Makna Penggunaan Kajang Dalam Upacara Ngaben

DEPELIAR – Secara etimologi Kajang berasal dari bahasa Jawa Kuno yakni tirai atau tutup. Kajang pada umumnya terbuat dari kain putih yang mempunyai ukuran kurang lebih satu setengah meter. Dalam tradisi Hindu khusunya di Bali, kajang ditulisi huruf Modre dan huruf Swalalita lalu diletempatkan pada pelengkungan orang yang akan diaben. Kajang dalam tradisi Hindu Bali merupakan simbol (pengawak) dari tubuh rohani dan jasmani orang yang telah meninggal.

Rerajahan yang terdapat pada kain putih orang yang diaben melambangkan lapisan tubuh rohani dan atman. Sedangkan kain putih sendiri yakni lambang tubuh jasmani. Rejahan yang dipakai pada kain putih merupakan lambing dari dewa-dewa manifestasi Sang Hyang Widhi. Kajang pada umumnya dibentuk dengan suatu upacara dan puja oleh pandita pemimpin upacara. Tahap pembuatan kajang,  dari awal sampai  melaspas memakai banten dan puja tertentu, hal ini dilakukan supaya kajang yang dihasilkan bernilai sacral.

Aksara suci yang dipakai untuk merajah pada kain putih kajang yakni huruf suci yang disebut Dasaksara. Dasaksara merupakan lambing urip bhuwana simbol kemahakuasaan Tuhan. Lapisan-lapisan yang membungkus atman dilukiskan dalam kajang tersebut. Lontar Wrhaspati Tattva menyampaikan tubuh insan terdiri dari tiga tubuh yang disebut Tri Sarira yaitu Stula, Suksma dan anta karana Sarira. (Wiana. 2002.54)

Lain halnya dengan lontar Taittiriya Upanisad menyampaikan bahwa tubuh insan terdiri dari lima lapisan yang disebut Panca Maya Kosa. Adapun bagian-bagiannya yakni sebagai beriku: 
  1. Anamaya Kosa yakni lapisan tubuh insan yang berasal dari makanan.
  2. Pranamaya Kosa yaitu lapisan tenaga.
  3. Manomaya Kosa yaitu lapisan pikiran
  4. Wijnanamaya Kosa yaitu lapisan kebijaksanaan
  5. Anandamaya Kosa yaitu lapisan kebahagian

Lapisan-lapisan inilah yang lalu digambarkan dengan kajang dalam upacara Ngaben. Pada umumnya lukisan huruf kajang berbeda-beda menurut warna orang yang akan diaben. Misalnya untuk Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Alasan perbedaan tersebut di dasarkan pada  Guna (bakat) dan eksekusi alam (perbuatan/pekerjaan) dari masing-masing warna. Gina Karma dari Brahmana Warna sangat berbeda dengan Guna Karma dari Ksatrya Karma. Demikian Juga Guna Karma Waisya dan Sudra Warna. Masing-masing kajang juga berbeda. (Wiana. 2002.54)

Contohnya contohnya kajang Brahmana terdiri dri aneka macam jenis misalnya, Kajang Brahmana Outus, Kajang Brahmana Utama, Brahmana Walaka. Kemudian Contoh Kajang Kesatrya yakni Kajang Kesatrya Utama, Kajang Kesatrya Anyakra Werti, Kajang Kesatrya Waisya Putus, Kajang Prasatria dan lain sebagainya.

Pada umumnya, kajang diberikan oleh Pandita yang menjadi Nabe atau Guru Kerohanian. Selain itu, kajang juga sanggup diperoleh dari Pura Kawitanya dan dari keluarga dekat. Kajang merupakan tubuh pengganti dari atman yang sudah lepas dari badanya yang lama. Karena tubuh itu sangat penting sebagai kendaraan Atman menuju alam Niskala. Sebagai tubuh pengganti tentunya sangat dibutuhkan tubuh itu tubuh yang searah dengan sifat-sifat suci Atman. Dengan demikian antara wada dan isinya menyatu.

Kajang yang dibentuk oleh Pandita dibutuhkan Kajang yang Suci, alasannya yakni jikalau tidak justru akan menutup sinar suci Atman. Demikian juga Kajang Kawitan dan Kajang dari keluarga haruslah suci alasannya yakni itu akan dijadikan wahana gres oleh Atman menghadap Sang Hyang Widhi. Kajang sebagai pelindung sang Pitara menuju alam niskala.

Cerita yang berkaitan dengan Makna Penggunaan Kajang dalam upacara Ngaben terdapat di dalam Kekawin Bharatayudha dikala Dewi Hidimbi memohon kepada Drupadi supaya diberikan epilog diri supaya di perjalanannya ke Swarga menemui leluhur tidak menerima hambatan. Dikatakan Juga bahwa Kajang yakni anugra yang diberikan Batara Siva.

Reff:
Wiana, I Ketut. 2002. Makna Upacara Yajna Dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita


Arti, Makna, Fungsi Dan Jenis Jenis Api Dalam Upacara Yajna

DEPELIAR – Berbicara perihal yajna, maka tentu tidak lepas dari sarana atau peralatan yang diharapkan dalam upacara yajna (korban suci). Sarana sanggup dikatakan sebagai penentu utama berhasil tidaknya suatu upacara yang dilaksanakan oleh umat Hindu. Sebab Sarana yaitu media konsentrasi untuk sanggup mendekatkan diri dengan Brahman (Sang Hyang Widhi) serta manisfestasinya yang dipuja.

Selain digunakan sebagai media untuk menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, penggunggunaan sarana juga sanggup membuat hubungan serasi antara lingkungan, sesame manusia, tumbuh-tumbuhan, para pitara (roh suci leluhur) serta keharmonisan lainya dalam kehidupan di dunia ini. 

Setiap sarana yang digunakan dalam upacara yajna tentunya mempunyai arti, fungsi, dan makna masing-masing. Baik dari segi nilai kesucian, kemulian, dan nilai spiritual. Dari setiap sarana yang dipergunakan, tuntunya kita mempunyai suatu keinginan suci. Untuk itu, sangat penting untuk mengetahui setiap arti, fungsi dan makna dari setiap sarana yang dipergunakan dalam upacara yajna. Sebab tampa mengetahui, arti, fungsi dan makna dari setiap sarana yang digunakan, maka tidak mungkin keinginan kita sanggup tercapai menyerupai disebutkan dalam Manawa Dharmasastra 3.97:

“Nasyanti hawwyah kawyani naranamawijajanatam, bhasmi bhutesu wipresu mohad dattani datrbhid”

Terjemahan:
“Persembahan kepada Dewa dan Leluhur yang dilakukan oleh orang yang tidak tahu peratunyanya  yaitu sia-sia, bila memberi lantaran kebodohanya memperlihatkan bagianya kepada Brahmana, persembahannya tidak ada bedanya dengan abu.”

Dari sloka yang diambil dari Manawa Dharmasastra 3.97 diatas, sanggup disimpulkan bahwa wajib hukumnya untuk mengetahui tujuan dan makna upacara yajna yang dilaksanakan biar tidak sia-sia. Untuk itu melalui artikel ini, mutiara hindu akan membahas arti, fungsi dan makna api dalam upacara yajna.

Arti, Makna dan Fungsi Api

Api merupakan salah satu sarana yang sangat penting dalam upacara agama Hindu. Penggunaan api sangat banyak kita jumpai sesuai dengan jenis yajna yang dilaksanakan. Ada yang memakai dupa, dipa, api, takep, pasepan dan lainya sebagainya.

Dhupa atau dupa yaitu nyala bara yang berisi wangi-wangian atau astanggi yang digunakan dalam upacara dan untuk menuntaskan upacara. Dipa yaitu api yang nyalanya sebagai lampu yang terbuat dari minyak kelapa. Api takep yaitu api sebagai sara upacara dengan nyala bara yang terbuat dari kulit kelapa yang sudah kering (sabut kelapa). Pasepan yaitu api sebagai nyala bara yang ditaruh diatas daerah tertentu atau dulang kecil yang di isi dengan potongan kayu kering yang dibentuk kecil-kecil. Kayu yang dipergunakan biasanya yang harum menyerupai kayu menyan, cendana, kayu majegau,  dan lainya. Semua penggunaan api diatas mempunyai makna tertentu. (Susila, dkk. 2009:77)

Dupa merupakan lambing karakter tattwa, dan dipa yaitu lambang sakti tattwa. Dijelaskan arti dupa bahwa:

“wijil ing dhupa sakeng wisma, dipa sakeng Ardha candra landepi sembah”. 

Terjemahan:
“bahwa tajamnya sembah sakti itu (dengan) dhupa yang tercipta dan Wisma (sarwa alam) dan dipa yang terdiri dan Ardha Candra (bulan sabit) atau dengan istilah lain bahwa terwujudnya cipta pujaan itu akan sanggup diintensifkan dengan mempergunakan dhupa dan dipa itu:” (Wedaparikrama:103)

Penggunaan api sebagai sarana upacara agama juga disebut dengan agni. Peranan api dalam upacara agama sangat penting sekali menyerupai dijelaskan dalam Wedaparikrama:44-45, bahwa api yaitu pengantar upacara yang menghubungkan antara insan dengan Sang HYang Widhi Wasa, Agni yaitu Dewa yang mengusir Raksasa dan aben habis semua mala sehingga menjadikanya suci, Agni yaitu pengawas watak dan saksi yang abadi, agnilah yang menjadi pemimpin upacara Yajna yang sejadi berdasarkan Veda. 

Dikatakan bahwa suatu upacara yajna belum lengkap bila tidak ada unsur api di dalamnya, lantaran dengan api umat Hindu sanggup melakukan upacara dengan sempurnah, api untuk penyucian, sanggup menghalau roh-roh jahat atau mendatangkan pengaruh-pengaruh baik lantaran api sebagai pengantar, sebagai pemimpin upacara dan juga saksi.

Dalam agama Hindu api yang sangat diharapkan yakni api yang mengeluarkan asap harum, dan yang tidak diharapkan api yang terbuat dari lilin lantaran tidak mengeluarkan asap berbau harum. Sedangkan untuk Dipa, Dupa, dan lainya memang sudah dirangkai khusus biar mengeluarkan bauh harum yang dilengkapi dengan kemenyn, gula, kulit duku, kayu cendana, kayu majegau dll.

Jenis-Jenis Api Dalam Upacara Yajna Agama Hindu 

Berdasarkan beberapa sastra ada beberapa jenis pembagian api dalam upacara yajna yaitu sebagai berikut:

Api yang ada di dapur
Api yang ada pada diri manusia
Api yang ada pada Matahari

Dari semua jenis api diatas, mempunyai tugas yang sangat penting dalam kehidupan insan baik dalam keseharian, kehidupan social maupun budaya dan keagamaan. Dalam Kitab Sarasamuccaya: 59 dijelaskan tiga jenis api menyerupai berikut:

“---Taat mengadapan puja kepada tiga api suci, yang disebut Tryagni: yaitu tiga api suci, perinciannya adalah: ahawaniya, garhaspatya, dan citagni, ahawaniya artinya api tukang masak untuk memasak makanan, garhaspatya artinya api upacara perkawinan,itulah api yang digunakan saksi pada waktu perkawainan dilangsungkan, Citagni artinya api untuk aben mayat, itulah yang disebut tiga api suci---“

Dari kutipan Kitab Sarasamuccaya: 59 dijelaskan tiga jenis api yang disebut Sang Hyang Tryagni diantaranya yaitu sebagai berikut:
  1. Ahawaniya, yaitu api yang dipergunakan untuk memasak
  2. Garhaspatya yaitu api upacara perkawinan
  3. Citagni yaitu api yang digunakan dalam upacara pembakaran mayat.

Tryagni diatas merupakan sarana yang sangat penting dalam upacara agama hindu sesuai dengan yajnanya yang dilaksanakan. Api dalam istila pemikiran agama hindu juga disebut dengan Apuy, Agni, Wahni.

Dikatakan juga bahwa api yaitu sumber kehidupan dan kekuatan Brahma untuk membuat alam semesta dan isinya. Dalam Agastya Parwa, juga dijelaskan perihal pentingnya penggunaan Dhupa (api) dalam upacara yajna seperti:

“kita lihat orang kaya, keluarganya tidak kekuarangan suatu apa, sementara ia menikmati kebahagiannya dengan penuh kesenangan, maka ia pun di tawan orang, dirampas, dijual, dituduh berbuat dosa walaupun bergotong-royong ia tidak berdosa. Orang yang demikian di dunia, demikian tingkah lakunya dahulu gemar memuja Bhatara yang mengakibatkan bhatara menjadi suka cita. Namun karenya pemujaanya itu dahulu tampa dilengkapi dengan dupa, maka usahanya itu kehilangan makna upacara agama, lantaran tujuan adanya dupa itu yaitu untuk menjaga pahala pemujaan itu kelak.”

Fungsi Api Dalam Upacara Yajna 

Selain uraian di atas berikut ada beberapa klarifikasi perihal pentingnya api dalam dalam upacara yajna agama hindu. Aka diuraikan sebagai berikut:
  1. Api sebagai pendeta pemimpin upacara (Pejelasan baca: Isa Upanisad. 18, Reg Veda Mandala I)
  2. Api sebagai mediator pemuja dan yang dipuja (Penjelasan baca:Mds.I.23, Bhagavad Gita IV.24-25)
  3. Api sebagai pembasmi segala kekotoran dan pengusir roh jahat (Penjelasan baca: Bhagavad Gita IX.26, Wedaparikrama: 102, Reg Veda Mandala I sukta sloka 5,7,10, Reg Veda Mandala I,12.5, Reg Veda Mandala I.12.7, Reg Veda Mandala I.12.10, Lontar Sundarigama,)
  4. Api sebagai saksi upacara dalam kehidupan. (Penjelasan baca: Upadeca.7, Agama Hindu II, Gd. Pudja, M.A., S.H., 167-168)

Demikianlah uraian singkat perihal pentingnya api dalam upacara yajna. Sebenarnya sangat banyak sastra-sastra atau kita suci veda yang mengulas perihal pentingnya penggunaan api dalam upacara Yajna, tetapi dalam artikel ini hanya dijelaskan secara singkat.

Reff:
Susila, I Nyoman, dkk. 2009. Materi Acara Agama Hindu. Jakarta: Depag RI Dirjen Bimas Hindu
Transkripsi Lontar Sundari Gama, UNHI Dempasar
Beberapa sumber kitab suci hindu menyerupai yang tertera di setiap sloka.



Makna Dan Fungsi Air Suci Tirta Dalam Upacara Yajna Agama Hindu

DEPELIAR – Berbicara perihal yajna, maka tentu tidak lepas dari sarana atau peralatan yang diharapkan dalam upacara yajna (korban suci). Sarana sanggup dikatakan sebagai penentu utama berhasil tidaknya suatu upacara yang dilaksanakan oleh umat Hindu. Sebab Sarana yakni media konsentrasi untuk sanggup mendekatkan diri dengan Brahman (Sang Hyang Widhi) serta manisfestasinya yang dipuja.

Selain dipakai sebagai media untuk menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, penggunggunaan sarana juga sanggup membuat korelasi serasi antara lingkungan, sesame manusia, tumbuh-tumbuhan, para pitara (roh suci leluhur) serta keharmonisan lainya dalam kehidupan di dunia ini. 

Setiap sarana yang dipakai dalam upacara yajna tentunya mempunyai arti, fungsi, dan makna masing-masing. Baik dari segi nilai kesucian, kemulian, dan nilai spiritual. Dari setiap sarana yang dipergunakan, tuntunya kita mempunyai suatu impian suci. Untuk itu, sangat penting untuk mengetahui setiap arti, fungsi dan makna dari setiap sarana yang dipergunakan dalam upacara yajna. Sebab tampa mengetahui, arti, fungsi dan makna dari setiap sarana yang digunakan, maka tidak mungkin impian kita sanggup tercapai menyerupai disebutkan dalam Manawa Dharmasastra 3.97:

“Nasyanti hawwyah kawyani naranamawijajanatam, bhasmi bhutesu wipresu mohad dattani datrbhid”

Terjemahan:

“Persembahan kepada Dewa dan Leluhur yang dilakukan oleh orang yang tidak tahu peratunyanya  yakni sia-sia, jika memberi alasannya yakni kebodohanya memperlihatkan bagianya kepada Brahmana, persembahannya tidak ada bedanya dengan abu.”

Dari sloka yang diambil dari Manawa Dharmasastra 3.97 diatas, sanggup disimpulkan bahwa wajib hukumnya untuk mengetahui tujuan dan makna upacara yajna yang dilaksanakan semoga tidak sia-sia. Untuk itu melalui artikel ini, mutiara hindu akan membahas arti, fungsi dan makna Air dalam upacara yajna.

Makna Dan Fungsi Air Dalam Upacara Yajna

Air dalam kehidupan sehari-hari merupakan sumber kehidupan bagi insan dan makhluk lainya menyerupai hewan dan tumbuh-tumbuhan. Dengan adanya air, maka insan sanggup hidup dengan bersih, sehat dan sanggup mencapai ketentraman. Penggunaan air dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari yang fungsinya air biasa disebut dengan odaka atau odakam.

Selain berfungsi sebagai sumber kehidupan, air juga mempunyai fungsi yang sangat penting dalam upacara yajna. Air dalam upacara yajna mempunyai fungsi yang sangat sacral, sehingga sering disebut air suci atau Tirta. Air suci dalam kitab Bhagavad Gita disebut Toyam atau toya. Toya/tirta yakni air suci yang secara khusus dipergunakan dalam kaitanya dengan upacara keagaman yang mempunyai kekuatan magis dan kekuatan eligius yang bersumber dari kekuatan Ida sang Hyang Widhi Wasa.

Menurut Drs. I Kt. Wiana: 91, dalam bukunya Arti dan Fungsi Sarana Persembahyangan, tirta sanggup juga diartikan permandian atau sungai, kesucian atau setitik air, toya atau air suci, sungai yang suci, permandian/ sungai/ air suci, kawasan perziarahan, mengunjungi tempat-tempat suci, bersuci dengan air, air suci, permandian, kawasan mandi atau kawasan yang sanggup disebrangi. Demikianlah ienjelasan singkat makna dan fungsi air  sebagai tirta dalam upacara yajna.

Selain berfungsi sebagai sarana dalam upacara yajna yang dipersembahkan kepada Tuhan, disisi lain air juga yakni anugra yang diberikan Tuhan ketika kita melakukan yajna (karma). Hal ini ditegaskan dalam Bhagavad Gita III.14 yang berbunyi demikian:

“Annad bhawanii bhutani, parjanyad annasamhawah, yajnad bhawanii parjanjo, yajnan eksekusi alam samudhhawan”.

Terjemahan:

“Adanya makhluk hidup alasannya yakni makanan, adanya masakan alasannya yakni hujan, adanya hujan alasannya yakni yajna, adanya yajna alasannya yakni karma”

Dari sloka Bhagavad Gita III.14 diatas, sanggup kita pahami bahwa air merupakan sarana yang diharapkan dalam ber-Yajna dan dengan yajna insan memohon anugra berupa air kehidupan berwujud air hujan sehingga insan menjadi sehat dan selamat.

Makna Tirta, dalam kaitannya dengan persembayangan dan sesudah menghanturkan sembah dilanjutkan dengan memohon, nunas tirta dengan ketentuan dipercikkan keseluruh tubuh masing-masing tiga kali, diminum tiga kali, dan diraupkan sebanyak tiga kali, yakni sebagai penyucian sabda, bayu dan idep.

Pemercikan tirta pada anggota tubuh bermakna untuk penyucian tubuh atau sthula sarira dengan tirta Kundalini. Tirta yang diminum bermakna penyucian kotoran dan perkataan atau suksma sarira (Tirta Kamandalu). Dan tirta pada ketika diraup bermakna kesucian dalam kekuatan hidup (Tirta Pawitra Jati).
Ketiga target pemercikan tirta tersebut di atas pada diri manusia, tentunya bermakna semoga insan memperoleh kesucian diri. Ada pun mantra yang dipakai yakni sebagai berikut:

Pada Saat Pemercikan Ke Badan

“Om Budha Pawitra ya namah, Om Budha Maha Tirta ya namah, Om Sanggya Maha Toya ya namah”

Pada Saat Diminum

“Om Brahma Pawaka, Om Wisnu Amerta, Om Iswara Jenyana”

Pada Saat Diraup

“Om Ciwa Sampuma ya namah, Om Sadha Ciwa na namah, Om Parama Ciwa ya namah”

Fungsi Tirta Dalam Upacara Yajna Agama Hindu

Memperhatikan perihal makna dan jenis-jenis air suci (baca postingan sebelumnya jenis-jenis air tirta dalam upacara yajna), sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, maka dalam klarifikasi berikutnya akan dijelaskann mengenai fungsi air suci atau Tirta yakni sebagai berikut:

1. Tirta Berfungsi sebagai Lambang Penyucian atau Pembersihan

Dalam yajna setiap sarana yang dipakai untuk persembahan terlebih dahulu disucikan semoga sanggup diterimah dengan penuh kesucian. Maka dalam hal ini yang menjadi sarana untuk menyucikanya bisanya dipakai sarana berupa air suci tirta, oleh alasannya yakni itu tirta sebagai langbang penyucian atau pembersihan. 

2. Tirta Berfungsi sebagai Pengurip Alam Penciptaan

Dikatakan sebagai pengurip alasannya yakni dengan memercikan tirta sebuah yajna menjadi persembahan yang mempunyai nilai spiritual dan menjadi suci adanya. Tirta juga sanggup memperlihatkan kehidupan pada Yajna yang kita persembahkan serta sanggup mempunyai nilai magis. Yajna yang suci sanggup mendatangkan dan menyatuhkan kehidupan insan dengan alam Tuhan atau dengan Hyang Pencipta. Dengan senyuguhkan persembahan seakan-akan Tuhan terasa hadir di hadapan yang menyembah-Nya. (Baca: Reg Weda Mandala I Sukta 3, sloka 10, 11 dan 12, Reg Weda Mandala I Sukta 5, sloka 6). Dalam Reg Weda ini menegaskan perihal fungsi tirta yang sekaligus menjadi sarana yang sanggup memperlihatkan daya cipta yang tinggi untuk mengundang kedatangan atau kehadiran Tuhan pada umatnya, sanggup membuat suasana, perilaku, perkataan dan pikiran yang serba suci menuju kepada keteranga yang abadi. (Susila. 2009:89)

3. Tirta Berfungsi sebagai Pemelihara

Semua orang tentunya mendambaka kenyamanan, ketenangan, kesejahteraan lahir dan batin. Termaksuk juga ciptaan dewa yang lainya membutuhan kesinambungan dan kelestarian. Antara satu kehidupan dengan kehidupan lainnya ada yang memelihara da nada yang dipelihara. Dengan demikian bahwa dalam dunia ini senantiasa ada kebersamaan antara yang satu dengan yang lainya. Misalnya insan sanggup hilang hausnya alasannya yakni air, pohon-pohan tidak layu alasannya yakni disiram dengan air, binatang-binatang hidup dengan nyaman alasannya yakni adanya air. Begitulah manfaat dan fungsi air bagi kehidupan ini. Dalam yajna bahwa air terutama tirta juga berfungsi sebagai pemelihara. Dalam Tri Murti, Dewa Wisnu sebagai penguasa air guna memelihara (stithi) semua ciptaan Tuhan, dan Dewa Indara sebagai penguasa hujan yang sanggup memperlihatkan air kehidupan dan air kesumburan pada semua makhluk hidup. (Baca: Reg Weda 1 pecahan kedua, 5,2, Reg Weda 1, 2, 5, 5, Reg Weda. XIII, 65,2)

Dalam mantra Reg Weda diatas dijelaskan bahwa Dewa Indra menganugrahkan air suci untuk memelihara kehidupan dan untuk menemukan kebahagiannya. Kemudian disebutkan juga perihal fungsi air sebagai pemelihara kehidupan.

Kalau diperhatikan secara umum , air sebagai sarana upacara agama dipergunakan sebagai berikut:
  1. Sebagai alat penyuci sarana upacara (tirta pembersih)
  2. Sebagai Tirta Amerta atau sumber kehidupan
  3. Sebagai wasuh pada yang disebut ancamannya dan padyargha
  4. Sebagai air penyuci roh orang meninggal dalam fungsinya sebagai tirta pengentas
  5. Sebagai air minum untuk tarpana dan juga keperluan minum sehari-hari.

Syarat Memohon Air Tirta

Dalam memperoleh air suci atau tirta, tentunya mempunyai ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi. Ada pun syarat-syarat memohon tirta air suci yakni sebagai berikut:
  1. Harus orang yang sudah higienis lahir batin. 
  2. Memakai pakaian yang khusus yang berafiliasi dengan hal-hal yang suci.
  3. Pemohon harus menghadap ke arah terbit matahari atau gunung setempat.
  4. Kedua tangan diangkat hingga ke atas kepala dengan memegang suatu kawasan khusus untuk tirta berisi bunga dalam air dan dupa sudah dinyatakan dipegang; (Upadesa:82)

Demikianlah beberapa uraian perihal makna dan fungsi air suci tirta sebagai sarana upacara umat hindu.

Reff:
Susila, I Nyoman, dkk. 2009. Materi Pokok Acara Agama Hindu. Jakarta: Depag RI Dirjen Bimas Hindu
Wijaya, I Gde._.Upacara Yajna Agama Hindu. _:_
Wiana, I Ketut. 1994. Air Dan Fungsi Sarana Persembahyangan. _:_
Bhagavad Gita III.14

Macam-Macam Jenis Air Suci Tirta Dalam Upacara Yajna Agama Hindu

DEPELIAR – Telah dibahas sebelumnya bahwa Tirtha ialah air suci yang dipergunakan oleh umat Hindu sebagai sarana persembahyangan. Air suci ini mempunyai nilai religius dan kekuatan magis dikarenakan telah diberi matra oleh para Sulinggi (pandita), Pemangku, atau balian atau Sang Yajmana.

Kemudian dalam Lontar Adi Parwa dikatakan bahwa tirta Amrta ialah air suci kehidupan yang infinit yang muncul dari Ksirarnawa ketika perputaran Gunung Mandara Giri. Air tirta ini mempunyai fungsi masih-masing sesuai dengan jenisnya menyerupai dalam penyucian, pengurip alam ciptaan, tirta sebagai pemelihara dan lain sebagainya. Apa pun jenis-jenis tirta tersebut ialah sebagai berikut:

Jenis-Jenis Air Suci Tirta

Dilihat dari cara memperolehnya, tirta sanggup dibedakan menjadi dua macam. Ada pun kedua macam tirta tersebut ialah sebagai berikut:
  1. Tirta atau air suci yang dibentuk sendiri oleh Pandita atau Sulinggih
  2. Tirta atau air suci yang diperoleh melalui memohon oleh pemangku/ dalang/ balian atau Sang Yajmana.

Jika kita perhatikan dalam kaitanya dengan Panca Yajna, maka jenis-jenis tirta sanggup dibedakan menjadi enam macam yaitu:
  1. Tirta pencucian yaitu air suci yang dipakai untuk mensucikan atau membersikan sarana (bebanten) upakara dan diri insan sebelum melaksanakan persembahyangan. Pada umumnya di akal-akalan tirtah pencucian diletakkan di depan pintu masuk atau di akrab daerah dupa dan sentang.
  2. Tirta pengelukatan yaitu air suci yang fungsinya dipakai pada penglukatan atau pensucian alat upacara, bangunan atau diri manusia. Selain itu tirtha ini, biasanya dipergunakan untuk mensucikan canang dan banten dengan cara percikan tiga kali. Tirta ini pada umumnya di sanggup dari para pandita dan telah di pasupati.
  3. Tirta Wangsuhpada juga disebut dengan banyun cokor atau kekuluh yaitu jenis tirta yang dipakai pada selesai persembahyangan. Tirta ini sebagai simbol sembah dan bhakti kita kepada Tuhan semoga diberikan anugra berupa air suci kebahagian.
  4. Tirta Pemanah yaitu yaitu jenis tirta yang dipakai pada dikala memandikan jenazah. Tirta ini diperoleh dari air suci pada dikala upakara Ngening.
  5. Tirta Penembak yaitu jenis tirta air suci yang dipakai dikala memandikan mayat yang maknanya mensucikan tubuh mayat secara lahir dan batin.
  6. Tirta Pengentas yaitu tirta yang fungsinya untuk tetapkan hubungan roh orang yang meninggal dengan badannya semoga cepat melupakan keduniawian. Tirta ini merupakan penentu utama berhasilnya suatu upacara ngaben. Tirta Pengentas pada umumnya dibentuk oleh sulinggih.

Kalau dilihat dari penggunaannya pada persembahyangan agama Hindu sehari-hari, tirta sanggup dibedakan menjadi tiga jenis diantanya:
  1. Tirtha Kundalini yaitu tirta yang dipercikan ke tubuh sebanyak tiga kali ketika persembahyangan.
  2. Tirtha Kamandalu yaitu tirta yang diminum.
  3. Tirtha Pawitra Jati yaitu tirta yang diraup ke muka atau kepala sebanyak tiga kali.

Kemudian dalam pustaka Purwa Bhumi, ada disebutkan lima jenis Tirtha yang terdapat di lima gunung atau Panca Giri, sebagai berikut:
  1. Tirtha Sveta Kamandalu di Gunung Indrakila, dijaga oleh Indra dan Sang Hyang Iswara atau Sadyijata
  2. Tirtha Ganga Hutasena di Gunung Gandharnadana, dijaga oleh Barna Dewa
  3. Tirtha Ganga Sudha-Mala di Gunung di Gunung Pgat atau Udaya, dijaga oleh Tatpurusa
  4. Tirtha Ganga Amrta-Sanjivani di Gunung Rsymukka di jaga oleh Aghora
  5. Tirtha Ganga Amrta-Jiva di Gunung Kailasa dijaga bersama Ardhanareswari.

Panca Tirtha tirta diatas sanggup diperoleh di lereng Panca Giri. Ada pun fungsinya ialah dipakai untuk menyucikan Bhuta dan Kala, terutama pada hari Raya Nyepi, dan juga dilakukan menjelang upacara-upacara penting lainya dalam rangkaian pelaksanaan Yajna umat Hindu.


Reff:
Tim Penyusun dan Peneliti Naskah. _.Weda Kuning 100-101.
Susila, I Nyoman, dkk. 2009. Materi Acara Agama Hindu. Jakarta: Depag RI Dirjen Bimas Hindu





Makna Dan Fungsi Bunga Dalam Upacara Yajna Agama Hindu

DEPELIAR – Pada pembahasan sebelumnya kita telah membahas mengenai arti, fungsi dan makna air serta api, kini kita akan membahas mengenai Makna dan Fungsi Bunga Dalam Upacara Yajna Agama Hindu. Bunga dalam bahasa latin berarti flos. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, Bunga ialah potongan tumbuhan yang akan menjadi buah, biasanya elok warnanya dan harum baunya. (kbbi. Kemdikbud. go. id Online. Diakses tanggal  20 Pebruari 2018, pukul 21:47 Wib)
Dalam aliran agama Hindu, bunga merupakan sarana yang sangat penting dan paling banyak kita jumpai dalam setiap persembahyangan (upacara yajna). Seperti contohnya dalam bebantenan. Baik dalam yajna waktu-waktu tertentu (naimitika karma) maupun dalam yajna nitya eksekusi alam (sehari-hari). Bunga juga digunakan oleh umat hindu sebagai hiasaan untuk mengindahkan tempat-tempat menyerupai pada kegiatan keluarga, masyarakat, hari nasional, pawiwahan, dan kunjungan ke tempat-tempat tertentu. Tentunya penggunaan bunga disini berfungsi supaya lingkungan sekitarnya menjadi nyaman.

Dalam kegiatan keagamaan umat hindu, bunga mempunyai nilai spiritual, religius dan nilai kesucian yang sangat tinggi. Tentunya, bunga yang digunakan disini, bukanlah Bunga asal sanggup atau asal ada, tetapi bunga pilihan sesuai dengan petunjuk kitab atau sastra suci Hindu. Sebab, bunga dalam agama hindu bermakna sebagai sarana untuk memberikan rasa hati dan bakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Hal ini dipertegas dalam kitab Bhagavad Gita IX.26 yang berbunyi:

“patram puspam phalam toyam, yo me bhaktya prayacchati, tad aham bhakti-upahrtam, asnami prayatatmanah”

Terjemahan:

“Kalau seorang mempersembahkan daun, bunga atau air dengan cinta bhakti, Aku akan menerimahnya”

Dari sloka diatas sanggup kita simpulkan bahwa seseorang dengan penuh ketulusan dan rasa bhakti kepada Tuhan, maka seseorang akan sanggup mencapai kebahagian tertinggi walaupun hanya dengan sarana persembahan bunga. Tak heran kalau dikatakan bahwa tanpa bunga suatu upacara umat hindu tidak akan sempurna. 

Puspa atau bunga disini merupakan wujud benda yang disuguhkan sebagai cara memperlihatkan perasaan yang sanggup memperlihatkan kepuasan. Puspa atau kembang merupakan sarana untuk memberikan cetusan hati dan rasa bhakti kepada Hyang Widhi Wasa yang mempersembhahkan Yajna sebagai wujud upakaranya. (Susila. 2009:96)

Kemudian di mantra Wedaparikrama terdapat mantra untuk bunga (puspa), aksata dan gandha yang berbunyi demikian:

“Om puspa-dantaya namah (puspa)
Om kum kumara wijaya naham (akcala).
Om cri gandhecwari-amertebhyo namah svaha (gandha)”

Mantra diatas mejelaskan bahwa puspa-danta ialah Siva (gelar untuk siwa). Artinya bahwa bunga yang digunakan untuk sembahyang, bukan hanya sebagai alat tetapi merupakan lambang dari Tuhan itu sendiri (Siwa). Seperti disebutkan dalam Reg Veda bahwa pada awal penciptaan Maha Purusa melaksanakan Yajna dengan mengorbankan diriNya sendiri. Dengan demikian segala isi alam semesta merupakan potongan dari Siva. Demikian pula dengan puspa merupakan lambing dari tuhan itu sendiri.
Catatan: Puspa yang dimaksud merupakan wujud dari Sang Hyang Puspadanta yaitu gelar Siva (Tuhan).

Dalam Website Parisada Hindu Dharma Indonesia ihwal Arti Sarana Persembahyangan dijelaskan bahwa bunga dalam agama Hindu mempunyai dua fungsi yakni bunga ialah simbol Tuhan (Siva) dan bunga sebagai sarana untuk sembahyang. Bunga sebagai simbol Tuhan digunakan ketiga sembahyang diletakan pada ujung tangan ketika menyembah (dalam Panca Sembah), sedangkan bunga sebagai sarana persembahyangan digunakan pada bebanten. Bunga dalam hal ini bermakna sebagai lambang ketulusan dan kesucian hati semba-bhakti kepada Tuhan.

Kemudian klarifikasi makna bunga juga terdapat di dalam Kitab Surya Sewana (Kitab pagelaran pandita), ketika pandita menciptakan air suci Tirta, puspa (bunga) ialah lambang Dewi Gangga dewanya tirtha. Kekawin Negara Kerthagama menjelaskan bahwa bunga digunakan sebagai penyucian Roh Leluhur dalam upacara Saradha sehingga Jiwatman sanggup Mur Amungsi Maring Siwa Buda Loka (jiwatman sanggup menyatu kea lam Siwa). 

Penjelasan lain juga terdapat di dalam Lontar Yajna Prakerti dikatakan bahwa bunga merupakan lambang ketulusan hati, keiklasan dan kedamaian menyerupai berikut:

“… Sekare Pinaka Katulusan Pikayunan Suci”.

Terjemahan:

“Bunga itu sebagai lambang ketulus-ikhlasan pikiran yang suci”

Kesimpulan

Bunga merupakan sarana pokok dalam upacara yajna agama Hindu yang berfungsi sebagai lambang restu tuhan, lambang jiwa dan alam pikiran. Bunga yang digunakan dalam upacara yajna harus memakai bunga yang anggun menyerupai bunga yang tidak dimakan ulat, bunga yang mekar, bunga yang tidak ada semutnya, bunga tidak layu dan bunga yang tidak berasal dari kuburan. (Kitab Agastya Parwa). Penjelasan selanjutnya akan dibahas pada goresan pena berikutnya ihwal jenis-jenis bunga yang baik untuk upacara yajna sesuai kitab suci Hindu.

Reff:

Susila, I Nyoman, dkk. 2009. Materi Acara Agama Hindu. Jakarta: Depag RI Dirjen Bimas Hindu.
Lontar Yajna Prakerti.
Bhagavad Gita Menurut Aslinya terjemahan Swami Prabhupada.

Pengertian Dan Makna Matur Piuning

DEPELIAR – Kita sering mendengar kata matur piuning, bahkan kita juga sering terlibat dalam program matur piuning, namun tahukah anda apa itu matur piuning? Untuk itu pada goresan pena ini, mutiara hindu akan menjelaskan pengertian dan makna pelaksanaan matur piunung. Hal ini sesuai dengan petunjuk weda yang menyampaikan bahwa tidak gunanya untuk melaksanakan suatu upacara jikalau kita tidak mengetahui apa makna dari upacara tersebut. 

 “Nasyanti hawwyah kawyani naranamawijajanatam, bhasmi bhutesu wipresu mohad dattani datrbhid”

Terjemahan:

“Persembahan kepada Dewa dan Leluhur yang dilakukan oleh orang yang tidak tahu peratunyanya  yaitu sia-sia, kalau memberi lantaran kebodohanya memperlihatkan bagianya kepada Brahmana, persembahannya tidak ada bedanya dengan abu.”

Dari sloka yang diambil dari Manawa Dharmasastra 3.97 diatas, sanggup disimpulkan bahwa wajib hukumnya untuk mengetahui tujuan dan makna matur piuning yang dilaksanakan supaya tidak sia-sia. 

Pengertian Matur Piuning

Secara etimologi matur piuning berasal dari bahasa Jawa Kuno dari kata Matur dan Piuning. Matur berarti menghadap, sedangkan Piuning yang artinya memberitahukan atau mengabarkan. Kaprikornus secara arti kata matur piuning yaitu menghadap untuk memberitahukan atau mengabarkan.

Lalu pertanyaannya siapa yang diberitahukan atau dikabarkan? Tentu kita harus memperhatikan daerah program matur piuning tersebut dilaksanakan. Dalam tradisi agama Hindu, matur piuning dilaksanakan ditempat suci menyerupai Pura, Candi dan lainnya. Matur piuning, dilaksanakan sebagai suatu upacara memohon restu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dan Para Batara atau leluhur supaya diberi keselamatan.

Matur piuning pada umumnya dilaksanakan ketika akan melaksanakan suatu kegiatan menyerupai tirtayatra, perjalanan liburan, melaksanakan suatu kegiatan menyerupai bazar, kuliah kerja aktual (KKN), melaksanakan pujawali, dikala ingin mengikuti suatu kegiatan, penerimaan siswa atau mahasiswa baru, ngaben dan lain sebagainya.

Makna Pelaksanaan Upacara Matur Piuning 

Ada pun makna dari pelaksanaan matur piuning yaitu supaya kegiatan yang dilaksanakan mendapatkan, kelancaran, keselamatan dan kesuksesan. Untuk itu, kita harus menghadap dan memberitahukan (matur piuning) kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa bahwa kita akan melaksanalan kegiatan.

Matur piuning juga bermakna sebagai simbol akan dimulainya suatu acara, alasannya dilaksanakan sebelum program atau kegiatan dilaksanakan.

Acara ini, dilaksanakan dengan mempersembahkan daksina, banten dan canang sari, lalu dipimpin oleh seorang pemangku atau pinandita sebagai mediator pesan yang diperlukan oleh orang yang akan melaksanakan matur piuning kepada Tuhan.

Pada umumnya program matur piuning diikuti oleh panitia atau orang yang akan berperan dalam program yang akan dilaksanakan. Salah satu teladan misalnya, Mahasiswa IHDN Denpasar akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Yang ikut dalam matur piuning yaitu panitia dan mahasiswa yang akan ikut dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Ada pun yang harus diperhatikan dalam melaksanakan matur piuning yaitu baik buruknya hari. Sebab, umat hindu percaya bahwa baik buruknya hari sangat memilih keberhasilan suatu upacara. Ini sanggup ditentukan menurut pananggal dan panglon, sasih, wuku dan dawu.  Selain itu, hari baik melaksanakan matur piuning juga sanggup dilakukan dengan meperhatikan hari-hari suci hindu menyerupai hari Purnama dan Tilem.

Kegiatan matur piuning dalam masyarakat Hindu khususnya Hindu Bali merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakan. Karena mereka percaya bahwa jikalau hal tersebut tidak dilaksanakan, maka akan terjadi musiba yang tidak diinginkan. Untuk itu majib hukumnya untuk melaksanakan matur piuning meminta restu dan bimbingan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa supaya kegiatan yang dilakukan sanggup berjalan dengan baik sesuai dengn rencana.

Reff:
Hasil wawancara mutiarahindu.com