Download Makalah Kebijakan Moneter

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas ke hadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Kebijakan Moneter ini tepat pada waktunya.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah Kebijakan Moneter ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah Kebijakan Moneter ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah Kebijakan Moneter ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi bagi kami dan pembaca pada umumnya.


Jakarta, 17 Agustus 1945


Penyusun



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Kebijakan Moneter
B. Jenis-jenis Kebijakan Moneter
1. Kebijakan Moneter Ekspansif (Monetary Expansive Policy)
2. Kebijakan Moneter Kontraktif (Monetary Contractive Policy)
C. Instrumen Kebijakan Moneter
1. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)
2. Fasilitas Diskonto (Discount Rate)
3. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)
4. Himbauan Moral (Moral Persuasion)
D. Tujuan Kebijakan Moneter
E. Target Kebijakan Moneter
F. Indikator Kebijakan Moneter
1. Tingkat Suku Bunga
2. Uang Beredar (Monetary Aggregate)
G. Kerangka Kebijakan Moneter
H. Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter
I. Jalur Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter
1. Jalur Suku Bunga
2. Jalur Nilai Tukar
3. Jalur Kredit
4. Jalur Harga Aset
5. Jalur Ekspektasi Inflasi
J. Variabel dalam Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter
1. Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia
2. Suku Bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB)
3. Suku Bunga Deposito
4. Suku Bunga Kredit
5. Investasi
6. Nilai Tukar
7. Capital Inflow
8. Interest Rate Differentials
9. Ekspor Neto
10. Output Gap
11. Inflasi
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu gambaran mengenai dampak kebijakan pemerintah yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan laju pertumbuhan yang dibentuk dari berbagai macam sektor ekonomi yang secara tidak langsung menggambarkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terjadi.

Untuk dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi stabil tidaklah pekerjaan yang mudah untuk dilaksanakan, ini ibaratnya mata uang dua sisi, kadang dicapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi tapi tidak stabil. Untuk mencapai inilah diperlukan kebijakan moneter. Kebijakan moneter bertujuan mengarahkan perekonomian makro ke kondisi yang lebih baik dan atau diinginkan. Kondisi-kondisi tersebut diukur dengan menggunakan indikator-indikator makro utama seperti terpeliharanya pertumbuhan ekonomi yang baik, stabilitas harga umum yang terkendali, dan menurunnya tingkat pengangguran.

Sesuai dengan kondisi perekonomian masyarakat Indonesia yang kegiatannya bertumpu pada aset keuangan kredit perbankan, maka pemerintah perlu melaksanakan kebijakan moneter melalui pengelolaan atau pengaturan sistem perkreditan secara dinamis, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi struktur potensi ekonomi masyarakat daerah (resource base) yang akan digerakkan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

Apa definisi kebijakan moneter?

Apa saja jenis-jenis kebijakan moneter?

Bagaimana instrumen kebijakan moneter?

Apa tujuan kebijakan moneter?

Apa target kebijakan moneter?

Bagaimana indikator kebijakan moneter?

Bagaimana kerangka kebijakan moneter?

Bagaimana mekanisme transmisi kebijakan moneter?

Bagaimana jalur mekanisme transmisi kebijakan moneter?

Bagaimana variabel dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter adalah proses mengatur persediaan uang sebuah negara untuk mencapai tujuan tertentu; seperti menahan inflasi, mencapai pekerja penuh atau lebih sejahtera. Kebijakan moneter dapat melibatkan mengeset standar bunga pinjaman, “margin requirement”, kapitalisasi untuk bank atau bahkan bertindak sebagai peminjam usaha terakhir atau melalui persetujuan melalui negosiasi dengan pemerintah lain.

Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang seimbang. Apabila kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu, maka kebijakan moneter dapat dipakai untuk memulihkan (tindakan stabilisasi). Pengaruh kebijakan moneter pertama kali akan dirasakan oleh sektor perbankan, yang kemudian ditransfer pada sektor riil.

Kebijakan moneter adalah upaya untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kestabilan harga. Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali, tercapai kesempatan kerja penuh dan kelancaran dalam pasokan/distribusi barang. Kebijakan moneter dilakukan antara lain dengan salah satu namun tidak terbatas pada instrumen sebagai berikut yaitu suku bunga, giro wajib minimum, intervensi di pasar valuta asing, dan sebagai tempat terakhir bagi bank-bank untuk meminjam uang apabila mengalami kesulitan likuiditas.

B. Jenis-jenis Kebijakan Moneter

Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:

1. Kebijakan Moneter Ekspansif (Monetary Expansive Policy)

Kebijakan moneter ekspansif (monetary expansive policy) adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang beredar. Kebijakan ini dilakukan untuk mengatasi pengangguran dan meningkatkan daya beli masyarakat (permintaan masyarakat) pada saat perekonomian mengalami resesi atau depresi. Kebijakan ini disebut juga kebijakan moneter longgar (easy money policy).

2. Kebijakan Moneter Kontraktif (Monetary Contractive Policy)

Kebijakan moneter kontraktif (monetary contractive policy) adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan ini dilakukan pada saat perekonomian mengalami inflasi. Kebijakan ini disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy).

C. Instrumen Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter, yaitu antara lain:

1. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)

Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government securities). Jika ingin menambah jumlah uang beredar, pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah. Namun, bila ingin jumlah uang yang beredar berkurang, maka pemerintah akan menjual surat berharga pemerintah kepada masyarakat. Surat berharga pemerintah antara lain diantaranya adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan SBPU atau singkatan atas Surat Berharga Pasar Uang.

2. Fasilitas Diskonto (Discount Rate)

Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah uang yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral pada bank umum. Bank umum kadang-kadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah, pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral, serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang.

3. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)

Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk menambah jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk menurunkan jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan rasio.

4. Himbauan Moral (Moral Persuasion)

Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti menghimbau perbankan pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian.

D. Tujuan Kebijakan Moneter

Bank Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Tujuan ini sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 Pasal 7 tentang Bank Indonesia. Hal yang dimaksud dengan kestabilan nilai rupiah antara lain adalah kestabilan terhadap harga-harga barang dan jasa yang tercermin pada inflasi. Untuk mencapai tujuan tersebut, sejak tahun 2005 Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter dengan inflasi sebagai sasaran utama kebijakan moneter (inflation targeting framework) dengan menganut sistem nilai tukar yang mengambang (free floating). Peran kestabilan nilai tukar sangat penting dalam mencapai stabilitas harga dan sistem keuangan.

Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk melakukan kebijakan moneter melalui penetapan sasaran-sasaran moneter (seperti uang beredar atau suku bunga) dengan tujuan utama menjaga sasaran laju inflasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Secara operasional, pengendalian sasaran-sasaran moneter tersebut menggunakan instrumen-instrumen, antara lain operasi pasar terbuka di pasar uang baik rupiah maupun valuta asing, penetapan tingkat diskonto, penetapan cadangan wajib minimum, dan pengaturan kredit atau pembiayaan. Bank Indonesia juga dapat melakukan cara-cara pengendalian moneter berdasarkan Prinsip Syariah.

E. Target Kebijakan Moneter

Target akhir sebuah kebijakan moneter adalah suatu kondisi ekonomi makro yang ingin dicapai. Target akhir tersebut tidak sama dari satu negara dengan negara lainnya serta tidak sama dari waktu ke waktu. Target kebijakan moneter tidak statis, namun bersifat dinamis karena selalu disesuaikan dengan kebutuhan perekonomian suatu negara. Akan tetapi, kebanyakan negara menetapkan empat hal yang menjadi ultima target dari kebijakan moneter, yaitu pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan, kesempatan kerja, kestabilan harga, dan keseimbangan neraca pembayaran.

Idealnya, semua sasaran perekonomian tersebut dapat dicapai secara serentak dan optimal. Namun, karena usaha-usaha untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut dapat menimbulkan dampak yang kontradiktif, sangat sulit untuk mencapai semua sasaran dengan serempak dan optimal.

Menyadari adanya hal yang bertolak belakang tersebut, otoritas moneter biasanya harus memilih berbagai alternatif yang memungkinkan dan menguntungkan. Alternatif pertama adalah memilih salah satu sasaran untuk dicapai secara optimal dan mengabaikan sasaran lainnya. Alternatif kedua adalah mengupayakan untuk mencapai semua target dengan risiko tidak ada satu pun yang tercapai secara optimal. Alternatif ini dipilih dengan alasan karena semua indikator yang menjadi target kebijakan ekonomi itu sama pentingnya.

Betapa pentingnya semua target itu membuat kebijakan moneter yang diambil oleh suatu negara bukanlah sebuah langkah mudah. Namun, sejalan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia dan telah direvisi dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004, tujuan Bank Indonesia telah bersifat tunggal, yaitu menjaga kestabilan harga atau inflasi.

F. Indikator Kebijakan Moneter

Di dalam proses pencapaian sasaran kebijakan moneter, sering dihadapkan dengan gejolak perkembangan perekonomian yang menghambat sasaran yang ditetapkan. Sehubungan dengan itu, diperlukan indikator (sasaran antara) yang dapat memberi petunjuk apakah perkembangan moneter tetap terarah pada usaha pencapaian sasaran akhir yang ditetapkan atau tidak. Indikator tersebut umumnya dua hal, yakni suku bunga dan atau uang beredar. Dengan demikian, kedua variabel tersebut mempunyai dua fungsi, yakni sebagai sasaran menengah dan indikator.

1. Tingkat Suku Bunga

Kebijakan moneter yang menggunakan suku bunga sebagai sasaran antara akan menetapkan tingkat suku bunga yang ideal untuk mendorong kegiatan investasi. Apabila suku bunga menunjukkan kenaikan melampaui angka yang ditetapkan, bank sentral akan segera melakukan ekspansi moneter agar suku bunga turun sampai pada tingkat yang ditetapkan tersebut, dan begitu sebaliknya.

2. Uang Beredar (Monetary Aggregate)

Kebijakan moneter yang menggunakan monetary aggregate atau uang beredar sebagai sasaran menengah mempunyai dampak positif berupa tingkat harga yang stabil. Apabila terjadi gejolak dalam jumlah besaran moneter, yaitu melebihi atau kurang dari jumlah yang ditetapkan, bank sentral akan melakukan kontraksi atau ekspansi moneter sedemikian rupa sehingga besaran moneter akan tetap pada suatu jumlah yang ditetapkan.

G. Kerangka Kebijakan Moneter

Dalam melaksanakan kebijakan moneter, Bank Indonesia menganut sebuah kerangka kerja yang dinamakan Inflation Targeting Framework (ITF). Kerangka kerja ini diterapkan secara formal sejak Juli 2005, setelah sebelumnya menggunakan kebijakan moneter yang menerapkan uang primer (base money) sebagai sasaran kebijakan moneter. Dengan kerangka ini, Bank Indonesia secara eksplisit mengumumkan sasaran inflasi kepada publik dan kebijakan moneter diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan oleh pemerintah tersebut.

Untuk mencapai sasaran inflasi, kebijakan moneter dilakukan secara forward looking, artinya perubahan stance kebijakan moneter dilakukan melalui evaluasi apakah perkembangan inflasi ke depan masih sesuai dengan sasaran inflasi yang telah dicanangkan. Dalam kerangka kerja ini, kebijakan moneter juga ditandai oleh transparansi dan akuntabilitas kebijakan kepada publik. Secara operasional, stance kebijakan moneter dicerminkan oleh penetapan suku bunga kebijakan (BI Rate) yang diharapkan akan memengaruhi suku bunga pasar uang dan suku bunga deposito dan suku bunga kredit perbankan. Perubahan suku bunga ini pada akhirnya akan memengaruhi output dan inflasi.

H. Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter

Mengingat kompleksitasnya, dalam teori ekonomi moneter, mekanisme transmisi kebijakan moneter sering disebut “black box”, karena transmisi dimaksud banyak dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:

Perubahan perilaku bank sentral, perbankan, dan para pelaku ekonomi dalam berbagai aktivitas ekonomi dan keuangannya;

Lamanya tenggat waktu (time lag) sejak tindakan otoritas moneter sampai pada akhir tercapai;

Terjadinya perubahan pada saluran-saluran transmisi moneter itu sendiri sesuai dengan perkembangan ekonomi dan keuangan di negara yang bersangkutan.

Menurut teori moneter Keynes tradisional, mekanisme transmisi (pemindahan) merupakan mekanisme yang memindahkan dorongan-dorongan dari sektor moneter ke sektor riil. Dalam literatur ekonomi moneter, kajian mengenai mekanisme transmisi kebijakan moneter pada awalnya mengacu peranan uang dalam perekonomian, yang pertama kali dijelaskan oleh Quantity Theory of Money (Teori Kuantitas Uang). Teori ini pada dasarnya menggambarkan analisis hubungan langsung yang sistematis antara pertumbuhan jumlah uang yang beredar dengan inflasi, yang dinyatakan dalam suatu identitas yang dikenal sebagai “The Equation of Exchange”. MV = PT

Di mana jumlah uang beredar (M) dikalikan dengan tingkat perputaran uang (V) sama dengan volume output atau transaksi ekonomi secara riil (T) dikalikan dengan tingkat harga (P). Dengan kata lain, dalam keseimbangan, jumlah uang beredar yang digunakan dalam seluruh kegiatan transaksi ekonomi (MV) sama dengan jumlah output, yang dihitung dengan harga yang berlaku, ditransaksikan (PT).

I. Jalur Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter

1. Jalur Suku Bunga

Mekanisme transmisi melalui jalur suku bunga menekankan bahwa pentingnya aspek harga di pasar keuangan terhadap berbagai aktivitas ekonomi di sektor riil. Oleh karena itu, kebijakan moneter yang ditempuh bank sentral akan berpengaruh terhadap perkembangan berbagai suku bunga di sektor keuangan dan akan berpengaruh pada tingkat inflasi dan output riil.

2. Jalur Nilai Tukar

Pendekatan mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui jalur nilai tukar, sama seperti jalur suku bunga, menekankan pentingnya aspek perubahan harga aset finansial terhadap berbagai aktivitas perekonomian. Dalam kaitan ini, pentingnya jalur nilai tukar dalam transmisi kebijakan moneter terletak pada pengaruh aset finansial dalam valuta asing yang berasal dari hubungan kegiatan ekonomi suatu negara dengan negara lain. Pengaruhnya bukan saja terjadi pada perubahan nilai tukar, tetapi juga pada aliran dana yang masuk dan keluar suatu negara yang terjadi, antar lain karena aktivitas perdagangan antarnegara dan aliran modal investasi, seperti tercermin pada neraca pembayaran.

3. Jalur Kredit

Mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui jalur kredit berasumsi bahwa fungsi intermediasi perbankan tidak selalu berjalan normal, sehingga yang lebih berpengaruh terhadap ekonomi riil adalah kredit perbankan. Selain dana yang tersedia, perilaku penawaran kredit perbankan juga dipengaruhi oleh persepsi bank terhadap prospek usaha debitur dan kondisi perbankan itu sendiri seperti permodalan (CAR), jumlah kredit macet, Loan to Deposit Ratio (LDR). Selain itu, tidak semua permintaan kredit debitur dapat dipenuhi oleh bank, khususnya karena kondisi keuangan debitur yang dinilai oleh bank tidak feasible antara lain karena tingginya rasio utang terhadap modal (leverage), risiko kredit macet, moral hazard, dan sebagainya.

4. Jalur Harga Aset

Kebijakan moneter berpengaruh terhadap perkembangan harga-harga aset lain, baik harga aset finansial seperti yield obligasi dan harga saham, maupun harga aset fisik khususnya harga aset properti dan emas. Transmisi ini terjadi karena penanaman dana oleh para investor dalam portofolio investasinya tidak saja berupa simpanan di bank dan instrumen lainnya di pasar uang rupiah dan valuta asing, tetapi juga bentuk obligasi, saham, dan aset fisik. Dengan demikian, perubahan suku bunga dan nilai tukar maupun besarnya investasi di pasar uang rupiah dan valuta asing akan berpengaruh pula terhadap volume dan harga obligasi, saham, dan aset fisik tersebut.

5. Jalur Ekspektasi Inflasi

Mekanisme transmisi melalui jalur ekspektasi menekankan bahwa kebijakan moneter dapat diarahkan untuk mempengaruhi pembentukan ekspektasi mengenai inflasi dan kegiatan ekonomi. Kondisi tersebut mempengaruhi perilaku agen-agen ekonomi dalam melakukan keputusan konsumsi dan investasi, yang pada gilirannya akan mendorong perubahan permintaan agregat dan inflasi. Dalam konteks kebijakan moneter, yang paling diperhatikan adalah ekspektasi inflasi oleh masyarakat. Teori ekspektasi berpendapat bahwa apabila masyarakat cukup rasional, mereka akan mengambil tindakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya inflasi.

J. Variabel dalam Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter

1. Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia

Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah surat berharga dalam mata uang rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek. Suku Bunga SBI dihitung menggunakan metode rata-rata tertimbang dengan membobot suku bunga dengan volume transaksi SBI di masing-masing suku bunga yang tidak melebihi SOR pada setiap periode lelang. Stop-out Rate (SOR) adalah tingkat diskonto tertinggi yang dihasilkan dari lelang dalam rangka mencapai target kuantitas SBI yang akan diterbitkan oleh Bank Indonesia.

2. Suku Bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB)

Pasar Uang Antar Bank (PUAB) merupakan kegiatan pinjam meminjam dana antara satu bank dengan bank lainnya. Bank yang kelebihan dana (surplus unit) akan meminjamkan dananya kepada bank yang kekurangn dana (deficit unit). Sebagai kompensasi, bank pemberi pinjaman akan mengenakan suku bunga tertentu. Suku bunga itulah yang disebut suku bunga pasar uang antar bank.

3. Suku Bunga Deposito

Menurut teori klasik tabungan merupakan fungsi dari tingkat bunga di mana pergerakan tingkat bunga pada perekonomian akan mempengaruhi tabungan yang terjadi. Berarti keinginan masyarakat untuk menabung sangat bergantung pada tingkat bunga. Makin tinggi tingkat bunga, semakin besar keinginan masyarakat untuk menabung atau masyarakat akan terdorong untuk mengorbankan pengeluarannya guna menambah besarnya tabungan. Jadi, tingkat bunga menurut klasik adalah balas jasa yang diterima seseorang karena menunda konsumsinya. Pendapat klasik ini didasarkan kepada hukum Say (pendapat Baptis Say) bahwa penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri.

4. Suku Bunga Kredit

Suku bunga kredit adalah bunga yang diberikan kepada para peminjam atau harga yang harus dibayar oleh nasabah peminjam kepada bank.

5. Investasi

Investasi merupakan salah satu komponen yang penting dalam pendapatan nasional. Teori investasi hendak menjelaskan faktor-faktor atau variabel yang mempengaruhi investasi. Teori tentang investasi yang dikemukakan oleh para pakar ekonomi di antaranya adalah teori Keynes. Teori ini membahas tentang anggaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi. Keynes mengatakan bahwa untuk memengaruhi jalannya perekonomian, pemerintah dapat memperbesar anggaran pengeluaran saat perekonomian mengalami kelesuan sehingga lapangan pekerjaan meningkat dan akhirnya pendapatan riil masyarakat juga akan mengalami peningkatan. Perubahan yang diakibatkan oleh pengeluaran pemerintah akan berpengaruh pada besarnya pendapatan nasional selanjutnya akan menimbulkan perubahan pada golongan pengeluaran tertentu dan pada akhirnya pendapatan nasional akan bertambah.

6. Nilai Tukar

Nilai tukar suatu mata uang didefinisikan sebagai harga relatif dari suatu mata uang terhadap mata uang lainnya. Pada dasarnya terdapat tiga sistem nilai tukar, yaitu:

Fixed exchange rate “sistem nilai tukar tetap”,

Managed floating exchange rate “sistem nilai tukar mengambang terkendali”, dan

Flating exchange rate “sistem nilai tukar mengambang”.

Pada sistem nilai tukar tetap, nilai tukar atau kurs suatu mata uang terhadap mata uang lain ditetapkan pada nilai tertentu. Pada nilai tukar ini bank sentral akan siap untuk menjual atau membeli kebutuhan devisa untuk mempertahankan nilai tukar yang ditetapkan.

7. Capital Inflow

Capital inflow merupakan bagian dari transaksi modal. Transaksi modal biasanya berada pada neraca pembayaran.

8. Interest Rate Differentials

Interest rate differentials yang dimaksud dalam hal ini adalah selisih antara suku bunga dalam negeri dengan suku bunga internasional. Di Indonesia, penurunan dan kenaikan tingkat bunga di dalam negeri ini sejalan dengan kebijakan Bank Indonesia untuk mengupayakan perbedaan selisih antara tingkat suku bunga domestik dengan suku bunga internasional. Berada pada tingkat yang wajar, guna mengurangi ekspansi moneter yang berasal dari aliran modal masuk, terutama yang berjangka pendek.

9. Ekspor Neto

Transaksi barang dan jasa merupakan transaksi yang meliputi ekspor maupun impor barang-barang dan jasa, disebut pula transaksi berjalan. Ekspor barang meliputi barang-barang yang biasa dilihat secara fisik, seperti minyak, kayu, tembakau, timah. Ekspor jasa seperti penjualan jasa-jasa angkutan, turisme, dan asuransi. Dalam transaksi jasa ini, termasuk juga pendapatan dari investasi kapital di luar negeri. Ekspor barang-barang dan jasa merupakan transaksi kredit sebab transaksi ini menimbulkan hak untuk menerima pembayaran (menyebabkan terjadinya aliran dana masuk). Impor barang-barang meliputi misalnya: barang-barang konsumsi, bahan mentah untuk industri dan kapital, sedang impor jasa meliputi pembelian jasa-jasa dari negara-negara lain.

10. Output Gap

Pendapatan nasional merupakan nilai pasar dari semua barang jadi dan jasa yang diproduksi di suatu negara selama kurun waktu tertentu. Dalam perhitungan pendapatan diketahui beberapa metode yaitu metode pendapatan, metode produksi, dan metode pengeluaran.

11. Inflasi

Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Kebijakan moneter adalah upaya untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kestabilan harga. Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali, tercapai kesempatan kerja penuh dan kelancaran dalam pasokan/distribusi barang. Kebijakan moneter dilakukan antara lain dengan salah satu namun tidak terbatas pada instrumen sebagai berikut yaitu suku bunga, giro wajib minimum, intervensi di pasar valuta asing dan sebagai tempat terakhir bagi bank-bank untuk meminjam uang apabila mengalami kesulitan likuiditas.

Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang seimbang. Apabila kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu, maka kebijakan moneter dapat dipakai untuk memulihkan (tindakan stabilisasi). Pengaruh kebijakan moneter pertama kali akan dirasakan oleh sektor perbankan, yang kemudian ditransfer pada sektor riil.

B. Saran

Bank Indonesia hendaknya meninggalkan quantity base approach (M1) beralih ke instrumen lain. Hal ini seiring lemahnya pengaruh pertumbuhan Jumlah Uang Beredar (M1) terhadap inflasi.


DAFTAR PUSTAKA

Boediono. 1991. Ekonomi Makro. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Nanga, Muana. 2005. Makro Ekonomi: Teori, Masalah dan Kebijakan. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa
Natsir, M. 2011. Analisis Empiris Efektivitas Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter Di Indonesia Melalui Jalur Suku Bunga (Interest Rate Channel). Kendari: Unhalu.
Pohan, Aulia. 2008. Kerangka Kebijakan Moneter dan Implikasinya di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Warjiyo, Perry. 2004. Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter di Indonesia. Jakarta: Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan BI.

Download Makalah Kebijakan Fiskal

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas ke hadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Kebijakan Fiskal ini tepat pada waktunya.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah Kebijakan Fiskal ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah Kebijakan Fiskal ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi bagi kami dan pembaca pada umumnya.


Jakarta, 17 Agustus 1945

Penyusun


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Kebijakan Fiskal
B. Teori Kebijakan Fiskal
1. Teori Pembiayaan Fungsional
2. Teori Pengelolaan Anggaran
3. Teori Stabil Otomatis
C. Macam-macam Kebijakan Fiskal
1. Kebijakan Anggaran Surplus
2. Kebijakan Anggaran Defisit
1. Kebijakan Anggaran Berimbang
D. Orientasi Kebijakan Fiskal
E. Tujuan Kebijakan Fiskal
1. Mencegah dan Mengurangi Tingkat Pengangguran
2. Mempertahankan Stabilitas Harga
3. Memacu Pertumbuhan Ekonomi Negara
4. Mendorong Lajunya Investasi
5. Untuk Mewujudkan Keadilan Sosial
F. Fungsi Kebijakan Fiskal
1. Mengoptimalkan Penggunaan SDM dan SDA
2. Mengoptimalkan Kegiatan Investasi
G. Instrumen Kebijakan Fiskal
1. Anggaran Belanja Seimbang
2. Pembiayaan Fungsional
3. Anggaran Defisit atau Kebijakan Fiskal Ekspansif
4. Anggaran Surplus atau Kebijakan Fiskal Kontraktif
5. Stabilitas Anggaran Otomatis
6. Pengelolaan Anggaran
H. Indikator Kebijakan Fiskal
I. Langkah-langkah Mengatasi Inflasi Melalui Kebijakan Fiskal
J. Hubungan Antara Kebijakan Fiskal dan Pembangunan
K. Pokok-pokok Kebijakan Fiskal
1. Arah Kebijakan Fiskal dalam APBN
2. Strategi kebijakan fiskal dalam APBN
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebijakan fiskal adalah kebijakan pemerintah dalam bidang anggaran dan belanja negara yang bertujuan untuk mempengaruhi jalannya perekonomian, bukan semata-mata kebijakan dalam bidang perpajakan, akan tetapi menyangkut bagaimana mengelola pemasukan dan pengeluaran negara untuk mempengaruhi perekonomian. Kebijakan fiskal memiliki tujuan yang persis dengan kebijakan moneter. Perbedaan tersebut terletak pada instrumen kebijakan yang diterapkannya, yaitu dalam kebijakan moneter pemerintah mengendalikan jumlah uang yang beredar, sedangkan dalam kebijakan fiskal pemerintah mengendalikan penerimaan dan pengeluarannya.

Kebijakan ekonomi suatu negara tidak bisa lepas dari campur tangan pemerintah, karena pemerintah memegang kendali atas segala sesuatu yang menyangkut semua kebijakan yang bermuara kepada keberlangsungan negara itu sendiri. Kebijakan ekonomi sangat beragam dan bermacam-macam pula kebijakannya. Oleh sebab itu, pemerintah wajib menganut salah satu kebijakan ekonomi sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan pemerintah. Apa pun sistem ekonomi yang dianut pemerintah, maka itulah sistem ekonomi yang terbaik bagi perekonomian rakyat, meskipun nantinya dalam perjalanannya memiliki berbagai kelemahan.

Kebijakan ekonomi pasti memiliki fenomena yang berdampak positif dan negatif, salah satu dampak negatif yang sering terjadi adalah inflasi. Inflasi merupakan fenomena yang timbul akibat banyaknya jumlah uang yang beredar, kenaikan biaya produksi, besarnya tarikan permintaan dari konsumen, dan adanya inflasi tularan dari luar negeri. Akibatnya akan mempengaruhi perekonomian di dalam negeri dan semakin bertambahnya pengangguran. Selain dampak negatif kebijakan ekonomi, juga memiliki dampak positifnya, yaitu memudahkan pemerintah untuk mengatur perekonomian dan anggaran pembelanjaan negara. Sehingga, dengan kebijakan ini maka hasil yang didapatkan digunakan untuk keperluan di dalam negeri dan keperluan rakyat.

B. Rumusan Masalah

Apa definisi kebijakan fiskal?

Bagaimana teori kebijakan fiskal?

Apa saja macam-macam kebijakan fiskal?

Bagaimana orientasi kebijakan fiskal?

Apa tujuan kebijakan fiskal?

Apa saja fungsi kebijakan fiskal?

Bagaimana instrumen kebijakan fiskal?

Bagaimana indikator kebijakan fiskal?

Langkah-langkah apa saja untuk mengatasi inflasi melalui kebijakan fiskal?

Bagaimana hubungan antara kebijakan fiskal dan pembangunan?

Apa saja pokok-pokok kebijakan fiskal?



BAB II 
PEMBAHASAN

A. Definisi Kebijakan Fiskal

Kebijakan fiskal merupakan salah satu kebijakan ekonomi makro yang otoritas utamanya berada di tangan pemerintah dan diwakili oleh Kementerian Keuangan. Hal tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, yang menyebutkan bahwa presiden memberikan kuasa pengelolaan keuangan dan kekayaan negara kepada Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal dan wakil pemerintah dalam pemilikan kekayaan negara yang dipisahkan. Kebijakan fiskal umumnya merepresentasikan pilihan-pilihan pemerintah dalam menentukan besarnya jumlah pengeluaran atau belanja dan jumlah pendapatan, yang secara eksplisit digunakan untuk mempengaruhi perekonomian. Dalam tataran praktisnya dimanifestasikan melalui anggaran pemerintah, yang di Indonesia lebih dikenal dengan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).

Kebijakan fiskal memiliki berbagai tujuan dalam menggerakkan aktivitas ekonomi negara, yaitu peningkatan pertumbuhan ekonomi, kestabilan harga, pemerataan pendapatan. Namun demikian, dampak kebijakan kepada aktivitas ekonomi negara sangatlah luas. Berbagai indikator ekonomi lainnya pun mengalami perubahan sebagai akibat pelaksanaan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. Dampak kebijakan kepada pertumbuhan ekonomi diharapkan selalu positif, sedangkan dampak kepada inflasi diharapkan negatif. Namun secara teori, kebijakan fiskal mengembang yang dilakukan dengan peningkatan pengeluaran pemerintah tanpa terjadinya peningkatan sumber pajak, sebagai sumber keuangan utama pemerintah, akan mengakibatkan peningkatan defisit anggaran.

Kebijakan fiskal adalah langkah-langkah pemerintah untuk mengelola pengeluaran dan perpajakan atau penggunaan instrumen-instrumen fiskal untuk mempengaruhi bekerjanya sistem ekonomi agar memaksimumkan kesejahteraan ekonomi. Kebijakan fiskal sering didefinisikan sebagai pengelolaan anggaran pemerintah untuk mempengaruhi suatu perekonomian, termasuk kebijakan perpajakan yang dipungut dan dihimpun, pembayaran transfer, pembelian barang-barang dan jasa-jasa oleh pemerintah, serta ukuran defisit dan pembiayaan anggaran, yang mencakup semua level pemerintahan.

B. Teori Kebijakan Fiskal

1. Teori Pembiayaan Fungsional

Teori ini dikemukakan oleh A.P. Lerner, menurutnya anggaran itu berupa pembiayaan yang dilakukan pemerintah dan tidak berpengaruh langsung terhadap pendapatan nasional serta bertujuan pada perluasan kesempatan kerja. Dalam teori ini pajak tidak perlu ditarik saat tingkat pengangguran tinggi karena dapat mengurangi peluang terciptanya lapangan kerja baru. Adapun inflasi akan diatasi dengan pinjaman pemerintah.

2. Teori Pengelolaan Anggaran

Dalam teori pengelolaan anggaran, disebutkan bahwa penerimaan dari pajak atau pinjaman serta pengeluaran negara merupakan suatu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dalam rangka mewujudkan perekonomian yang mantap dan stabil. Menurut Alvin Hansen yang mengemukakan teori ini, saat deflasi di mana harga-harga menjadi murah karena orang tidak memiliki daya beli. Hal ini menyebabkan perekonomian menjadi lesu.

3. Teori Stabil Otomatis

Kebijakan anggaran harus mengatur pengeluaran pemerintah. Hal ini dilihat dari perbandingan antara hasil dan biaya yang dikeluarkan untuk suatu proyek pembangunan yang akan dibiayai dengan APBN. Dengan demikian keseimbangan anggaran dapat terjadi dengan sendirinya.

C. Macam-macam Kebijakan Fiskal

1. Kebijakan Anggaran Surplus

Kebijakan anggaran surplus merupakan kebijakan di mana pemerintah tidak menggunakan seluruh pendapatan untuk pengeluaran sehingga akan menambah tabungan pemerintah. Kebijakan ini dapat berfungsi untuk mengatasi inflasi. Dengan adanya inflasi, harga menjadi naik karena uang lebih banyak dibandingkan dengan barang, sedangkan kebijakan surplus menekankan pengeluaran pemerintah yang pada gilirannya juga mengurangi permintaan barang dan jasa secara agregat (total). Hal inilah yang dapat menyebabkan inflasi turun.

2. Kebijakan Anggaran Defisit

Kebijakan anggaran defisit merupakan kebalikan dari kebijakan anggaran surplus. Kebijakan ini didasarkan atas pengeluaran yang lebih besar daripada pendapatan. Kekurangan akan pendapatan ini biasanya akan diatasi dengan sebuah pinjaman, baik itu pinjaman dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Kebijakan anggaran defisit ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

1. Kebijakan Anggaran Berimbang

Kebijakan berimbang adalah bentuk anggaran di mana realisasi pendapatan negara sama dengan besarnya jumlah realisasi pengeluaran atau belanja negara. Melalui kebijakan ini pemerintah menyesuaikan pengeluaran dan belanjanya. Hal ini disesuaikan dengan penerimaan yang dimiliki negara sehingga antara penerima dan pengeluaran sama dan berimbang. Kebijakan anggaran berimbang memiliki kekurangan. Kekurangannya adalah ketika deflasi, di mana uang yang beredar lebih sedikit dari kebutuhan masyarakat, harga, produksi, dan investasi turun sehingga kegiatan ekonomi turun. Anggaran belanja yang turun menyebabkan kegiatan ekonomi juga turun sehingga pertumbuhan ekonomi terhambat.

D. Orientasi Kebijakan Fiskal

Setelah krisis multi-dimensi 1997, kebijakan fiskal yang ditempuh oleh pemerintah diarahkan pada dua sasaran utama, yaitu untuk mendukung konsolidasi fiskal guna mewujudkan ketahanan fiskal yang berkelanjutan (fiscal sustainability) dan untuk menciptakan ruang gerak fiskal (fiscal space) yang memadai guna memperkuat stimulus fiskal. sehingga mampu menggerakkan perekonomian domestik. Kedua sasaran tersebut masih tetap menjadi prioritas kebijakan dalam tahun-tahun selanjutnya. Dalam periode 2000–2009, upaya pencapaian sasaran tersebut dibagi menjadi fase konsolidasi (penyehatan) APBN dalam periode 2000–2005 dan fase stimulus fiskal dalam periode 2006–2009.

Secara operasional, konsolidasi fiskal (penyehatan APBN) diupayakan melalui pengendalian defisit anggaran dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Pertama, peningkatan pendapatan negara yang dititikberatkan pada peningkatan penerimaan perpajakan dan optimalisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Kedua, pengendalian dan penajaman prioritas alokasi belanja negara dengan tetap menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar dan alokasi belanja minimum.

Ketiga, pengelolaan utang negara yang sehat dalam rangka menutupi kesenjangan pembiayaan anggaran yang dihadapi pemerintah.

Keempat, perbaikan struktur penerimaan dan alokasi belanja negara, dengan memperbesar peranan sektor pajak non-migas, dan pengalihan subsidi secara bertahap kepada bahan-bahan kebutuhan pokok bagi masyarakat yang kurang mampu agar lebih tepat sasaran.

Kelima pengelolaan keuangan negara yang lebih efektif, efisien, dan berkesinambungan, yang dilakukan antara lain melalui perbaikan manajemen pengeluaran negara.

E. Tujuan Kebijakan Fiskal

Kebijakan fiskal mempunyai tujuan yang sangat kompleks yakni untuk mencapai sebuah perekonomian atau sistem ekonomi yang makmur dan sejahtera, serta untuk menentukan arah dan tujuan, bidikan, prioritas pembangunan bangsa atau pembangunan nasional dan tentunya menghasilkan sebuah pertumbuhan ekonomi yang maksimal. Adapun tujuan-tujuan antara lain:

1. Mencegah dan Mengurangi Tingkat Pengangguran

Mengatasi pengangguran merupakan salah satu tujuan utama diterapkannya kebijakan fiskal. Kegagalan atau ketidakmampuan mencapai kesempatan kerja penuh tidak hanya berakibat pada tingkat pendapatan nasional atau laju pertumbuhan ekonomi yang tidak maksimal namun juga dampak buruknya bisa menambah jumlah pengangguran yang ada. Hal ini tentu akan berdampak buruk bagi negara.

2. Mempertahankan Stabilitas Harga

Tujuan selanjutnya adalah kestabilan harga, di sini kebijakan fiskal selalu berusaha untuk menjaga harga pasar tidak mengalami penurunan dan pelonjakan yang tinggi. Dua hal ini akan berakibat fatal perekonomian negara, ketika harga terus menurus turun maka yang akan terjadi adalah akan terjadi banyak gulung tikar dan pengangguran karena usaha-usaha yang bukan milik negara bisa dibilang swasta dan UKM akan mengalami kesulitan dalam mendapatkan sebuah keuntungan. Kebanyakan dari mereka ada yang balik modal saja bahkan ada juga yang tekor atau rugi. Sedangkan jika harga terus menerus melonjak naik maka yang akan terjadi adalah inflasi.

3. Memacu Pertumbuhan Ekonomi Negara

Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu hal mutlak yang harus diupayakan oleh pemerintah. Dengan kemajuan di bidang ekonomi ini maka keberlangsungan hidup negara tersebut akan terjamin tanpa adanya gangguan yang berarti. Pemerintah menerapkan kebijakan fiskal untuk mencari sebuah terobosan atau inovasi baru yang mampu berkontribusi dalam kemajuan perekonomian negara serta mencari sebuah pemecahan masalah untuk digunakan dikemudian hari ketika banyak problem dan tantangan yang menyerbu perekonomian negara.

4. Mendorong Lajunya Investasi

Investasi merupakan salah satu transaksi dalam dunia ekonomi yang memiliki prospek besar. Untuk itulah kebijakan fiskal bertujuan untuk mendorong agar kegiatan investasi ini terus bertambah dan bertambah agar hasil dari padanya bisa dimanfaatkan sebagai pembangunan ekonomi dan lain sebagainya. Namun juga harus diingat dan diperhatikan ketika investor atau yang melakukan investasi adalah orang asing maka kita harus selektif dan cekatan dalam mengurusinya dan mengamati segala pergerakan mereka, karena takutnya dengan sifat yang selalu ingin menjadi pemilik seluruhnya. Jika itu terjadi maka kita sebagai bangsa ini akan mengalami penurunan drastis dan kegagalan di mana pun investor asing berlabuh.

5. Untuk Mewujudkan Keadilan Sosial

Arti dari keadilan sesungguhnya adalah meletakkan sesuatu tepat pada tempatnya, bukan berarti harus sama. Dalam hal ini kebijakan fiskal berusaha untuk membagi rata atau mendistribusikan pendapatan dan selalu berupaya untuk membuat keseimbangan antara kaya dan miskin, bukan kaya menjadi kaya dan miskin menjadi miskin. Jadi diupayakan semua pihak mendapatkan sebuah kecukupan bidang ekonomi.

F. Fungsi Kebijakan Fiskal

Di samping memiliki beberapa tujuan kebijakan fiskal memiliki beberapa fungsi, di mana fungsi tersebut melengkapi keberadaan dan penguatan fiskal di dunia ekonomi sendiri, fungsi-fungsi itu antara lain:

1. Mengoptimalkan Penggunaan SDM dan SDA

Sumber daya merupakan salah satu komponen penting yang harus ada dalam sebuah negara, tanpa kehadiran dua komponen tersebut maka kegiatan perekonomian akan terencam musnah. Sumber daya pada dasarnya dibagi menjadi dua yakni sumber daya alam dan sumber daya manusia. Sumber daya alam sebagai bahan dasar untuk kegiatan produksi namun juga langsung bisa dikonsumsi oleh manusia. Sedangkan sumber daya manusia sebagai aspek pengelola dari sumber daya alam yang masih mentah menjadi produk yang siap pakai atau sudah matang siap untuk dikonsumsi.

2. Mengoptimalkan Kegiatan Investasi

Investasi merupakan salah satu kegiatan yang bisa mendatangkan keuntungan bagi pemerintah dan negara tentunya. Dengan terbukanya lahan atau tempat untuk berinvestasi maka peluang usaha-usaha yang mendatangkan keuntungan besar untuk pemasukan bagi devisa negara. Bagaimanapun kehadiran kebijakan fiskal untuk membuka seluas-luasnya peluang bagi para pemilik modal untuk menginvestasikan modalnya.

G. Instrumen Kebijakan Fiskal

Selain fungsi, kebijakan fiskal juga memiliki beberapa instrumen yang menjadi ciri khasnya, di antaranya sebagai berikut:

1. Anggaran Belanja Seimbang

Sesuai dengan namanya yaitu seimbang, maka di sini adalah menggunakan perpaduan antara anggaran defisit dan anggaran surplus, yaitu dengan memadukan antara konsep pengeluaran lebih banyak daripada pemasukan dan juga menggunakan konsep pemasukan yang lebih banyak daripada pengeluarannya. Jadi pada dasarnya anggaran seimbang ini menjadi salah satu perantara di antara keduanya, anggaran ini bisa menggunakan anggaran sesuai dengan waktu dan kondisinya. Ketika keadaan atau kondisi perekonomian negara mengalami inflasi maka konsep anggaran surplus, dan ketika situasi menunjukkan keadaan yang tidak stabil maka anggaran yang digunakan adalah anggaran defisit.

2. Pembiayaan Fungsional

Untuk kebijakan ini fokus pada penyesuaian anggaran negara dengan menentukan biaya atau anggaran yang digunakan oleh pemerintah dengan sedemikian rupa hingga tidak memiliki pengaruh bagi pendapatan atau pemasukan negara secara langsung. Kebijakan pembiayaan fungsional ini memiliki tujuan utama untuk menyerap sebanyak-banyaknya tenaga kerja dengan membuka berbagai lapangan pekerjaan baru. Dalam kebijakan ini pula pajak dan pengeluaran pemerintah ditempatkan atau diposisikan dalam tempat yang berbeda. Kebijakan ini dipelopori atau dicetuskan oleh A.P. Liner.

3. Anggaran Defisit atau Kebijakan Fiskal Ekspansif

Anggaran defisit merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk memberikan stimulus pada sebuah perekonomian dengan cara mengupayakan untuk membuat pengeluaran negara untuk belanja dan pembangunan lebih besar daripada pemasukan yang ada selama kurun waktu tertentu. Mungkin kita berpikir mengapa cara atau kebijakan ini dipakai padahal dilihat dari satu sisi hal ini merugikan negara, namun sebenarnya tidak pada dasarnya kebijakan ini dilakukan hanya pada situasi ekonomi yang resesif karena hal ini akan menguntungkan bagi negara.

4. Anggaran Surplus atau Kebijakan Fiskal Kontraktif

Untuk anggaran surplus ini sebenarnya adalah kebalikan dari anggaran defisit, jika pada anggaran defisit pengeluaran pemerintah lebih ditekankan daripada pemasukannya. Namun jika dalam anggaran surplus maka pemasukan negara adalah menjadi fokus perhatian diharapkan pemasukan negara lebih besar dari pengeluaran negara baik untuk pembangunan atau investasi dan lainnya. Kebijakan ini diberlakukan ketika situasi ekonomi pada kondisi yang ekspansi serta memanas (overheating). Hal ini semata hanya dilakukan untuk menurunkan tekanan dan desakan yang kian tinggi dari permintaan.

5. Stabilitas Anggaran Otomatis

Stabilitas di sini diartikan sebagai upaya untuk tetap mempertahankan keadaan dan kondisi perekonomian yang sudah bagus dengan cara menyesuaikan anggaran yang dimiliki negara. Dengan memperhatikan penggunaan biaya atau dana, dalam kebijakan ini diusahakan untuk menekan pengeluaran negara dengan sesuatu yang lebih bermanfaat dan tentunya dengan biaya minimum namun bisa menghasilkan banyak hasil.

6. Pengelolaan Anggaran

Pengelolaan anggaran ini merupakan salah satu usaha dari pemerintah untuk menjaga sebuah kestabilan perekonomian negara. Cara atau alternatif yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan serta menggunakan hasil pajak atau pinjaman sebagai modal dasarnya. Di mana hasil pajak dan pinjaman ini menjadi satu kesatuan utuh dalam hal penerimaan dan pengeluaran negara. Konsep dari pengelolaan anggaran ini senada dengan adanya anggaran seimbang. Di mana ketika kondisi perekonomian lesu atau tidak berkembang maka anggaran surplus yang diterapkan, sedangkan ketika terjadi inflasi kita akan menerapkan tanpa adanya dana cuma BMT. Untuk pendekatan pengelolaan anggaran ini dicetuskan oleh pertama kali oleh Alvin Hansen.

H. Indikator Kebijakan Fiskal

Dalam kebijaksanaan fiskal, indikator yang biasanya dipakai adalah anggaran defisit, yakni selisih antara pengeluaran pemerintah dengan penerimaan, yang biasa diformulasikan sebagai berikut:

Defisit = G – tY + R

Di mana:

G = Pengeluaran pemerintah

t = Tarif pajak

Y = Pendapatan nasional

R = Pengeluaran untuk transfer

Sebetulnya, formulasi di atas kurang tepat jika dipakai sebagai indikator bagi kebijaksanaan fiskal. Sebabnya adalah karena penerimaan pajak dan transfer tergantung dari pendapatan, sehingga semua faktor yang mempengaruhi pendapatan juga akan mempengaruhi defisit. Oleh karena itu defisit ini tidak lagi merupakan variabel eksogen, sehingga kurang tepat dipakai sebagai indikator kebijaksanaan fiskal, sebab besarnya defisit sulit untuk dikontrol oleh pemerintah. Pemerintah dapat mempengaruhi defisit dengan merubah G, t, atau R, tetapi hal ini bukan merupakan satu-satunya faktor.

Kedua, faktor yang mempengaruhi defisit anggaran pemerintah adalah kebijaksanaan moneter. Kebijaksanaan moneter yang ekspansif cenderung akan menaikkan pendapatan, sedangkan yang kontraktif akan menurunkan pendapatan. Kedua kebijakan itu pada akhirnya memang akan mempengaruhi penerimaan pajak, sehingga akan mempengaruhi pula defisit anggaran belanja. Sebab itu kita bisa keliru jika menggunakan defisit anggaran belanja untuk mengukur kebijaksanaan fiskal pemerintah.

I. Langkah-langkah Mengatasi Inflasi Melalui Kebijakan Fiskal

Untuk menanggulangi inflasi maka pemerintah mengeluarkan kebijakan fiskal dengan cara sebagai berikut:

Bank Indonesia sebagai bank sentral, mengeluarkan kebijakan yang berupa mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat dengan cara menaikkan suku bunga Bank umum. Dengan begitu masyarakat akan menabungkan uangnya di Bank dan menstabilkan jumlah uang dan barang di pasaran.

Meningkatkan jumlah produksi hingga barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat bisa tersedia dan seimbang dengan jumlah uang yang beredar.

Mengoptimalkan pos-pos vital dan mengurangi pengeluaran anggaran pemerintah.

Meningkatkan perolehan pajak dengan menyadarkan masyarakat akan manfaat pajak.

Melakukan pinjaman ke pihak luar, hal ini dilakukan sebagai langkah akhir jika keempat cara atau langkah di atas belum bisa menghentikan laju inflasi.

J. Hubungan Antara Kebijakan Fiskal dan Pembangunan

Kebijakan dijalankan oleh pemerintah dengan teliti dan hati-hati. Mengingat kebijakan ini sangat mempengaruhi perekonomian nasional. Dengan kehati-hatian pemerintah dalam menjalankan kebijakan ini diharapkan dapat mempercepat proses pembangunan nasional. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan pemerintah yang berkaitan dengan kebijakan fiskal, di antaranya adalah:

Kebijakan fiskal dijalankan dengan kehati-hatian dan konservatif, maksudnya menjaga keseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan.

Kebijakan fiskal yang sedang berjalan dapat memengaruhi sumber daya ekonomi.

Kebijakan bisa meningkatkan pembentukan modal yang dibutuhkan dalam pembangunan nasional.

K. Pokok-pokok Kebijakan Fiskal


Pokok-pokok kebijakan fiskal dalam APBN dapat dibagi dan dirincikan menjadi dua, yaitu berdasarkan arah dan berdasarkan strategi kebijakan.

1. Arah Kebijakan Fiskal dalam APBN

Kebijakan fiskal diarahkan agar negara dapat membiayai pengeluaran dan penyelenggaraan program-program pemerintah secara efisien dan jauh dari korupsi.

Kebijakan fiskal diarahkan untuk turut memelihara dan menjaga kestabilan ekonomi serta memacu pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan fiskal diarahkan untuk mengatasi masalah-masalah prioritas berdasarkan undang-undang, seperti kemiskinan, pendidikan, dan pembangunan infrastruktur.

Kebijakan fiskal diarahkan untuk mendukung penyelenggaraan Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kesenjangan fiskal antar pemerintahan pusat dan yang ada di daerah-daerah.

2. Strategi kebijakan fiskal dalam APBN

Berusaha menurunkan beban hutang negara, pembiayaan yang efisien, dan memacu dan menjaga kredibilitas pasar modal.
Menurunkan defisit anggaran terhadap PBD.
Memperbaiki pendapatan negara melalui pajak maupun bukan pajak.
Mengefisienkan anggaran belanja negara.
Menstimulus kegiatan ekonomi agar perekonomian tumbuh dengan baik dan berkualitas.
Senantiasa mereformasi administrasi, perpajakan, kepabeanan, dan cukai.
Mempertajam alokasi kebutuhan prioritas anggaran belanja negara.
Mengalokasikan anggaran belanja ke daerah sesuai dengan ketentuan perundangan-undangan.
Mengoptimalkan kebijakan pembiayaan defisit anggaran dengan biaya dan risiko yang rendah.



BAB III 
PENUTUP

A. Kesimpulan

Kebijakan fiskal merujuk pada kebijakan yang dibuat pemerintah untuk mengarahkan ekonomi suatu negara melalui pengeluaran dan pendapatan (berupa pajak) pemerintah. Kebijakan fiskal berbeda dengan kebijakan moneter, yang bertujuan menstabilkan perekonomian dengan cara mengontrol tingkat bunga dan jumlah uang yang beredar. Instrumen utama kebijakan fiskal adalah pengeluaran dan pajak. Kebijakan fiskal merupakan wahana utama bagi peran aktif pemerintah di bidang ekonomi. Pada dasarnya sebagian besar upaya stabilisasi makro ekonomi berfokus pada pengendalian atau pemotongan anggaran belanja pemerintah dalam rangka mencapai keseimbangan neraca anggaran.

Oleh karena itu, setiap upaya mobilisasi sumber daya untuk membiayai pembangunan publik yang penting hendaknya tidak hanya difokuskan pada sisi pengeluaran saja, tetapi juga pada sisi penerimaan pemerintah. Pinjaman dalam dan luar negeri dapat digunakan untuk menutupi kesenjangan tabungan. Dalam jangka panjang, salah satu potensi pendapatan yang tersedia bagi pemerintahan untuk membiayai segala usaha pembangunan adalah penggalakan pajak. Selain itu, sebagai akibat ketiadaan pasar-pasar uang domestik yang terorganisir dan terkontrol dengan baik. Sebagian besar pemerintahan negara-negara dunia ketiga memang harus mengandalkan langkah-langkah fiskal dalam rangka mengupayakan stabilisasi perekonomian nasional dan memobilisasikan sumber-sumber daya (keuangan) domestik.

B. Saran

Kebijakan fiskal memiliki peran yang sangat penting dalam suatu tatanan negara sebagai penstabilan ekonomi. Pemerintah harus menjalankan kebijakan fiskal dengan maksud untuk mempengaruhi jalannya perekonomian, atau dengan kata lain, kebijakan fiskal pemerintah berusaha mengarahkan jalannya perekonomian menuju keadaan yang diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA

Alim, Sahid. 2008. Pengantar Ilmu Ekonomi Makro Kebijakan Moneter dan Fiskal. Bandung: Sinar Press.
Boediono. 2003. Kebijakan Fisikal: Pemikiran, Konsep, dan Implementasi. Jakarta: Kompas.
Farida, Ai Siti. 2011. Sistem Ekonomi Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.
Hartono, Tono. 2006. Mekanisme Ekonomi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Marsuki. 2010. Analisis Perekonomian Nasional dan Internasional. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Rosyidi, Suherman. 2011. Pengantar Teori Ekonomi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Subandi. 2014. Sistem Ekonomi Indonesia. Bandung: Alfa Beta.
Tambunan, Tulus T.H. 2011. Perekonomian Indonesia. Bogor: Galia Indonesia.

Dpwnload Makalah Menuntut Ilmu

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT karena atas taufik dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah Menuntut Ilmu ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam senantiasa kita sanjungkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta semua umatnya hingga kini. Dan Semoga kita termasuk dari golongan yang kelak mendapatkan syafaatnya.

Dalam kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkenan membantu pada tahap penyusunan hingga selesainya makalah Menuntut Ilmu ini. Harapan kami semoga makalah yang telah tersusun ini dapat bermanfaat sebagai salah satu rujukan maupun pedoman bagi para pembaca, menambah wawasan serta pengalaman, sehingga nantinya saya dapat memperbaiki bentuk ataupun isi makalah ini menjadi lebih baik lagi.

Kami sadar bahwa kami ini tentunya tidak lepas dari banyaknya kekurangan, baik dari aspek kualitas maupun kuantitas dari bahan penelitian yang dipaparkan. Semua ini murni didasari oleh keterbatasan yang dimiliki kami. Oleh sebab itu, kami membutuhkan kritik dan saran kepada segenap pembaca yang bersifat membangun untuk lebih meningkatkan kualitas di kemudian hari.

Jakarta, 17 Agustus 1945

Penyusun



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Ilmu
B. Pengertian Menuntut Ilmu
C. Hukum Menuntut Ilmu
1. Ilmu-ilmu Syar’i
2. Ilmu-ilmu yang bukan Syar’i
D. Anjuran Menuntut Ilmu
E. Manfaat Menuntut Ilmu
F. Keutamaan Menuntut Ilmu
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Karena ilmu merupakan jalan menuju surga, maka ilmu mempunyai kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Karena itu orang-orang yang berilmu menempati kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT, bahkan mendekati kedudukan para Nabi. Semua muslim diwajibkan menuntut ilmu agar akidahnya tidak tersesat, ibadahnya benar, dan perilakunya sesuai syariat. Menuntut ilmu adalah salah satu kewajiban bagi setiap orang Islam selama hayat masih dikandung badan. Untuk menunjukkan kesungguhan dalam memanfaatkan waktu untuk menuntut ilmu. Sikap disiplin mutlak diperlukan dalam meraih cita-cita.

Dalam kehidupan seorang muslim, waktu merupakan karunia yang tidak bisa terbeli dibandingkan harta dan yang lainnya. Mengoptimalkan waktu untuk ketaatan kepada Allah SWT, merupakan modal kemanfaatan kehidupan dunia dan akhirat sehingga mewujudkan keselamatan bagi dirinya. Menyia-nyiakan waktu dengan membiarkannya berlalu tanpa makna, berarti kesengsaraan dan kebinasaan bagi dirinya. Kita harus berusaha untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.


B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan dalam makalah ini adalah:

Apa pengertian ilmu?

Apa pengertian menuntut ilmu?

Bagaimana hukum menuntut ilmu?

Bagaimana anjuran menuntut ilmu?

Apa manfaat menuntut ilmu?

Apa keutamaan menuntut ilmu?



BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ilmu

Secara bahasa pengertian ilmu adalah lawan kata bodoh/jahil, sedang secara istilah berarti sesuatu yang dengannya akan tersingkaplah segala hakikat yang secara sempurna. Secara istilah syar’i pengertian ilmu yaitu, ilmu yang sesuai dengan amal, baik amalan hati, lisan maupun anggota badan dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW.

Ibnu Munir berkata: “Ilmu adalah syarat benarnya perkataan dan perbuatan, keduanya tidak akan bernilai kecuali dengan ilmu, maka ilmu harus ada sebelum perkataan dan perbuatan, karena ilmu merupakan pembenar niat, sedangkan amal tidak akan diterima kecuali dengan niat yang benar.”

Dalam pengertian lain “ilmu itu modal, tak punya ilmu keuntungan apa yang bisa didapat, ilmu adalah kunci untuk membuka pintu kebaikan kesuksesan, kunci untuk menjawab pertanyaan dan masalah di dunia.”

Berdasarkan beberapa definisi tentang pengertian ilmu di atas dapat disimpulkan bahwa, ilmu merupakan sesuatu yang penting bagi kehidupan manusia. Karena dengan ilmu semua keperluan dan kebutuhan manusia bisa terpenuhi secara lebih cepat dan lebih mudah baik secara lisan (perkataan), maupun berupa perbuatan (anggota badan). Tanpa ilmu kesuksesan tidak pernah ditemukan, karena ilmu merupakan bagian terpenting dalam kehidupan seperti kebutuhan manusia akan oksigen untuk bernapas.

B. Pengertian Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk merubah tingkah laku dan perilaku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan jalan menuju kebenaran dan meninggalkan kebodohan. Menuntut ilmu merupakan ibadah sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW. Artinya: “Menuntut Ilmu diwajibkan atas orang Islam laki-laki dan perempuan.” Mu’adz bin Jabbal berkata: “Tuntutlah ilmu, karena mempelajari ilmu karena mengharapkan wajah Allah itu mencerminkan rasa khasyyah, mencarinya adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, menuntutnya adalah jihad, mengajarnya untuk keluarga adalah taqarrub.”

Dengan demikian perintah menuntut ilmu tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Hal yang paling diharapkan ialah terjadinya perubahan pada diri individu ke arah yang lebih baik yaitu perubahan tingkah laku, sikap, dan perubahan aspek lain yang ada pada setiap individu.

C. Hukum Menuntut Ilmu

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik dari Nabi SAW bersabda, “menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” Ilmu bisa dibagi menjadi dua macam, yaitu:

1. Ilmu-ilmu Syar’i

Mempelajari ilmu-ilmu syar’i ini merupakan sebuah tuntutan akan tetapi hukum menuntutnya disesuaikan dengan kebutuhan terhadap ilmu tersebut. Ada dari ilmu-ilmu itu yang menuntutnya adalah fardu ‘ain, artinya bahwa seseorang mukalaf (terbebani kewajiban) tidak dapat menunaikan kewajiban terhadap dirinya kecuali dengan ilmu tersebut, seperti cara berwudu, salat, haji, zakat, dan sebagainya. berdasarkan hadis, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” Nawawi mengatakan, “Meskipun hadis ini tidak kukuh namun maknanya benar.”

Mempelajari ilmu-ilmu itu tidaklah wajib kecuali setelah ada kewajiban tersebut (terhadap dirinya). Diwajibkan terhadap setiap orang yang ingin melakukan jual beli untuk belajar tentang hukum Jual Beli dalam Islam. Sebagaimana diwajibkan untuk mengetahui hal-hal yang dihalalkan maupun diharamkan baik berupa makanan, minuman, pakaian, atau lainnya secara umum. Demikian pula tentang hukum-hukum menggauli para istri apabila dirinya memiliki istri.

2. Ilmu-ilmu yang bukan Syar’i

Sedangkan hukum menuntut ilmu-ilmu yang bukan syar’i maka ada yang fardu kifayah. Seperti ilmu-ilmu yang dibutuhkan untuk mendukung urusan-urusan dunia, seperti ilmu kedokteran karena ilmu ini menjadi sesuatu yang penting untuk memelihara tubuh, atau ilmu hitung karena ini menjadi sesuatu yang penting di dalam muamalah (jual beli), pembagian wasiat, harta waris, dan lainnya. Ada juga yang menuntutnya menjadi sebuah keutamaan, seperti mendalami tentang ilmu hitung, kedokteran dan lainnya. Namun untuk melakukan ini tentunya membutuhkan kekuatan dan kemampuan ekstra. Ada juga yang menuntutnya diharamkan, seperti ilmu sihir, sulap, ramalan, dan segala ilmu yang membangkitkan keragu-raguan.

Adapun cara untuk mendapatkan ilmu bisa dengan mendatangi sumber ilmu secara langsung di majelisnya atau bisa juga dengan mencari atau memperdalamnya melalui sarana-sarana media yang sangat mudah didapat saat ini, baik cetak maupun elektronik. Setelah itu hendaklah dirinya melakukan penelaahan terhadap setiap ilmu/pengetahuan yang didapatnya untuk diterima atau ditolak. Karena setiap pendapat atau perkataan seseorang bisa diterima atau ditolak kecuali pendapat Rasulullah SAW. Akan tetapi jika telah jelas kebenarannya maka tidak boleh baginya untuk berpaling darinya karena pada dasarnya kebenaran itu berasal dari Allah SWT.

Apabila kita memperhatikan isi alquran dan hadis, maka terdapatlah beberapa suruhan yang mewajibkan bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu, agar mereka tergolong menjadi umat yang cerdas, jauh dari kabut kejahilan dan kebodohan. Menuntut ilmu artinya berusaha menghasilkan segala ilmu, baik dengan jalan menanya, melihat, atau mendengar. Perintah kewajiban menuntut ilmu terdapat dalam hadis Nabi Muhammad SAW “Menuntut ilmu adalah fardu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan“. (HR. Ibn Abdulbari).

D. Anjuran Menuntut Ilmu

Islam sangat memperhatikan dan ilmu pengetahuan karena dengan ilmu pengetahuan manusia bisa berkarya, berprestasi dan mampu tampil sebagai khalifah yaitu memakmurkan bumi. Dengan ilmu, manusia mampu beribadah dengan sempurna. Contoh orang Islam diwajibkan salat, maka ia harus mengetahui ilmu-ilmu yang berhubungan dengan salat, begitu juga dengan puasa, zakat dan haji, sehingga apa yang dilakukannya mempunyai dasar. Ilmu itu dibutuhkan dalam segala hal. Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menempuh jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”(HR. Muslim)

Demikian itu mereka lakukan mereka rida terhadap perbuatan orang-orang yang sedang mencari ilmu dan sebagai penghormatan buatannya. Yang dimaksud dengan penuntut ilmu ialah penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya. Makhluk yang di langit, maksudnya ialah para malaikat yang ada di langit, mereka membaca tasbih seraya memuji Rabb mereka dan memintakan ampunan buat orang-orang yang di bumi. Makhluk yang di bumi, maksudnya manusia, jin dan hewan. Al-Hiitaan, ikan-ikan; permohonan ampun oleh semua makhluk yang telah disebutkan buat orang yang alim, maksudnya mereka mendoakannya. Demikian itu karena orang yang alim dengan bimbingan dengan petunjuknya kepada manusia menyebabkan ia disukai Allah SWT.

Anjuran untuk mempersiapkan bekal sebelum mati dengan amal-amal saleh. Amal-amal saleh yang manfaatnya tetap berlanjut setelah orangnya meninggal dunia, maka pahalanya tetap mengalir kepadanya. Anjuran agar melaksanakan amal kebaikan dengan cara wakaf, seperti membangun masjid, madrasah, membuat sumur, atau menanam pohon. Semuanya itu merupakan sedekah jariah. Disunahkan mengajarkan ilmu dan menyusun kitab-kitab yang bermanfaat. Itulah di antara ilmu nafi’ (yang bermanfaat) yang pahalanya tetap berlangsung sepanjang zaman. Anjuran untuk mendidik anak dan mengajari mereka perkara yang fardu dan sunah, serta adab sopan santun agar mereka menjadi orang-orang saleh.

E. Manfaat Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu diperintahkan dalam Islam. Hal ini membawa manfaat bagi orang yang menuntutnya. Adapun manfaatnya antara lain sebagai berikut:

Orang yang mencari ilmu mendapatkan pahala seperti orang yang berjihad di jalan Allah hal ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW.

Orang yang menuntut ilmu akan mendapat kebaikan yang berlipat ganda. Orang yang menuntut ilmu diumpamakan lebih baik derajatnya dari pada orang yang melakukan salat seratus rakaat.


F. Keutamaan Menuntut Ilmu

Ilmu didahulukan sebelum amal.

Ditunjukkan dan dimudahkan untuk meniti jalan menuju surga.

Merupakan tanda bahwa seseorang dikehendaki atasnya kebaikan oleh Allah.

Malaikat membentangkan sayap-sayapnya karena rida kepada penuntut ilmu.

Dimintakan ampunan oleh seluruh penduduk langit dan bumi, bahkan ikan-ikan di lautan.

Ulama (orang-orang yang berilmu) adalah pewaris para nabi.

Para nabi hanya mewariskan ilmu tiada yang lain.

Barang siapa yang mengambil ilmu berarti ia telah mengambil bagian yang banyak.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Ilmu merupakan sesuatu yang penting bagi kehidupan manusia karena dengan ilmu semua keperluan dan kebutuhan manusia bisa terpenuhi secara lebih cepat dan lebih mudah baik secara lisan (perkataan), maupun berupa perbuatan (anggota badan), tanpa ilmu kesuksesan tak pernah ketemu karena ilmu merupakan bagian terpenting dalam kehidupan seperti kebutuhan manusia akan oksigen untuk bernapas.

Perintah menuntut ilmu tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Hal yang paling diharapkan dari menuntut ilmu ialah terjadinya perubahan pada diri individu ke arah yang lebih baik yaitu perubahan tingkah laku, sikap dan perubahan aspek lain yang ada pada setiap individu.

B. Saran

Islam mewajibkan kita menuntut ilmu-ilmu dunia yang memberi manfaat dan berguna untuk menuntut kita dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kita di dunia, agar tiap-tiap muslim jangan picik dan agar setiap muslim dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat membawa kemajuan bagi penghuni dunia ini.


DAFTAR PUSTAKA


Http://hitsuke.blogspot.com/2010/09/kewajiban-menuntut-ilmu-hadits-tarbawi.html
Http://www.google.com/hadist-menuntut-ilmu
Http://www.geocities.com\broadway\4516\
Http://www.alhamidiyah.com/?v=fatwa&baca=19
Http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/bagaimana-yang-di-sebut-menuntut-ilmu-dalam-islam.htm
Http://alhafizh4.wordpres.com/2010/09/kewajiban-menuntut-ilmu/
https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_dan_ilmu_pengetahuan

Makalah Bencana Alam Tsunami

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas ke hadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Bencana Alam Tsunami ini tepat pada waktunya.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi bagi kami dan pembaca pada umumnya.


Jakarta, 17 Agustus 1945


Penyusun


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Tsunami
B. Karakteristik Tsunami
C. Sejarah Tsunami
D. Jenis-Jenis Tsunami
1. Tsunami Lokal
2. Tsunami Berjarak
E. Penyebab Terjadi Tsunami
F. Mitigasi Bencana Alam Tsunami
1. Pendekatan Mitigasi Non-Fisik
2. Pendekatan Mitigasi Fisik
a. Pendekatan Non-Struktural dengan Sabuk Hijau (Green Belt)
b. Pendekatan Struktural dengan Peringatan Dini
c. Bangunan Sipil Penahan Tsunami
d. Bangunan Sipil untuk Evakuasi
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tsunami merupakan salah satu bencana alam yang sangat ditakuti di Indonesia. Pada saat 2004 silam saja, bencana alam ini merenggut ratusan ribu jiwa warga Aceh. Bahkan, masyarakat sekitar pantai apabila merasakan gempa yang cukup besar akan melakukan evakuasi diri menuju tempat yang lebih tinggi karena khawatir akan terjadi bencana tsunami.

Salah satu bencana geologi ini sering terjadi di negara-negara yang termasuk ke dalam daerah Cincin Api Pasifik (ring of fire). Daerah cincin api pasifik ini sangat rentan terjadi gempa vulkanik maupun tektonik sehingga sangat berpotensi juga untuk terjadi tsunami andai kata pusat gempa berada di lautan. Negara-negara yang rawan terkena bencana ini di antaranya adalah Indonesia, Jepang, Filipina, Papua Nugini, India, Bangladesh, Maladewa, dan Australia.

B. Rumusan Masalah

Apa pengertian tsunami?

Bagaimana karakteristik tsunami?

Bagaimana sejarah tsunami?

Apa saja jenis-jenis tsunami?

Apa penyebab terjadinya tsunami?

Bagaimana mitigasi bencana tsunami?



BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Tsunami

Istilah tsunami merupakan adopsi dari bahasa Jepang. Tsunami menurut Beni (2006), adalah istilah yang berasal dari bahasa Jepang yang sekarang sudah menjadi istilah yang biasa dipakai di seluruh penjuru dunia. Tsunami berasal dari kata tsu yang berarti pelabuhan dan nami memiliki arti ombak. Masyarakat Jepang biasanya setelah terjadi bencana tsunami akan pergi ke pelabuhan untuk melihat seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan, sehingga dipakailah istilah tsunami (Sutowijoyo 2005).

Tsunami merupakan salah satu Bencana Alam yang sering terjadi di Indonesia. Tsunami adalah gelombang besar yang dihasilkan oleh gempa bumi di dasar samudera, Gunung Meletus, atau longsoran masa batuan di sekitar basin samudera (Djunire 2009). Simandjuntak (1994) mengartikan tsunami sebagai salah satu kejadian alam yang dicirikan oleh terjadinya pasang naik yang besar secara mendadak yang biasanya terjadi sesaat setelah terjadi guncangan Gempa Bumi tektonik. Gelombang yang dihasilkan oleh bencana alam ini dapat menghancurkan daerah pemukiman yang berada di dekat pantai.

Berdasarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) (2006), tsunami adalah gelombang laut yang mampu menjalar dengan kecepatan tinggi hingga lebih dari 900 km/jam, gelombang ini disebabkan oleh gempa bumi yang terjadi di dasar laut.
Tsunami sendiri sangat berkaitan dengan perubahan bentuk dasar laut dengan cepat karena adanya faktor-faktor geologi, seperti letusan gunung berapi ataupun gempa bumi (Sudrajat 1994).

B. Karakteristik Tsunami

Karakteristik umum dari tsunami pada dasarnya berbeda dengan karakteristik ombak pada biasanya. Ombak merupakan gelombang air yang dihasilkan dari tiupan angin, sedangkan tsunami merupakan gelombang yang dibentuk akibat adanya kegiatan geologi bumi. Tsunami merupakan gelombang yang dapat mencapai panjang gelombang lebih dari 150 km, serta memiliki kecepatan gelombang seperti pesawat jet, yaitu sekitar 800 km/jam (King 1972).

Menurut PVMBG (2006), kecepatan gelombang tsunami bergantung pada kedalaman laut.
Tsunami memiliki panjang gelombang antara dua puncaknya lebih dari 100 km di laut lepas dan selisih waktu antara kedua puncak tersebut diperkirakan antara 10 menit sampai 1 jam. Pada saat mencapai pantai yang dangkal, teluk, atau muara sungai, gelombang ini kemudian akan menurun kecepatannya, namun tinggi gelombang akan meningkat sehingga sangat bersifat merusak benda-benda yang berada di sekitar pantai.

Pada laut dalam, tsunami akan bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, yaitu 500 sampai dengan 1000 km/jam. Siklus terjadinya gelombang kembali berkisar antara hitungan menit sampai satu jam. Saat mendekati pantai gelombang akan melambat dan ketinggian gelombang akan meninggi. Tinggi gelombang ini dapat berubah karena adanya konversi energi dari bentuk energi kinetik menjadi energi potensial. Berkurangnya kecepatan gelombang yang artinya ada perpindahan energi menjadi energi potensial yang menyebabkan bertambah tingginya gelombang (Diposaptono dan Budiman 2006).

C. Sejarah Tsunami

Istilah tsunami mulai tersebar luas di belahan dunia setelah terjadinya gempa besar di Jepang yang menyebabkan tsunami sehingga menewaskan sekitar 22 000 orang serta merusak pantai timur Honshu sepanjang 280 km. Kejadian tersebut terjadi pada 15 Juni 1896 (Badan Meteorologi dan Geofisika 2010). Di Indonesia, tsunami diperkirakan terjadi pertama kali pada tahun 1618 di Nusa Tenggara Barat. Dalam kurun waktu tahun 1600 sampai 2006, Indonesia telah mengalami 108 kali kejadian tsunami. Sekitar 90% tsunami di Indonesia disebabkan gempa tektonik, 9% akibat letusan gunung api, dan hanya 1% dipicu oleh tanah longsor.

D. Jenis-Jenis Tsunami

Klasifikasi tsunami berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi tsunami vulkanik dan tsunami tektonik. Jenis tsunami vulkanik adalah jenis tsunami yang disebabkan gempa yang berasal dari kegiatan vulkanik bumi, sedangkan tsunami tektonik disebabkan karena adanya gempa yang terjadi akibat aktivitas tektonik bumi.

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 6/PRT/M/2009, berdasarkan karakteristiknya tsunami dibedakan menjadi tsunami lokal dan tsunami berjarak.

1. Tsunami Lokal

Tsunami lokal berhubungan dengan episentrum gempa di sekitar pantai sehingga waktu tempuh dari sumber kejadian sampai ke bibir pantai berkisar antara lima sampai tiga puluh menit. Biasanya dampak dari tsunami ini cukup besar karena kekuatan dari gelombang masih sangat terasa ketika sudah mencapai daratan.

2. Tsunami Berjarak

Tsunami berjarak adalah jenis tsunami yang paling umum terjadi di pantai-pantai yang bertemu langsung dengan Samudera Pasifik. Jenis tsunami ini memiliki sumber penyebab yang jauh dari bibir pantai sehingga kekuatan gelombang yang dihasilkan tidak sebesar tsunami lokal. Waktu tempuh pada saat gempa sampai terjadinya tsunami di daratan berkisar antara 5.5 jam sampai 18 jam.

E. Penyebab Terjadi Tsunami

Tsunami menurut PVBMG (2006), dapat terjadi dari gempa tektonik maupun vulkanik apabila memenuhi syarat berikut:

pusat gempa terjadi di dasar laut;

kedalaman pusat gempa kurang dari 60 km;

magnitude lebih besar dari 6.0 skala Richter;

 jenis patahan tergolong sesar naik atau sesar turun.

Sedangkan menurut King (1972) dan Anhert (1996), faktor-faktor yang dapat menyebabkan tsunami adalah sebagai berikut:

ada retakan di dasar laut yang disertai dengan suatu gempa bumi; retakan di sini maksudnya adalah suatu zona planar yang lemah yang melewati daerah kerak bumi;

ada tanah longsor, baik yang terjadi di bawah air atau yang berasal dari atas lautan yang kemudian menghujam ke dalam air;

ada aktivitas gunung berapi yang terletak di dekat pantai atau di bawah air yang sewaktu-waktu dapat terangkat atau tertekan seperti gerakan yang terjadi pada retakan;

berbeda halnya dengan badan meteorologi dan geofisika (2010), menurut lembaga ini tsunami akan terjadi jika kekuatan gempa lebih dari 7.0 sr, lokasi pusat gempa di laut dengan kedalaman kurang dari 70 km, serta terjadi deformasi vertikal dasar laut;

gelombang tsunami paling sering disebabkan oleh gempa tektonik dangkal di perairan samudera Pasifik.

F. Mitigasi Bencana Alam Tsunami

Mitigasi adalah suatu aktivitas untuk mengurangi dampak kerusakan atau kehilangan nyawa. Aktivitas mitigasi bencana alam diperoleh melalui berbagai tindakan analisis risiko untuk menghasilkan berbagai informasi perencanaan mitigasi (FEMA 2008). Menurut Ihsan (2017), mitigasi bencana adalah istilah yang digunakan untuk menunjuk pada semua tindakan untuk mengurangi dampak dari suatu bencana yang dapat dilakukan sebelum suatu bencana terjadi, termasuk kesiapan dan tindakan-tindakan pengurangan risiko jangka panjang. Mitigasi bencana tsunami dapat didekati dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan non-fisik dan pendekatan fisik.

1. Pendekatan Mitigasi Non-Fisik

Mitigasi bencana tsunami dengan pendekatan non fisik biasanya dilakukan dengan memetakan tingkat kerawanan daerah tertentu terhadap bencana tsunami selanjutnya diadakan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan berbagai hal yang berkaitan dengan tsunami. Hal-hal yang disosialisasikan kepada masyarakat biasanya mengenai:

pengertian tsunami;

penyebab terjadinya tsunami;

ciri-ciri akan terjadinya tsunami;

dampak bencana alam tsunami;

cara penyelamatan diri dan evakuasi jika terjadi bencana.

Sosialisasi ini penting agar masyarakat nantinya paham dan mengerti bagaimana cara mereka untuk menyelamatkan diri, andai kata terjadi bencana alam ini. Selain dengan sosialisasi, perlu diadakan juga simulasi aksi bencana tsunami. Simulasi ini dimaksudkan agar masyarakat tidak panik saat memperoleh informasi ketika akan terjadi bencana alam tsunami. Dengan adanya simulasi ini juga, masyarakat akan terbiasa dengan keadaan yang genting sehingga ketika saat terjadi bencana masyarakat sudah mengerti apa yang harus mereka lakukan.

2. Pendekatan Mitigasi Fisik

Mitigasi bencana dengan pendekatan fisik dapat dilakukan dengan upaya struktural, non-struktural, maupun gabungan antar keduanya. Pemilihan upaya mitigasi fisik ini bergantung pada kondisi fisik pantai, tata ruang, tata guna lahan, serta modal yang tersedia. Mitigasi fisik tsunami dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya adalah:

a. Pendekatan Non-Struktural dengan Sabuk Hijau (Green Belt)

Pendekatan non-struktural dengan sabuk hijau misalnya perlindungan daerah pantai dari bencana tsunami dengan menggunakan vegetasi, seperti cemara laut (Casuarina equisetifolia), bakau, pohon api-api, nipah, dan vegetasi lainnya yang berhabitat di pantai. Mitigasi dengan cara ini harus memenuhi persyaratan teknis dari vegetasi tersebut dalam meredam gelombang. Salah satu parameter yang paling penting adalah nisbah dari lebar hutan bakau dari pantai sampai ujung hutan mangrove yang menghadap langsung ke laut (B) dengan panjang gelombang tsunami (L), atau dapat dirumuskan dengan B/L. Semakin besar nilai B/L maka semakin efektif metode mitigasi bencana tsunami dengan sabuk hijau. Hutan mangrove atau hutan bakau juga sangat efektif dalam meredam gelombang air laut atau ombak. Hutan mangrove ini dapat mencegah terjadinya abrasi juga.

b. Pendekatan Struktural dengan Peringatan Dini

Salah satu upaya struktural dalam mitigasi bencana ini adalah pemberitahuan dini terjadinya tsunami. Penyampaian informasi ini dapat menggunakan sirene, lonceng, bel, dan sebagainya. Pemasangan alat pendeteksi dini mutlak harus dilakukan pada metode ini. Sistem peringatan dini menggunakan alat sensor kenaikan tinggi muka air laut, satelit buatan, dan receiver gelombang yang langsung terhubung dengan alat pemberi tahu bahaya bencana tsunami.

c. Bangunan Sipil Penahan Tsunami

Bangunan sipil yang dikhususkan untuk menahan bencana tsunami di Indonesia belum pernah dibangun. Bangunan sipil ini dapat kita temui di negara Jepang. Meskipun sangat efektif dalam meredam terjangan gelombang air, bangunan ini dinilai merusak nilai estetik dari suatu lanskap di pantai.

d. Bangunan Sipil untuk Evakuasi


Lokasi evakuasi harus mudah dijangkau apabila bencana tsunami benar-benar terjadi. Lokasi evakuasi dapat berupa lahan yang memiliki ketinggian tertentu dan bangunan tinggi yang tahan terhadap gelombang dan getaran gempa. Apabila suatu pemukiman jauh dari dataran yang memiliki elevasi yang tinggi maka perlu dibuat suatu bangunan sipil yang dikhususkan untuk evakuasi. Bangunan ini sangat penting untuk mengurangi jumlah korban akibat dari lambatnya proses evakuasi ke daerah yang lebih tinggi.


BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan

Tsunami adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya.

Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih. Bencana alam tsunami bisa menimbulkan korban lebih banyak dibandingkan gempa, hal ini karena tsunami terjadi setelah adanya gempa sehingga korban dan kerugian harga benda dapat berlipat ganda. Berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi jatuhnya korban akibat bencana tsunami.


B. Saran

Tsunami adalah salah satu bencana alam yang memang menakutkan. Dampak yang ditimbulkan dari tsunami juga sangat bersifat merusak dan menghancurkan. Maka dari itu, kita patut lebih mempelajari tentang bencana alam di sekitar kita. Dengan mempelajari, kita bisa mengetahui bagaimana tanda-tanda bencana seperti tsunami itu akan terjadi dan akan lebih siap saat menghadapi terjadinya hal yang tidak di inginkan. Namun kami lebih menghimbau, agar kita semua lebih mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Karena Dia-lah penguasa seluruh jagat raya ini. Atas kehendak-Nya juga seluruh bencana di alam semesta ini dapat terjadi, termasuk bencana tsunami.


DAFTAR PUSTAKA


Anhert, F. 1996. Introduction to Geomorphology. London: Arnold.
Beni S., Ambarjaya. 2006. Tsunami Sang Gelombang Pembunuh. Jakarta: CV. Karya Mandiri Pratama.
Diposaptono S., Budiman. 2006. Tsunami. Bogor: Buku Ilmiah Populer.
Diposaptono S., Budiman. 2008. Hidup Akran dengan Gempa dan Tsunami. Bogor: PT. Sarana Komunika Utama.
Pribadi S, Fachrizal, I Gunawan, I Hermawan, Y Tsuji, SS Han. 2006. Gempa Bumi dan Tsunami Selatan Jawa Barat 17 Juli 2006. Jakarta: Badan Meteorologi dan Geofisika.
Yulianto E., F. Kusmayanto, N. Supriyatnam Dirhamsyah. 2008. Selamat dari Bencana Tsunami, Pembelajaran dari Tsunami Aceh dan Pangandaran. Jakarta: UNESCO.
Zaitunah A. 2012. Pemodelan Spasial Kerawanan Kerusakan Akibat Tsunami Pantai Ciamis Jawa Barat. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Download Makalah Renang Penjasorkes

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Renang”.

Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah. Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.

Jakarta, 17 Agustus 1945


Penyusun


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Renang
B. Sejarah Olahraga Renang
C. Dasar Belajar Olahraga Renang
1. Pengenalan air
2. Meluncur
3. Latihan pernafasan
a. Teknik gerakan pernafasan
b. Cara melakukan gerak dasar mengambil nafas
D. Macam-macam Gaya dalam Olahraga Renang
1. Renang gaya bebas
2. Renang gaya dada
3. Renang gaya punggung
4. Renang gaya kupu-kupu
E. Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Olahraga Renang
1. Hal-hal yang harus dilakukan sebelum berenang
2. Hal-hal yang harus dilakukan sesudah berenang
F. Manfaat Olahraga Renang
1. Meningkatkan kualitas jantung dan peredaran darah
2. Meningkatkan kapasitas vital paru-paru
3. Mempengaruhi otot menjadi berisi
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Di Indonesia mengenai berenang baru mulai terkenal setelah kemerdekaan, sedangkan sebelumnya hanya dikenal oleh bangsa kulit putih saja. Berenang merupakan cabang olahraga yang penting untuk dipelajari dan dikuasai, sebab manusia hidup didunia ini, sehari-harinya tidak lepas dari pada air. Air adalah salah satu unsur yang penting di dalam kehidupan kita, sebab bila tidak ada air tentu semua makhluk tidak dapat hidup. Selain itu berenang merupakan olahraga yang paling dianjurkan bagi mereka yang kelebihan berat badan (obesitas), ibu hamil dan penderita gangguan persendian tulang atau artristis. Berenang dapat memberikan banyak manfaat yang dapat dirasakan apabila kita melakukannya secara benar dan rutin.

Namun kenyataannya, banyak yang enggan mempelajari cabang olahraga tersebut, karna di anggap berbahaya. Padahal berenang terbilang minim risiko, olahraga renang membuat tubuh sehat karena hampir semua otot tubuh dipakai sewaktu berenang.
Untuk menghindari terjadinya bahaya yang di khawatirkan, dianjurkan melakukan gerakan pemanasan sebelum memulai olahraga ini, agar tidak kram otot sekaligus juga berfungsi untuk meningkatkan suhu tubuh dan detak jantung secara bertahap dan juga lakukan pendinginan setelah selesai berenang agar suhu tubuh dan detak jantung tidak menurun secara drastis dengan cara berenang perlahan-lahan selama 5 menit.

B. Rumusan Masalah

Apa pengertian renang?

Bagaimana sejarah olahraga renang?

Bagaimana dasar belajar olahraga renang?

Apa saja macam-macam gaya dalam olahraga renang?

Apa saja hal-hal yang harus diperhatikan dalam renang?

Apa saja manfaat dalam olahraga renang?


BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Renang

Renang adalah olahraga yang melombakan kecepatan atlet renang dalam berenang. Gaya renang yang diperlombakan adalah gaya bebas, gaya kupu-kupu, gaya punggung, dan gaya dada. Perenang yang memenangkan lomba renang adalah perenang yang menyelesaikan jarak lintasan tercepat. Pemenang babak penyisihan maju ke babak semifinal, dan pemenang semifinal maju ke babak final.

Bersama-sama dengan loncat indah, renang indah, renang perairan terbuka, dan polo air, peraturan perlombaan renang ditetapkan oleh badan dunia bernama Federasi Renang Internasional (FINA). Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) adalah induk organisasi cabang olahraga renang di Indonesia.

B. Sejarah Olahraga Renang

Manusia sudah dapat berenang sejak zaman prasejarah, bukti tertua mengenai berenang adalah lukisan-lukisan tentang perenang dari Zaman Batu telah ditemukan di “gua perenang” yang berdekatan dengan Wadi Sora di Gilf Kebir, Mesir barat daya. Catatan tertua mengenai berenang berasal dari 2000 SM. Beberapa di antara dokumen tertua yang menyebut tentang berenang adalah Epos Gilgamesh, Iliad, Odyssey, dan Alkitab (Kitab Yehezkiel 47:5, Kisah Para Rasul 27:42, Kitab Yesaya 25:11), serta Beowulf dan hikayat-hikayat lain. Pada 1538, Nikolaus Wynmann seorang profesor bahasa dari Jerman menulis buku mengenai renang yang pertama, Perenang atau Dialog mengenai Seni Berenang (Der Schwimmer oder ein Zwiegespr├Ąch ├╝ber die Schwimmkunst).

Perlombaan renang di Eropa dimulai sekitar tahun 1800 setelah dibangunnya kolam-kolam renang. Sebagian besar peserta waktu itu berenang dengan gaya dada. Pada 1873, John Arthur Trudgen memperkenalkan gaya rangkak depan atau disebut gaya Trudgen dalam perlombaan renang di dunia Barat. Trudgen menirunya dari teknik renang gaya bebas suku Indian di Amerika Selatan. Renang merupakan salah satu cabang olahraga dalam Olimpiade Athena 1896. Pada tahun 1900, gaya punggung dimasukkan sebagai nomor baru renang Olimpiade. Persatuan renang dunia, Federation Internationale de Natation (FINA) dibentuk pada 1908. Gaya kupu-kupu yang pada awalnya merupakan salah satu variasi gaya dada diterima sebagai suatu gaya tersendiri pada tahun 1952.

C. Dasar Belajar Olahraga Renang

1. Pengenalan air

Pengenalan air sangat perlu bagi mereka yang baru pertama kali belajar renang. Tujuannya adalah untuk menghilangkan rasa takut terhadap air dan mengenal sifat-sifat air seperti basah, dingin, dan sebagainya. Latihan pengenalan air dapat dilakukan dalam bentuk permainan atau yang lain, misalnya:

Berkejar-kejaran di kolam yang dangkal.

Saling mencipratkan air ke muka teman.

Memasukkan kepala dan badan ke dalam air.

Menyelam melalui rintangan yang dibuat teman.


2. Meluncur

Setelah mengetahu sifat-sifat air, maka dilanjutkan dengan latihan meluncur dan mengapung, caranya adalah:

Berdiri dengan kedua tangan lurus, bungkukkan badan ke depan.

Letakkan kedua kaki pada lantai kolam, hingga badan terdorong ke depan dalam sikap mengembang dan meluncur.

3. Latihan pernafasan

a. Teknik gerakan pernafasan

1) Sikap permulaan

a) Berdiri kuongkang di kolam dasar.

b) Membungkukkan tubuh rata dengan air.

c) Muka menghadap ke depan di antara kedua lengan yang diluruskan ke depan.

2) Gerakan

a) Pernafasan dilakukan dengan memutar kepala ke kiri atau ke kanan, sehingga mulut mengambil nafas.

b) Gerakan tersebut bersamaan lengan searah dengan putaran kepala berada di belakang samping tubuh.

b. Cara melakukan gerak dasar mengambil nafas

1) Lakukan dengan posisi telungkup terapung, dan kedua tangan memegang dinding kolam.

2) Ambillah nafas melalui mulut dan masukkan muka ke dalam air, mata melihat ke depan sedikit.

3) Permukaan air di dahi, buang nafas melalui hidung. Setelah itu, putarkan kepala ke samping kanan/kiri berporos leher. Sehingga mulut dan mulut di atas permukaan air.

D. Macam-macam Gaya dalam Olahraga Renang

1. Renang gaya bebas

Gaya bebas adalah berenang dengan posisi dada menghadap ke permukaan air. Kedua belah lengan secara bergantian digerakkan jauh ke depan dengan gerakan mengayuh, sementara kedua belah kaki secara bergantian dicambukkan naik turun ke atas dan ke bawah. Sewaktu berenang gaya bebas, posisi wajah menghadap ke permukaan air. Pernapasan dilakukan saat lengan digerakkan ke luar dari air, saat tubuh menjadi miring dan kepala berpaling ke samping. Sewaktu mengambil napas, perenang bisa memilih untuk menoleh ke kiri atau ke kanan. Dibandingkan gaya berenang lainnya, gaya bebas merupakan gaya berenang yang bisa membuat tubuh melaju lebih cepat di air.

Tidak seperti halnya gaya punggung, gaya dada, dan gaya kupu-kupu, Federasi Renang Internasional (FINA) tidak mengatur teknik yang digunakan dalam lomba renang kategori gaya bebas. Perenang dapat berenang dengan gaya apa saja, kecuali gaya dada, gaya punggung, atau gaya kupu-kupu. Walaupun sebenarnya masih ada teknik-teknik renang “gaya bebas” yang lain, gaya krol (front crawl) digunakan hampir secara universal oleh perenang dalam lomba renang gaya bebas, sehingga gaya krol identik dengan gaya bebas.

2. Renang gaya dada

Gaya dada atau gaya katak adalah berenang dengan posisi dada menghadap ke permukaan air, namun berbeda dari gaya bebas, batang tubuh selalu dalam keadaan tetap. Kedua belah kaki menendang ke arah luar sementara kedua belah tangan diluruskan di depan. Kedua belah tangan dibuka ke samping seperti gerakan membelah air agar badan maju lebih cepat ke depan. Gerakan tubuh meniru gerakan katak sedang berenang sehingga disebut gaya katak. Pernapasan dilakukan ketika mulut berada di permukaan air, setelah satu kali gerakan tangan-kaki atau dua kali gerakan tangan-kaki.

Gaya dada merupakan gaya berenang paling populer untuk renang rekreasi. Posisi tubuh stabil dan kepala dapat berada di luar air dalam waktu yang lama. Dalam pelajaran berenang, perenang pemula belajar gaya dada atau gaya bebas. Di antara ketiga nomor renang resmi yang diatur Federasi Renang Internasional (FINA), perenang gaya dada adalah perenang yang paling lambat.

3. Renang gaya punggung

Gaya punggung adalah berenang dengan posisi punggung menghadap ke permukaan air. Gerakan kaki dan tangan serupa dengan gaya bebas, tapi dengan posisi tubuh telentang di permukaan air. Kedua belah tangan secara bergantian digerakkan menuju pinggang seperti gerakan mengayuh. Mulut dan hidung berada di luar air sehingga mudah mengambil atau membuang napas dengan mulut atau hidung.

Sewaktu berenang gaya punggung, posisi wajah berada di atas air sehingga perenang hanya melihat atas dan tidak bisa melihat ke depan. Sewaktu berlomba, perenang memperkirakan dinding tepi kolam dengan menghitung jumlah gerakan.

Berbeda dari sikap start perenang gaya bebas, gaya dada, atau gaya kupu-kupu yang dilakukan di atas balok start, perenang gaya punggung sewaktu berlomba melakukan start dari dalam kolam. Perenang menghadap ke dinding kolam dengan kedua belah tangan memegang besi pegangan. Kedua lutut ditekuk di antara kedua belah lengan, sementara kedua belah telapak kaki bertumpu di dinding kolam.

Gaya punggung adalah gaya berenang yang sudah dikenal sejak zaman kuno. Pertama kali dipertandingkan di Olimpiade Paris 1900, gaya punggung merupakan gaya renang tertua yang dipertandingkan setelah gaya bebas.

4. Renang gaya kupu-kupu

Gaya kupu-kupu adalah salah satu gaya berenang dengan posisi dada menghadap ke permukaan air. Kedua belah lengan secara bersamaan ditekan ke bawah dan digerakkan ke arah luar sebelum diayunkan ke depan. Sementara kedua belah kaki secara bersamaan menendang ke bawah dan ke atas seperti gerakan sirip ekor ikan atau lumba-lumba. Udara dihembuskan kuat-kuat dari mulut dan hidung sebelum kepala muncul dari air, dan udara dihirup lewat mulut ketika kepala berada di luar air.

Dibandingkan gaya renang lainnya, berenang gaya kupu-kupu memerlukan kekuatan yang besar dari perenang. Perenang tercepat gaya kupu-kupu dapat berenang lebih cepat dari perenang gaya bebas. Kecepatan renang gaya kupu-kupu didapat dari ayunan kedua belah tangan secara bersamaan. Gaya kupu-kupu adalah gaya renang terbaru dalam pertandingan renang. Perenang gaya kupu-kupu pertama kali ikut dalam lomba renang pada tahun 1933.

E. Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Olahraga Renang

1. Hal-hal yang harus dilakukan sebelum berenang

Melakukan pemanasan untuk mencegah terjadinya kejang-kekang otot pada saat berenang. Pemanasan senam bisa dilakukan dengan cara menggerak-gerakkan badan (senam kecil) atau dengan berlari-lari kecil.

Mandi pada air pancuran yang tersedia sebelum masuk ke kolam renang. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan bawa tubuh dalam keadaan bersih dan tubuh dapat menyesuaikan dengan suhu air.

Latihlah irama kaki terlebih dahulu, sebelum bentuk-bentuk latihan lainnya.

2. Hal-hal yang harus dilakukan sesudah berenang

Membasuh mata agar bersih dari kotoran. Hal ini perlu dilakukan karena air di dalam kolam renang biasanya kotor.
Jika telinga kemasukan air, diusahakan air bisa keluar kembali sambil loncat-loncat atau dengan cara yang lain.
Keringkan pakaian renang di tempat yang teduh (tidak panas).

F. Manfaat Olahraga Renang

1. Meningkatkan kualitas jantung dan peredaran darah

Jantung merupakan organ tubuh yang memompa darah agar mengalir ke seluruh tubuh, sedangkan darah tersebut mengangkut sari-sari makanan dan oksigen sehingga terjadi proses pembakaran serta menghasilkan energi yang diperlukan untuk bergerak.

2. Meningkatkan kapasitas vital paru-paru

Paru-paru berfungsi untuk mengambil oksigen yang sangat diperlukan dalam proses oksidasi (pembakaran). Renang akan melatih kerja paru-paru dan meningkatkan kemampuan paru-paru untuk mengambil oksigen yang banyak. Dengan terpenuhinya oksigen maka proses pembakaran dalam tubuh menjadi lancar sehingga energi yang diperlukan dapat terpenuhi

3. Mempengaruhi otot menjadi berisi

Ketika berenang akan terjadi gerakan otot yang dinamis dan oto akan bekerja terus menerus. Hal ini kan membuat serabut otot bertambah banyak dan bertambah kuat. Sehingga otot-otot tubuh akan kelihatan lebih berisi/padat.

BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan

Renang merupakan cabang dari salah satu olah raga air yang telah di perlombakan sejak tahun 1800 setelah dibangunnya kolam-kolam renang. Adapun bukti tertua mengenai berenang adalah lukisan-lukisan tentang perenang dari zaman batu telah ditemukan di “gua perenang” yang berdekatan dengan Wadi Sora di Gilf Kebir, Mesir barat daya. Catatan tertua mengenai berenang berasal dari 2000 SM. Berenang mempunyai beberapa macam gaya di antaranya yaitu gaya bebas, gaya punggung, gaya dada dan gaya kupu-kupu.

Gaya berenang tersebut mempunyai ciri khas tersendiri dan teknik yang berbeda-beda untuk dapat mencapai kecepatan dalam berenang yang maksimal. Berenang dapat membugarkan tubuh dan untuk yang profesional dapat mencetak prestasi dari tingkat nasional maupun internasional.

Namun sebaiknya dalam memulai dan sesudahnya agar tubuh tidak terjangkit efek buruk dari berenang seperti kejang-kejang. Adapun manfaat berenang itu sendiri adalah meningkatkan kualitas jantung dan peredaran darah, meningkatkan kapasitas vital paru-paru dan mempengaruhi otot menjadi berisi.



B. Saran

Berenang merupakan olahraga yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh kita, jadi diharapkan untuk dapat mengikutinya secara terus menerus kecuali ada hal-hal yang menghalanginya seperti sakit. Diharapkan ada penjelasan tentang gaya berenang dan apa yang harus dilakukan sebelum dan sesudah berenang.

DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Renang_(olahraga)
https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_gaya_renang
https://id.wikipedia.org/wiki/Gaya_bebas
https://id.wikipedia.org/wiki/Gaya_dada
https://id.wikipedia.org/wiki/Gaya_punggung
https://id.wikipedia.org/wiki/Gaya_kupu-kupu