat Hindu tingkat Ekajati yaitu terlahir hanya satu kali. 

Seorang Pemangku tidak dibenarkan mempergunakan alat pemujaan menyerupai halnya seorang Sulinggih. Juga tidak dibenarkan mempergunakan mudra atau petanganan dalam mepuja. Seorang Pemangku mempunyai sasana khusus yang tertuang dalam Lontar Kusuma Dewa, Sangkul Putih, Gegelaran Pemangku, Agem-Ageman Pemangku, dan lain-lain. Sedangkan Pemangku Dalang sasananya tertuang dalam Dharmaning Pedalangan, Panyudamalan, dan Nyapu Leger. (Suhardana. 2006: 5)

Pengertian Pemangku dan Pinandita

Pemangku atau lebih dikenal dengan nama Pinandita merupakan rohaniawan atau orang suci Hindu yang telah melewati tahap penyucian dan mempunyai wewenang untuk memimpin upacara agama. Secara Etimologi, Pemangku asal katanya “Pangku” yang disamakan artinya dengan Nampa, Memikul beban tanggung jawab atau Menyangga. Makara Pemangku yakni seseorang yang mempunyai tanggung jawab untuk melayani dan juga sebagai mediator masyarakat dengan Sang Hyang Widhi Wasa atau leluhur. 

Sedangkan Pinadita, dasar katanya yakni pandita mendapat sisipan ”in”, yang artinya di. Makara pengertian pinandita disini ialah seseorang yang dianggap sebagai wakil pandita. Hal ini sesuai dengan keputusan PHDI dalam Maha Sabha II tahun 1968 yang menyampaikan bahwa Pemangku atau Pinandita mempunyai kiprah sebagai pembantu yang mewakili Pendeta (Pandita). Pinandita meruapak istila resmi Pemangku dari PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia).

Seseorang dikataakan sebagai pemangku kalau telah melalui upacara yang disebut dengan Pawintenana. Pawintenan berasal dari kata winten, yang sanggup diartikan dengan inten (berlian), permata bercahaya. Pawintenan atau mawinten mengandung arti melakukan suatu upacara untuk mendapat sinar (cahaya) jelas dari sang hyang widhi wasa, biar sanggup mengerti, mengetahui, serta menghayati pedoman pustaka suci veda tanpa aral melintang. (Agus Pujayana. 2017: 4)

Syarat Pemangku atau Pinandita Bisa Di Winten

Untuk menjadi seorang Pemangku atau Pinandita, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Adapun syarat-syarat menjadi pemangku menyerupai dikutip dari buku Dasar-Dasar Kepemangkuan yakni sebagai berikut:
  1. Orang yang mempunyai jiwa dedikasi yang tulus ikhlas, berbudhi luhur, bermoral baik, mempunyai mental yang tinggi serta mempunyai jiwa yang tulus untuk selalu siap bekerja (ngayah) tanpa mengharapkan imbalan.
  2. Orang yang sehat secara jasmaniah dan sehat rokhaniah, tidak cacat secara fisik, menyerupai tuli, bisu dan sakit-sakitan.

Selain syarat diatas dikatakan juga bahwa orang yang akan dipilih menjadi pemangku atau pinandita harus terbebas dari tujuh prilaku kegelapan atau kemabukan yang disebut dengan Sapta Timira. Sapta Timira berasal dari dua kata yaitu Sapta artinya Tujuh, dan Timira yang artinya kegelapan. Ada pun ketujuh kegelapan yang dimaksud yakni sebagai berikut:
  1. Dhana yakni sifat insan yang cenderung mabuk sebab kegelapan pikiran tanggapan efek kekayaannya.
  2. Guna yakni sifat insan yang cenderung mabuk sebab kegelapan pikiran tanggapan efek kepandaiannya.
  3. Kasuran sifat insan yang cenderung mabuk sebab kegelapan pikiran tanggapan efek kemenangan atau keberanianynya.
  4. Kulina sifat insan yang cenderung mabuk sebab kegelapan pikiran tanggapan efek keturunan atau kebangsawanan.
  5. Sura sifat insan yang cenderung mabuk sebab kegelapan pikiran tanggapan efek minuman keras menyerupai arak, bir, tuak, narkoba dan minuman alcohol lainya.
  6. Surupa sifat insan yang cenderung mabuk sebab kegelapan pikiran tanggapan efek keindahan rupanya, contohnya sebab beliau terlalu tampan dan cantik.
  7. Yowana sifat insan yang cenderung mabuk sebab kegelapan pikiran tanggapan efek keremajaan atau sebab beliau masih mudah-usianya. (Kondra. 2015: 144)

Orang yang mempunyai sifat-sifat diatas tidak pantas untuk ditujuk menjadi seorang pemangku. Sebab seseorang yang pantas menjadi pemangku atau pinandita yakni mereka yang telah mencapai keadaan rokhani dan bebas dari kemabukan atau mahardhika, yaitu bebas dari kemabukan, bijaksana, suci dan berbudi luhur.

Tugas Dan Kewajiban serta Wewenang Pemangku atau Pinandita

Ketika seseorang telah ditunjuk menjadi Pemangku, tentunya kiprah dan kewajibannya menjadi berubah. Adapun kiprah dan kewajiban serta wewenang pemangku atau Pinandita yakni sebagai berikut:
  1. Seorang pemangku berkewajiban untuk melakukan upacara piodalan (pujawali) Pura daerah beliau ditugaskansampai final hingga tingkat piodalan pada Pura yang diemongnya
  2. Jika Pinandita atau Pemangku melakukan (menyelesaikan) upacara Panca Yajna diluar Pura yang diemongnya contohnya upacara pujawali dan harus memepergunakan air suci tirtha Sulinggih, maka Pemangku atau Pinandita diperkenankan nganteb banten upacara termaksud pada banten yang memakai tirtha Sulinggih (Pandita).
  3. Pandita atau Pemangku mempunyai wewenang melakukan hingga final upacara rutin di dalam Pura daerah mengabdikan diri dengan cara mepuja (mesa) termasuk mohon tirtha kedahapan Tuhan atau Leluhur yang melinggih di Pura tersebut.
  4. Pemangku atau Pinandita mempunyai wewenang untuk menuntaskan Caru (Upacara Bhuta Yajna) maksimal hingga pada tingkat panca sata dengan memakai tirtha Sulinggih (Pandita).
  5. Pemangku atau Piandita berwenang melakukan upacara Manusia Yajna memakai tirtha Sulinggih mulai dari upacara bayi lahir hingga pada otonan.
  6. Pemangku atau Pinandita berwenang melakukan upacara Pitra Yadnya hingga mendem sawa sesuai dengan Catur Dresta yaitu empat contoh pembenaran bervariasi.

Wewenang Pemangku atau Pinandita

Selain kiprah dan kewajiban, pemangku atau pinandita juga mempunyai wewenang, adapun wewenang dari pemangku atau Pinandita yakni sebagai berikut:
  1. Seorang Pemangku atau Pinandita mempunyai wewenang untuk memimpin atau Nganteb Upakara di Pura yang diemongnya.
  2. Pemangku atau Pinadita sanggup ngeloka pala sraya hingga pada madudus alit, sesuai tingkat pawinten dari pemangku tersebut.

Demikian pengertian dari pemangku atau Pinandita, syarat-syarat menjadi pemangku, Wewenang Pemangku serta Tugas dan Kewajibannya dalam melakukan upacara agama Hindu.

Reff:
Suhardana. 2006. Dasar- Dasar Kepemangkuan Suatu Pengantar Dan Bahan Kajian Bagi Generasi Mendatang. Surabaya: Paramita.
Kondra, I Nengah. 2015. Kamus Istilah Dalam Agama Hindu. Bandung: _
Agus Pujayana, I Wayan. 2017. PPT Makalah Mata Kuliah Acara AGama Hindu Orang Suci Agama Hindu (Pandhita dan Pinandita. Jakarta: STAH DNJ

3 Kelas Atau Golongan Para Pemuja Surya

DEPELIAR - Di dalam Bhavisya Purana diceritakan tiga kelas atau golongan pemuja Surya. Mereka yakni para Maga yang memuja Surya, para Maga yang memuja Surya dan para Bhojaka yang memuja Surya. Lalu siapakah para Maga yang dimaksut? Dijalaskan bahwa suku kata "ma" yang melambangkan Dewa Surya. Orang yang bermeditasi pada suku kata "wa" disebut para Maga. Seorang Maga yakni pemuja tuhan Matahari (Surya).

Surya yakni tuhan tertinggi dari para Maga. Mereka memasak makanan hanya untuk Surya dan akan memakannya jikalau telah memperlihatkan persembahan pada Surya. Mereka tinggal di Sakadvupa yang terletak jauh dari Jambudvipq, di hulu samudra luas (Lavana Samudra). Sakadvipa dikelilingi oleh samudra luas lainnya yang dikenal berjulukan Ksiroda Samudra.

Diceritakan bahwa Krsna menikah dengan Jambavati dan mereka mempunyai seorang putra yang berjulukan Samba. Sebagai hasil dari kutukan yang ditimpahkan padanya oleh ayahnya, Samba menderita lepra. (Tentang dongeng ini diceritakan dalam Samba Purana). Samba diberitahukan bahwa ia akan sembuh dari lepra yang dideritanya jikalau ia memuja Dewa Matahari. Maka ia kemudian mendirikan sebuah kuil untuk memuja Dewa Surya dipinggir sungai Candrabhaga (Chenab).

Para  pendeta yang yang ada di tempat Sqkadvipa yakni pendeta yang hebat dalam puja pada tuhan Surya dan mereka diundang oleh Samba dan bertindak sebagai pendeta pemimpin dalam kuil itu. Jika hendak makan maka orang-orang suci di Sakadvipa melakukannya dengan membisu dan sunyi. Hal ini juga diikuti oleh mereka yang tinggal di Sakadvipa. Para Brahmana dari golongan Maga selalu menggunakan benang suci yang dikenal sebagai Avyanga, yang mengikat pinggangnya. Mereka juga memelihara jenggot dan tidak menyentuh benda-benda yang tidak suci. Mereka diharuskan berketurunan untuk menambah jumlahnya dan menyumbangkan sebagian dari pendapatannya. Mereka menjadi vegetaris dan hanya memakan sayuran dan buah-buahan saja. Mereka harus berpenampilan baik dan teguh hati seimbang dan mempunyai pengendalian diri yang penuh.

Silsilah perihal adanya Brahmana golongan Maga yakni sebagai berikut Tersebutlah seorang rsi yang berjulukan Rijihva yang merupakan pemuja tuhan Agni. Putri rsi Rijihva yakni Niksubha. Sebelumnya Niksubha telah diidentikkan sebagai Chaya. Sebenarnya secara rahasia Surya telah menikahi Niksubha dan mempunyai seorang putra yang berjulukan Jarasabda.

Ketika Rijihva mengetahui bahwa Niksubha telah menikah dengan Surya tanpa sepengetahuannya, maka dia menjadi amat marah. MeskipUn dia amat menyayangi putrinya, namun dia tetap mengutuknya.“ “Aku mengutuk anakmu kelak akan menjadi orang yang tidak berguna” katanya.

Dengan berlinang air mata Niksubha memohon pada surya dan beliaupun berkenan untuk menampakkan diri dihadapannya. “Aku tidak sanggup membatalkan kutukan ayahmu” kata tuhan Surya “bagaimanapun juga ia yakni seorang rsi. Akan tetapi saya memberkatimu bahwa kelak keturunan anakmu akan menjadi golongan orang yang mempelajari Veda dengan serius dan menggunakan benang suci yang dinamakan Avyanga. Tidak usah memikirkan apa yang terjadi pada putra-putramu alasannya yakni keturunan mereka akan menjadi orang yang berguna”.

Keturunan Jarasabda inilah yang kemudian menjadi para Maga Brahmana. Bhavisya Purana juga menyediakan klarifikasi dan keterangan perihal para Maga yang memuja tuhan Agni sebagai ritual sehari-hari mereka.

(Para sarjana telah menyidik bahwa para Maga yang diterangkan dalam Bhavisya Purana. yakni para pendeta Magi yang terdapat di Iran. Orang-orang ini kemudian bermigrasi ke India pada tahun-tahun awal, mungkin sekitar masa para Kushana. Meskipun kata Iran tidak terdapat dalam kitab Bhavisya Purana, namun kata Sakadvipa bersama-sama menunjuk pada Iran. Para penduduk Iran pada masa lampau yakni para pemuja api dan matahari. Bhavisya Purana menyebutkan ada lima jenis api (agni). Sedangkan kitab suci golongan Avesta juga mengenal adanya lima jenis api ini. Bahkan nama salah satu nabi para Zarathustra hampir seakan-akan dengan Jarasabda. Orang-orang Persia yang merupakan keturunan bangsa Iran juga menggunakan benang suci di pinggangnya. Bhavisya Purana merupakan tumpuan adanya sintesis dan asimilasi budaya lain dengan budaya Hindu).

Bagaimana dengan golongan Bhojaka yang juga disebutkan sebagai pemuja matahari dalam Bhavisya Purana? Seperti para Maga, mereka juga berasal dari Sakadvipa. Akan tetapi ada banyak perbedaan antara Maga dengan Bhojaka. Para Bhojaka membuat persembahan sehari-hari yang terdiri dari makanan pada Surya. Mereka juga mempersembahkan dupa, sembahkan dupa, kalung bunga, dan aneka macam persembahan lainnya. Mereka mempelajari veda, mandi tiga kali sehari dan memuja Surya sebanyak lima kali sehari dan menolak makanan yang diberikan oleh golongan sudra.

Seorang Bhojaka harus menggunakan benang suci Avyanga setiap saat. Karena dengan menggunakan benang suci inilah seorang bhojaka akan mencapai kesucian dan mendapat berkah dari tuhan Surya. Seorang bhojaka yang tidak menggunakan benang suci ini akan kehilangan kesuciannya dan tidak diperkenankan untuk memuja Surya. Jika ia menanggalkan benang suci itu, maka kesehatannya tidak akan terjaga dengan baik, tidak mempunyai keturunan, dan tidak akan mendapat kesempatan untuk mendapat surga. Bhavisya Purana menyatakan bahwa benang suci ini berafiliasi dengan semua kitab veda, para dewa, dan semua mahluk yang ada di bumi ini. Dikatakan bahwa Visnu berada di dasar benang itu, Brahma di tengahnya dan Siva berada di ujungnya.

Dari klarifikasi diatas kita sanggup mengetahui bahwa para bhojaka telah mendapat status yang lebih tinggi dari para Maga. Pengabdian para Bhojaka dijunjung setinggi langit. Sebagaimana seorang istri melayani suaminya, seorang murid melayani gurunya, demikianlah seorang bhojaka melayani Surya. Sebagaimana tidak ada kitab suci yang melebihi Veda, tidak ada sungai yang mengatai kesucian sungai Ganga, tidak ada persembahan yang mengalahkan upacara Asvamedha, maka demikianlah bagi para Bhojaka. Surya yakni tuhan yang tertinggi, Sebagaimana tidak ada Mahkluk yang lebih tinggi dari para Bhojaka, bagi tuhan dilakukan oleh para bhojaka hendaknya Surya sendiri yang telah melakukannya. Tak seorangpun sanggup mencapai pembebasan sebelum menjadi seorang Bhojaka.

Ini juga berlaku bagi setiap kelahiran seorang bhojaka. Pangeran Priyavrata yakni putra Svayambhuya manu dan Priyavrata membangun sebuah kuil untuk tuhan Surya di Sakadvipa. Beliau membuat sebuah patung Surya yang terbuat dari emas. Akan tetapi . meskipun telah berusaha sekuat tenaga ia tidak sanggup mendapat pendeta untuk melaksanakan puja pada kuil itu. Dan dalam rasa frustasi yang dalam dia mulai berdoa pada tuhan Surya.

Dewa Surya berkenan atas doa-doa Priyavrata dan menampakkan diri dihadapan Priyavrata.

"Anugrah apa yang kamu minta?” tanya tuhan Surya

Mohon berikanlah hamba anugrah biar ada beberapa pendeta yang akan melaksanakan puja di kuil ini" kata Priyavrata.

Dewa Matahari oke atas undangan itu. Dan dia kemudian membuat delapan orang suci dari badan dia sendiri. Dua lahir dari dahi beliau; dua dari tangan, dua dari kaki dan dua dari sinar beliau. Mereka yakni para Bhojaka yang kemudian berdiam dan memimpin setiap ritual di Sakadvipa. Sebuah kuil juga telah dibangun di Kalapriya, di pinggir selatan sungai Yamuna. (Sanjaya.2002:13-19)


Reff:
Sanjaya, Gede Oka. 2002. Bhavisya Purana. Surabaya: Paramita.